Uniknya Burung Kirik Si Pemakan Lebah Nan Cantik

January 26, 2024

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Burung kirik terkenal dengan ciri khas bulunya yang berwarna-warni layaknya pelangi. Burung dari famili Meropidae ini juga dijuluki sebagai spesies pemakan lebah atau bee-eater. Bahkan, mereka memiliki kemampuan akrobatik dan gesit saat menangkap serangga yang menjadi santapannya. Nah, di Indonesia terdapat empat jenis burung kirik, dua diantaranya akan dibahas dalam artikel berikut. Apa saja itu? Yuk, lihat daftar dan penjelasannya!

Burung Kirik-kirik Biru (Merops viridis)

            Burung kirik-kirik biru atau blue-throated bee-eater adalah spesies dari famili Meropidae. Persebaran globalnya cukup luas, meliputi Filipina, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Thailand, Indonesia, bahkan Pakistan hingga Papua Nugini. Sementara di Indonesia, penyebarannya hanya dibeberapa wilayah saja, seperti Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Pulau Kalimantan.

            Saat terbang, burung ini sigap dan cepat menyambar mangsa berupa serangga seperti lebah, laron, kupu-kupu, dan jenis lainnya. Spesies ini suka bertengger di atas ranting pohon untuk memantau mangsanya. Hidup secara berpasangan, berkelompok kecil atau besar berjumlah 5 – 20 ekor.

            Sebagai satwa kosmopolit, mereka kerap kali mengunjungi lokasi pemukiman, rawa, mangrove, dan persawahan. Nah, spesies ini juga punya peran penting karena mampu mengontrol populasi hama yang menyerang tanaman padi dan jagung.

            Sama seperti namanya, burung ini didominasi dengan warna biru, merah, kecokelatan, hijau tua, hitam, biru laut hingga biru tua pada bagian tubuhnya. Ukuran tubuh cukup besar sekitar 28 cm. Paruhnya pun agak panjang dan tebal dengan bentuk menukik pada bagian ujungnya.

            Pada bagian tengah ekor, terdapat satu helai bulu yang berukuran panjang melebihi tubuhnya dan tidak dimiliki jenis burung lain. Hal inilah yang menjadi salah satu keunikan dari burung kirik-kirik biru tersebut.

            Selain itu, memiliki tempo kicauan yang tergolong agak rapat dan nada yang cenderung tidak beraturan. Bunyi kicauannya terdengar seperti “kerik…kerikk… kerikk.” Durasi kicauannya tidak terlalu lama dan panjangnya hanya sekitar 30 detik saja

Burung Kirik-Kirik Laut (Merops philippinus)

            Burung kirik-kirik laut atau blue-tailerd bee-easter juga berasal dari famili Meropidae. Spesies burung kirik ini punya warna yang unik dan memiliki keahlian berakrobat di udara. Nggak heran, kalau fotografer alam sering mengabadikannya.

            Keberadaannya di alam sangat penting karena dapat mengontrol populasi hama yang menyerang tanaman padi dan jagung. Hidupnya pun tersebar di beberapa wilayah. Kerap kali dijumpai di lokasi persawahan, rawa, mangrove, hingga hutan lebat dengan ketinggan 1.200 mdpl. Pada masa berbiak berada di beberapa wilayah Asia Selatan, Filipina, Sulawesi, dan Papua. Sementara pada masa migrasi berada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, dan Bali.

Memiliki ukuran tubuh agak besar mencapai 30 cm. Karakter mata berwarna merah dengan bola mata hitam. Warna bulu bagian kepala berwarna hijau. Pada bagian luar mata, terdapat strip warna hitam sejajar dengan paruhnya yang runcing, kaki cokelat tua, paruh hitam, bagian dada dan perut hijau pucat, dan sayap bawah berwarna jingga.

            Gerakannya lincah dan cepat menyambar mangsanya. Makanannnya berupa serangga, seperti kumbang, belalang, kupu-kupu, capung, dan lebah. Ketika memasuki musim berbiak, betina bisa bertelut 5 – 7 butir. Suara yang dikeluarkan saat terbang “kwink-kwink, kwink-kwink, kwink-kwink-kwink.”

            Selain itu, juga bisa berada di tanah yang bergunduk-gunduk atau tebing pemukiman. Hal ini dikarena mereka bersarang dengan membuat lubang-lubang yang ukurannya seperti bola pingpong di sekitar gundukan tanah. Dalam satu ranting pohon bisa dihinggapi 4 – 6 ekor, bahkan yang bertengger bisa mencapai 25 ekor.

Burung Kirik-kirik Biru (Merops viridis). Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin
Burung Kirik-kirik Biru (Merops viridis). Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin

 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020