Danau Luah Putih Jadi Objek Wisata, Apa Saja Potensinya?

October 30, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

            Danau Luah Putih salah satu objek wisata yang berada di Desa Kelinjau, Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur. Danau ini muncul secara alami dengan luas kurang lebih 1,36 Ha. Berdasarkan hasil penelitian Erike, mahasiswa STIPER, Danau Luiah Putih dikategorikan dengan indeks kelayakan 77,38% yang artinya layak untuk dikembangkan menjadi pariwisata.

Lalu, Apa Saja Potensi yang Dimiliki?

            Danau Luah Putih menjadi primadona perikanan masyarakat lokal, khususnya warga Kelinjau. Masyarakat lokal memanfaatkannya sebagai sumber perikanan untuk dikonsumsi, dan dijual langsung ataupun diolah terlebih dahulu. Di samping itu, potensi keanekaragaman hayati yang ada sangat berpeluang menjadi objek kajian penelitian.

  1. Potensi Teratai

          Tak disangka, ternyata tumbuhan teratai memiliki potensi sebagai objek wisata di Danau Luah Putih. Teratai yang tumbuh, umumnya memiliki waktu-waktu tertentu untuk mekar. Biasanya bulan Oktober dan Februari, bunga teratai mekar dan sangat menarik mata pengunjung.

         Hamparan bunga Teratai warna putih ini sangat cantik, berpotensi dijadikan objek bagi wisatawan untuk berfoto. Tak hanya itu, bisa juga berperluang menjadi sarana pendidikan dan edukasi bagi wisatawan untuk mengenal jenis tumbuhan teratai di sana.

 

  1. Potensi Satwa Bekantan dan Lutung

            Bekantan (Nasalis larvatus) dan lutung juga menjadi spesies primata yang berpotensi menarik wisatawan untuk berkunjung ke danau. Kedua satwa akan terlihat bergelantungan di atas pohon maupun melompat untuk mencari makan.

            Ditambah lagi, keberadaan bekantan dan lutung memiliki peran penting dalam ekosistem. Perilaku yang memakan buah dan membuang bijinya sangat membantu penyebaran biji dari tumbuhan, sehingga dapat mempertahankan keanearagaman hayati di kawasan danau. Dengan demikian, eksistensi kedua satwa menjadi wadah edukasi dan pendidikan bagi pengunjung mengenai peran penting primate ini dalam ekosistem.

 

  1. Keanekaragaman Burung Juga Menjadi Potensi Wisata

             Selain primata, Danau Luah Putih juga menjadi habitat bagi spesies burung yang hidup di Lahan Basah Suwi. Beberapa di antaranya, pekakak emas, pecuk ular asia, elang, dan masih banyak jenis lainnya.

              Dengan keanekaragaman burung ini bisa memberikan kesempatan bagi para wisatawan untuk mengamati berbagai jenis burung yang ada di sana. Tentu saja, menjadi wisata edukasi yang bertujuan mengenalkan keberadaan satwa, habitat, dan perilakunya.

Masyarakat Mendukung Rencana Pembangunan Wisata

            Daya tarik khas yang dimiliki dari suatu objek wisata mampu menentukan tingkat kunjungan pada tempat tersebut. Danau Luah Putih menawarkan daya tarik keindahan alam dan keanekragaman hayatinya. Keasriannya masih alami dan kebersihannya pun terjaga.

                   Dengan melihat adanya potensi besar, masyarakat desa setuju dan mengharapkan agar dilakukan pengembangan serta pengelolaan sebagai ekowisata. Selain itu, juga mendukung dengan ingin terlibat langsung dalam pengelolaan objek wisata tersebut.Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml.)

Senja di danau Luah Putih. Foto: Dinas Pariwisata Kutai Timur
Senja di danau Luah Putih. Foto: Dinas Pariwisata Kutai Timur

 

Hamparan bunga Teratai, yang bermekaran pada pagi hari di bulan Oktober 2022. Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin.
Hamparan bunga Teratai, yang bermekaran pada pagi hari di bulan Oktober 2022. Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020