Mengenal Kucing Tandang yang Kian Terancam Punah

April 5, 2024

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Kucing tandang (Prionailurus planiceps) atau flat-headed cat (kucing berkepala datar) atau sering disebut kucing kuwuk, masuk ke dalam famili Felidae dan genus Prionailurus. Satwa ini adalah salah satu dari empat spesies kucing kecil bertutul yang ditemukan di benua Asia. Seperti apa kucing tandang yang satu ini? Yuk, lihat penjelasannya di bawah ini!

Bentuk Badannya Bulat dan Ekornya Pendek

​            Jika dibandingkan dengan spesies lainnya, kucing tandang memiliki ukuran yang bisa mencapai 41 – 50 cm. Sementara bobotnya sekitar  1,5 – 2,5 kg. Bentuk kepalanya datar, moncongnya terlihat sangat pendek dan membulat. Bagian telinga bundar serta tubuhnya pun ramping dan memanjang. 

​            Hidup sebagai satwa terestrial, sehingga mereka memiliki kaki kecil dan ekor yang pendek dengan panjang 13 – 15 cm saja. Bagian tubuh dari atas sampai ekor berwarna merah dan abu-abu gelap. Sementara rambut kepala dan leher berwarna merah kecokelatan dengan moncongnya berwarna putih. Sedangkan bagian tubuh berwarna cokelat gelap.

Kucing tandang termasuk spesies soliter yang suka menyendiri. Mereka akan beraktivitas setelah senja sampai jam 10 malam. Selain itu, mereka juga bersifat teritorial yang wilayahnya akan ditandai dengan menyemprotkan urinnya pada batu atau batang pohon. 

Uniknya, kucing tandang suka berenang sama seperti kucing bakau. Ia kerap kali ditemui di kolam kecil dengan perairan yang dangkal saat sedang mencari mangsa. Di samping itu, masa kehamilannya berkisar selama dua bulan. Kucing tandang bisa memiliki satu hingga empat anak kucing sekali melahirkan.

Habitat dan Distribusi Kucing Tandang

Kucing tandang hidup di hutan tropis primer dan sekunder, terutama di areal lahan basah dan dataran rendah. Biasanya akan bersarang di sekitar perairan dangkal, seperti sungai, danau, mangrove, dan rawa gambut. Persebarannya tidak hanya meliputi daerah Sumatera dan Kalimantan, tetapi juga ditemukan di Semenanjung Malaya hingga wilayah paling selatan Thailand. 

Di Semenanjung Malaya, kucing tandang ditemukan di hutan perbukitan yang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Sementara di Kalimantan terdeteksi pula berada di hutan Taman Nasional Sebangau, Palangkaraya.

Punya Kebiasaan Mencuci Hasil Buruannya

Seperti yang sudah dijelaskan, jika kucing ini memiliki kaki yang kecil. Meski begitu, daya jelajahnya terbilang cukup luas lho! Mereka bahkan bisa mengembara hingga 3 km. Kucing tandang juga memiliki rahang kuat dan taringnya panjang. Jadi lebih mudah untuk menangkap dan menggigit mangsa yang licin di air. 

Biasanya mereka mencari mangsa di sekitar perairan dan memakan ikan maupun hewan air berukuran kecil. Ada juga keunikan lainnya, sebelum mengonsumsi mangsanya, mereka akan membersihkannya terlebih dahulu dengan air. 

Mangsa yang sudah mati akan dilepaskan ke air dan dibersihkan menggunakan kaki depannya. Kucing tandang akan memangsa dan kemudian dikonsumsi di daratan. Tujuannya agar mengantisipasi jika hasil tangkapannya lepas dari gigitan.

 

Populainya Semakin Menurun

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, status konservasi kucing tandang berada pada kategori “endangered” (EN) sejak 2008. Populasi kucing ini sangat terancam punah. Diperkirakan sekitar 2.500 ekor dewasa yang berada di alam liar. Hal inilah yang membuatnya masuk ke dalam status terancam punah. Keberadaan kucing tandang ini sangat jarang teramati, namun beruntung, terekam kamera di Lahan Basah Mesangat pada bulan Agustus 2023.

             Populasinya cenderung terus menurun akibat kerusakan habitat, meliputi penebangan hutan yang dikonversi menjadi kebun kepala sawit dan penebangan hutan mangrove untuk tambak. Faktor lain, banyaknya jerat atau jebakan hewan seperti jebakan babi kerap kali menjadi sasaran bagi kucing hutan serta tingginya aktivitas perburuan. (ml).

Kucing tandang (Prionailurus planiceps) yang terekam pada malam hari di sekitar pondok inovasi, Luah Lahung, Logn Mesangat. Foto: M Zulfikar Ngareng-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin.
Kucing tandang (Prionailurus planiceps) yang terekam pada malam hari di sekitar pondok inovasi, Luah Lahung, Logn Mesangat. Foto: M Zulfikar Ngareng-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020