Tumbuhan Paku Air, Dianggap Liar Ternyata Bermanfaat

February 22, 2024

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Tumbuhan paku kerap dianggap menggangu hidupnya tanaman lain. Nyatanya, tumbuhan ini juga punya beragam manfaat. Salah satunya, paku air yang memberikan manfaat disektor pertanian dan peternakan. Nah, ada tiga jenus paku-pakuan air yang akan kita bahasa dalam artikel ini! Apa saja jenisnya?

Pistia stratiotes L.

            Pernahkah mendengar tumbuhan paku kayu apu (Pistia stratiotes L.)? Mungkin, bagi beberapa orang memang terdengar asing. Tumbuhan ini termasuk famili Araceae yang tumbuh mengapung pada permukaan air dengan akar yang menggantung dan teredam di bawah air.

Kayu apu termasuk jenis gulma air yang mempunyai daya adaptasi tinggi pada lingkungan baru. Pada mulanya, kayu apu dikenal sebagai tumbuhan pengganggu di danau dan tidak memiliki nilai ekonomis. Namun, sekarang banyak digunakan untuk pengelolaan limbah karena tingkat pertumbuhan yang tinggi.

            Sesuai dengan jenisnya, kayu apu tidak menghasilkan bunga karena tergolong paku-pakuan. Terdapat dua tipe kayu apu yang cukup berbeda. Tipe pertama, daun tumbuh di permukaan berbentuk cuping agak melingkar, berklorofil, dan permukannya juga ditutupi rambut berwarna putih transparan. Adanya rambut halus ini mencegah daun basah dan membantunya tetap mengapung di atas air.

            Sementara tipe kedua, tumbuh di dalam air dengan bentuk mirip akar, tidak berklorofil, dan fungsinya menangkap cahaya matahari dari dalam air. Menariknya, paku-pakuan ini memiliki kemampuan mengikat butiran lumpur halus yang berfungsi menjernihkan air bagi industri ataupun keperluan sehari-hari.

Salvinia molesta

            Salvinia molesta atau kayambang (Bahasa Sunda) dan kiambang (Bahasa Jawa). Sementara dalam Bahasa Inggris disebut Giant salvinia. Jenis paku-pakuan ini juga hidup mengapung pada permukaan air.

Biasanya ditemukan di kolam, persawahan, sungai, hingga saluran-saluran air. Dapat tumbuh dalam air yang mengalir lambat atau perairan danau yang tenang, seperti waduk, kolam, selokan, dan rawa-rawa. Normalnya, hidup pada kisaran suhu 25O – 28O C.

Ketika usia muda, daun-daunnya berbentuk kecil dan mengapung di permukaan air. Jika semakin banyak populasinya, maka daun-daun akan mengambang menjadi padat, berlipat satu sama lain, dan posisi daun menjadi vertikal. Kemudian, daun mengarah ke bawah dan yang terendam akan berwarna cokelat.

Daunnya pun mengandung sporocarps bulat dan padat berbulu dengan ukuran 2 – 3 mm. Rambut pada daun berfungsi sebagai penangkap udara dan mampu menahan air masuk ke dalam pori-pori daun, sehingga membantunya tetap mengapung (flotasi).

Salvinia natans

            Salvia Natans umumnya dikenal sebagai pakis terapung dan lumut air terapung. Tersebar luas di beberapa benua, seperti Afrika, Asia, Eropa Selatan, dan Amerika Selatan. Tumbuhan paku ini memiliki daun yang mengapung di atas air. Sepertiga daun yang terandam sebagai akar. Terdapat papilla kutikula pada permukaan daun yang dapat mencegah air menggangu fungsi daun dan melindungi dari pembusukan.

            Bagian daunnya kerap kali menghalangi sinar matahari masuk sampai ke bawa tanah. Karena, ikan tawar karena dapat membantu bersembunyi dengan aman untuk berkembang biak. Sayangnya, dapat menggangu fotosintetis berbagai tanaman bawah air.

            Ke tiga jenis paku air tersebut sering disebut sebagai gulma air karena keberadaanya yang masif mengganggu biota air lainnya dalam mendpatkan cahaya matahari dan oksigen dari permukaan air. Tumbuhan tersebut juga mempersempit runag gerak nelayan dalam mencari ikan. Bagusnya gulma air tersebut bisa dimanfaatkan untuk dijadikan kompos dan pupuk cair organik, seperti yang telah dilakukan oleh SMPN1 Long Mesangat, SMAN1 Muara Ancalong dan SMKN 1 Muara Bengkal yang telah melaksanakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam memanfaatkan gulma air menjadi kompos.(ml)

Kayu apu (Pistia stratiotes). Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin
Kayu apu (Pistia stratiotes). Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin

 

Salvinia molesta. Foto: Suimah-Yasiwa
Salvinia molesta. Foto: Suimah-Yasiwa

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020