Ikan Betok atau Papuyu, Bernilai Ekonomis dan Rasanya Juga Lezat

November 15, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Siapa yang tidak tahu ikan betok? Rasanya, ikan ini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia. Ikan betok memiliki nama lain diberbagai Bahasa daerah, yaitu ikan betik (Jawa), papuyu (Kalimantan Selatan), dan Puyu (Melayu dan Kalimantan Timur). Sementara dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai climbing gouramy atau climbing perch yang mengacu pada kemampuannya memanjat ke daratan. Lalu, bagaimana ciri-ciri dari ikan ini? Yuk, lihat penjelasannya.

Tersebar Diberbagai Wilayah

            Ikan dengan nama latin Anabas testudineus adalah ikan asli wilayah Asia Tenggara. Penyebarannya pun cukup luas, mulai dari Indonesia, India, Srilanka, Philipina, dan Cina bagian selatan.  Papuyu termasuk ikan agresif yang bisa dijumpai diberbagai macam perairan. Beberapa di antaranya, perairan tawar, sungai berumput, danau, sungai kecil, rawa banjiran, hingga parit irigasi.

             Pada saat musim kemarau tiba dan ketinggian danau atau rawa berkurang, biasanya papuyu akan pergi menuju sungai besar. Sementara musim hujan, kerap kali terlihat di dataran yang hanya dipenuhi beberapa sentimeter air dan mampu bertahan hidup di perairan yang berlumpur.

Pakan dan Kebiasaan

            Ikan Papuyu bersifat omnivora yang memangsa serangga, tumbuhan air yang lunak, dan hewan-hewan air berukuran kecil. Papuyu dikenal sebagai ikan predator air tawar yang dapat bergerak bebas dan aktif pada saat mencari makanannya.

             Di samping itu, juga mempunyai organ labirin yang membantu proses pengambilan udara saat berada di perairan dangkal dan kekeringan. Bahkan, dapat hidup diberbagai wilayah dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan ekstrem sekalipun.

Masa Reproduksi

            Ikan papuyu memijah sepanjang tahun dengan puncaknya pada musim penghujan (musim banjir) yang terjadi pada bulan Oktober – Desember. Telur yang dihasilkan akan mengapung bebas (egg layer). Pada musim kemarau, papuyu akan membenamkan diri ke dalam lumpur dan akan muncul Kembali ketika musim penghujan.

Morfoligi Ikan Papuyu

            Ikan jantan dan betina memiliki perbedaan warna. Biasanya sang jantan warna yang lebih gelap dibandingkan betina. Ikan papuyu memiliki ukuran tubuh yang besar dengan panjang badan mencapai 25 cm.

           Kepalanya besar, bersisik keras kaku, dan bentuk badannya tampak lonjong. Bagian atas tubuh cenderung berwarna gelap kehitaman, agak kecokelatan dan kehijauan. Sementera sisi samping tubuh berwarna kekuningan, dilengkapi garis-garis gelap tampak samar.

            Ikan ini memiliki warna abu-abu hingga kehijauan. Terdapat satu titik hitam pada bagian dasar, serta titik lain pada belakang lempeng insangnya. Sirip perut berada di bagian depan, sirip dada di bawah, dan ditopang jari-jari keras berujung Jari-jari kes pada sirip ini digunakan untuk bergerak pada permukaan lumpur yang kering.

Cukup Potensial Untuk Dibudidayakan

            Tahukah kamu? Jika ikan papuyu bernilai ekonomis dan potensial untuk dibudidayakan. Sebab, sangat digemari masyarakat karena rasa dagingnya lezat dan gurih. Selain rasanya yang nikmat, ternyata ikan papuyu juga mengandung nutrisi baik bagi tubuh.

            Beberapa manfaat mengonsumsi ikan ini, di antaranya dapat meningkatkan kecerdasan karena kandungannya kaya akan omega 3. Maka dari itu, ikan papuyu baik dikonsumsi anak-anak pada masa pertumbuhan. Orang dewasa ataupun lansia juga bisa mengonsumsinya karena dapat mencegah penurunan daya ingat.

            Berdasarkan riset lainnya, papuyu juga dapat mencegah anemia. Hal ini dikarenakan kandungan zat besinya tinggi, sehingga dapat meningkatkan hemoglobin di dalam sel darah merah. Bagaimana, kamu tertarik untuk mengonsumsi ikan ini?

            Ikan papuyu menjadi istimewa, karena menjadi tema batik Muara Ancalong yang telah mendapat hak paten.Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml).

Ikan Pepuyu (Anabas testudineus) Foto: Sebastian Hulen-Yayasan Ulin
Ikan Pepuyu (Anabas testudineus) Foto: Sebastian Hulen-Yayasan Ulin

 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020