Purun Danau, Tumbuhan Liar Cocok Untuk Anyaman

September 5, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Purun danau atau bernama latin Lepironia articulata adalah tumbuhan khas di lahan rawa. Terdapat tiga jenis purun yang berada di Kalimantan Timur, seperti purun danau, purun bajang, dan purun tikus. Namun kali ini, hanya akan membahas purun danau saja.

Persebaran dan Habitat Purun Danau

             Tumbuhan ini sejenis rumput teki-tekian yang berasal dari famili Cyperaceae. Purun dapat hidup pada kondisi tanah dengan keasaman tinggi, sehingga banyak ditemukan di lahan gambut. Habitat purun berada di daerah terbuka, di lahan rawa yang tergenang air, dan tumbuh hingga ketinggian 0 – 1.350 mdpl

Purun banyak dijumpai di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Riau, hingga Sumatera Selatan. Meskipun dalam jumalah yang tidak banyak, purun dijumpai di Kenohan Suwi. Pertumbuhannya pun tidak memerlukan waktu atau musim tertentu karena tergolong sebagai tumbuhan liar.

Ciri-ciri Purun Danau

             Purun danau memiliki batang lurus berongga dan tidak berdaun layaknya batang bambu. Selain itu, daunnya tampak lebih keras seperti berkayu dan berbuku yang jelas garisnya dibandingkan jenis purun lainnya.

             Tumbuhan tersebut, mempunyai rimpang berwarna kecokelatan sampai kehitaman. Batangnya tegak, tidak ada cabang, berwarna keabuan hingga hijau mengkilap, panjangnya mencapai 0,5 – 2 m dan tebal 2 – 8 mm.

             Namun, ada perbedaan mendasar jika purun danau dibandingkan dengan purun tikus dan purun bajang. Hal ini bisa dilihat dari ukurannya yang jauh lebih besar daripada purun tikus dan purun bajang.

Selain Untuk Kerajinan, Purun Juga Bermanfaat Bagi Lingkungan

         Purun termasuk jenis tumbuhan yang tidak perlu dibudidaya secara intensif. Setelah ditanam, purun dapat tumbuh secara terus menerus. Purun yang sudah dipanen, bisa langsung diambil kembali setelah 2 bulan.

Cara memanennya bisa dicabut ataupun dipotong langsung. Mengambil dengan cara dicabut tersebut, membuat purun muda tidak rusak. Purun yang diambil pun tidak akan terbuang, sehingga proses regenerasi bisa berlangsung lebih cepat.

             Jika dibandingkan dengan jenis lainnya, purun danau memang paling banyak digunakan sebagai bahan baku karena cenderung lebih kuat dan tidak mudah putus. Jadi tidak heran, kalau, masyarakat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan banyak memanfaatkan purun sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan. Produk kerajinan yang dihasilkan, seperti topi, keranjang, anyaman, tikar, dan lain-lain. Kerajinan tangan inilah yang nantinya dijual sebagai sumber pendapatan mereka.

          Begitu pula dengan masyarakat di Sumatera Selatan, mereka mengolah bagian batang purun yang dijadikan anyaman tikar dan kemudian dijual sebagai mata pencaharian mereka. Tak hanya itu, tumbuhan purun juga bermanfaat bagi lingkungan. Purun berfungsi sebagai bahan pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah di lahan gambut. 

         Purun yang tumbuh di saluran air juga dapat memperbaiki kualitas air saat musim kemarau dan menyerap zat-zat beracun di dalam air, diantaranya besi, timbal, hingga merkuri. Banyaknya kandungan air di dalam tumbuhan ini bisa mencegah dan meminimalisir kebakaran di lahan gambut.Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml).

Tumbuhan purun dengan bunga. Foto: biologyjj.blogspot.com dan kerajinankuindahku.blogspot.com
Tumbuhan purun dengan bunga. Foto: biologyjj.blogspot.com dan kerajinankuindahku.blogspot.com

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Dijuluki Sebagai Beruang Terkecil di Dunia, Begini Fakta Tentangnya!
Termasuk Famili Jalak, Dua Spesies Burung Kerak Ini Terancam Punah
Punya Kebiasaan Merambat, Ini Karakteristik Burung Munguk Beledu

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020