Sosialisasi Budidaya Jamur Tiram Putih di Muara Bengkal

October 5, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Jamur tiram salah satu bahan pangan bernilai ekonomi tinggi. Melihat adanya potensi tersebut, Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Setda Kutai Timur bekerja sama dengan Forum DAS Kutim dan Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin, memfasilitasi sosialisasi budidaya jamur tiram putih pada masyarakat di Muara Bengkal.

              Bagian SDA Setda Kutim dan Forum DAS sebagai Anggota Forum Pengelola Kawasan Ekosistem Penting Lahan Basah Mesangat Suwi (KEP LBMS), berkontribusi melalui kegiatan ini untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di desa-desa sekitar KEE LBMS. Koordinator Program Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin, Monica Kusneti, menyampaikan jika pengelolaan ekosistem penting (LBMS) harus mencakup pemberdayaan dan peningkatan perekonomian masyarakat sekitar. Begitu pula, “peran semua pihak sangat penting untuk perlindungan ekosistem,” Ujar Suprihanto, Ketua Forum DAS Kutim.

               Kegiatan berlangsung selama dua hari, pada 13 – 14 September 2023. Pelatihan diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari Perwakilan PKK dan perwakilan sekolah tingkat menangah dari tiga kecamatan, yaitu Muara Bengkal, Muara Ancalong, dan Long Mesangat.

               Adanya pelatihan ini sebagai bentuk kepedulian Pemkab Kutim dalam meningkatkan kapasitas masyarakat. Di samping itu, guru-guru sengaja diundang agar mereka bisa mendapatkan ide-ide baru untuk proyek P5 bagi siswa-siswinya.

            Sebagai tuan rumah, Kepala Sekolah SMK N 1 Muara Bengkal, Aliman, mengatakan bahwa ia sangat mendukung dan berharap kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan. Selama pelatihan berlangsung, peserta sangat antusias untuk mempraktikkan sendiri pembuatan hingga inokulasi bibit jamur putih ke baglog (media tanam). Tiap peserta diperbolehkan membawa baglog hasil karya sendiri yang artinya mereka bisa membudidayakan hasilnya tersebut.

            Baglog ini terbuat dari serbuk gergaji atau kayu yang telah diayak, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik, dibentuk silider kemudian diikat bagian ujungnya. Baglog selanjutnya dikukus selama 8 jam untuk mensterilkan. Setelah baglog benar-benar dingin, dibuat lubang bagian ujungnya untuk memasukkan bibitnya. Setelah baglog diinokulasi denganbibit jamur, simpan di tempat yang tidak kena cahaya matahari, biarkan sampai sekitar 1 bulan sampai miselium jamur tumbuh, selanjutnya akan tumbuh badan buah jamur. Badan buah majurlah yang akan dipanen.

            Di Muara Bengkal sudah ada yang membudidaya jamur ini, harga berkisar 55 ribu per kilo, namun masih dalam jumlah terbatas. Sehingga budidaya jamur tiram ini sangat menjanjikan untuk di ketiga kecamatan tersebut.

Peserta sosialisasi praktek membuat baglog, serbuk kayu yang sudah diayak dimasukan ke dalam kantong plastik dan dibentuk silider.
Peserta sosialisasi praktek membuat baglog, serbuk kayu yang sudah diayak dimasukan ke dalam kantong plastik dan dibentuk silider.

 

Proses pengukusan baglog, selama 8 jam, kemudian biarkan plastik penutup sampai benar-benar dingin.
Proses pengukusan baglog, selama 8 jam, kemudian biarkan plastik penutup sampai benar-benar dingin.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020