Keluarga Pycnonotidae, Kelompok Burung Pengicau yang Unik

September 23, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Keluarga Pycnonotidae, Kelompok Burung Pengicau yang Unik

Pycnonotidae adalah keluarga burung periang yang suka berkicau setiap saat. Keluarga Pycnonotidae tersebar luas hampir di seluruh dunia. Di Lahan Basah Mesangat – Suwi, di jumpai spesies Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), dan Merbah belukar (Pycnonotus plumosus).

Rata-rata burung dari famili ini berukuran kecil hingga sedang, namun ada juga yang berukuran besar. Habitatnya banyak dijumpai di hutan dataran rendah, padang rumput, terkadang ditemukan di tengah perkotaan.

Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Burung kutilang adalah jenis burung cucak yang sangat popular di Indonesia. Burung cucak kutilang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, meliputi Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan Sulawesi. Selain itu, juga tersebar di Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan China, dan Hongkong.

Secara alaminya, habitat cucak kutilang meliputi pepohonan terbuka, tepi hutan, vegetasi sekunder, perkebunan, hingga taman-taman di perkotaan. Burung ini tersebar dari dataran rendah sampai ketinggian 1.500 mdpl.

Pakan utama cucak kutilang berupa buah-buahan yang lunak, terkadang juga memangsa berbagai jenis serangga kecil. Spesies ini terlihat sering berkelompok, baik dengan sesama jenis kutilang maupun jenis lainnya. Maka dari itu, kutilang dikenal sebagai burung yang aktif dan terkenal ribut.

Pycnonotus aurigaster memiliki tubuh yang berukuran sedang dengan panjang sekitar 20 cm. Bentuk kaki burung kutilang terbilang unik, yaitu memiliki ruas kaki yang sejajar dengan ukuran yang kecil. Meskipun kecil, ternyata mampu mencengkram ranting. Daya cengkramnya pun sangat kuat dan kokoh, sehingga kutilang mampu bertahan lama di atas pohon dan tidak mudah terjatuh.

Pada sisi bagian atas tubuh, yakni punggung dan ekor berwarna cokelat kelabu, sementara sisi bawah yang meliputi tenggorokan, leher, dada, dan perut berwarna putih keabu-abuan. Terdapat juga jambul berwarna hitam, tunggir berwarna putih, dan penutup bagian ekor bewarna kuning jingga.

Namun, burung jantan dan betina memiliki beberapa perbedaan. Pada jantan memiliki bentuk ukuran kepala yang agak besar dibandingkan betina. Postur tubuh jantan cenderung lebih besar daripada betina. Lalu, jambul jantan lebih tegak dan tinggi, serta kicauan suaranya terdengar nyaring dan lantang.

Merbah Cerucuk (Pycnonotus goiavier)

            Merbah cerucuk juga dikenal dengan beberapa sebutan nama, cica, cucak, cerucuk (dalam Bahasa Sunda), sementara orang Jawa sering menyebutnya terucuk atau cerocokan karena mengikuti suaranya yang khas.

            Ukuran tubuhnya sekitar 20 cm, bermahkota cokelat gelap, alis berwarna putih, dan anggota tubuh bagian atas berwana cokelat. Iris mata berwarna cokelat, paruh hitam, dan kaki abu-abu merah jambu. Memiliki telur berwarna keputih-putihan, terdapat banyak bintik cokelat, dan bisa menghasilkan telur sebanyak 2 – 3 butir. Burung ini berkembang biak secara teratur sepanjang tahun, tetapi puncaknya pada Maret – Juni. 

            Merbah cerucuk banyak dijumpai di perkebunan, kawasan terbuka, semak belukar, hutan sekunder, bahkan juga terlihat membangun sarang di rumah-rumah penduduk. Selain itu, mereka juga termasuk ke dalam jenis burung komunal karena sering berkelompok dengan cecuruk lainnya, seperti tidur bersama maupun bertengger.

            Sifat alaminya, jenis burung ini mencari makan secara berkelompok dengan memangsa serangga maupun buah-buahan lunak yang berada di permukaan tanah. Dalam beberapa penelitian, burung cerucuk juga memakan biji-bijian.

            Bentuk sarang burung cerucuk menyerupai cawan yang kokoh dan bulat. Letak sarangnya tidak jauh dari tanah, di tempatkan di area perdu, hingga tengah maupun tepian lahan pertanian. Sarangnya tersusun dari anyaman rumput, serat tumbuhan, ranting-ranting halus, dan tangkai daun. Sementara bagian depan sarang terbuat dari daun bambu atau rumput lebar. Pembuatan sarangnya dibangun bersama jantan dan betina dalam kurun waktu seminggu.

Merbah Belukar (Pycnonotus plumosus)

            Pycnonotus plumosus atau dalam bahasa Inggris dinamakan Olive-winged Bulbul. Tersebar luas di seluruh Indonesia (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan) dan Semenanjung Malaya. Merbah belukar sering mengunjungi pinggir hutan, kawasan hutan rendah dengan ketinggian 800 mdpl, hingga perkebunan. Namun, di Sumatera dan Kalimantan sering dijumpai di hutan dataran rendah 300 mdpl.  

Merbah belukar biasanya memburu serangga kecil, meliputi ulat, belalang, tawon semur, jangkrik, lebah madu, rayap, hingga buah-buahan yang lunak, seperti buah beringin dan buah beri.

Spesies burung ini tergolong berukuran sedang dengan panjang sekitar 19 – 20,5 cm. Berat tubuhnya mencapai 24 – 35 gram. Pada tubuh bagian atas berwarna kehijauan, lalu dagu dan tenggorokan berwarna keputih-putihan.

            Sementara tubuh bagian bawahnya berwarna kuning tua, bawah ekor cokelat kuning, dan sayapnya berwarna zaitun. Namun, ciri-ciri betina dan jantan memiliki perbedaan yang cukup menonjol. Sang jantan cenderung memiliki suara yang bervariasi dan didominasi suara yang merdu. Dibandingkan betina, suaranya monoton dengan tembakan suara yang kasar dan tajam.

            Ketika diadu dengan jenis merbah lainnya, jantan akan langsung menonjolkan sifat bertarungnya. Sementara sayap betina akan menggelepar. Saat bertarung, betina akan lebih sering membuka ekornya lebih lebar, sang jantan cenderung tidak membukanya.

            Burung ini dapat hidup sendirin dan berpasangan. Saat musim kawin, merbah belukar akan mulai beriak pada bulan Januari – September maupun sepanjang tahun di daerah tropis. Jumlah telur yang dihasilkan sekitar 2 butir. Sarang burung ini menyerupai cawan yang terbuat dari rumput, daun, dan ranting halus.Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml.)

Merbah Cerucuk (Pycnonotus goiavier) merupakan jenis yang paling sering dijumpai di Lahan Basah Mesangat Suwi.(foto: internet)
Merbah Cerucuk (Pycnonotus goiavier) merupakan jenis yang paling sering dijumpai di Lahan Basah Mesangat Suwi.(foto: internet)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020