Leiocassis rudicula, Spesies Lele Baru Berpotensi Jadi Endemik Kalimantan Timur

September 4, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Leiocassis rudicula adalah ikan air tawar berjenis lele dengan genus Leiocassis dari famili Bagridae. Dalam Bahasa latin “rudicula” merujuk pada bentuk kepala ikan yang berbentuk cekungan menyerupai “sendok kayu.” 

Seluruh bagian tubuhnya berwarna kuning kecokelatan. Ukuran tubuh bisa mencapai 43,8 – 118 mm, dengan bagian kepala dan badan terkompresi, bagian punggung tampak merata, serta terdapat cekungan di atas mata.

Berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), spesies baru ini ditemukan tahun 2019 dan diketahui hidup di Hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Pada bulan Mei 2023, juga ditemukan di Lahan Basah Suwi yang tertangkap oleh nelayan. Nelayan setempat menyebutnya sebagai ikan kuyur.

Penemuan ini merupakan hasil kolaborasi penelitian Renny Kurnia Hadiaty, Pusat Penelitian Biologi LIPI dan Ng Heok Hee dari Lee Kong Chian Natural History Museum, Singapura. Hasil temuan tersebut, disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Jawa Barat.

            Berbeda dengan jenis lele lainnya, ikan ini tidak ditemukan pada air yang keruh serta berlumpur. Namun, hidup di lingkungan yang airnya jerih, arusnya sedang hingga deras, dan memiliki dasar pasir atau kerikil. Kini, persebarannya diketahui hanya di Sungai Mahakam, tepatnya Sungai Petung Kanan, Kecamatan Tabang, Kutai Timur. Hal inilah yang menjadikan ikan ini berpotensi masuk ke dalam daftar endemik. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml.)

Ikan Leiocassis rudicula, jenis yang baru ditemukan pada tahun 2019 di Sungai Mahakam, ternyata ada di Lahan Basah Suwi, nelayan menyebutnya ikan kuyur. Foto: Nur Linda, Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin
Ikan Leiocassis rudicula, jenis yang baru ditemukan pada tahun 2019 di Sungai Mahakam, ternyata ada di Lahan Basah Suwi, nelayan menyebutnya ikan kuyur. Foto: Nur Linda, Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin

 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020