Srigunting, Burung Pengicau Dari Daerah Tropis

March 22, 2024

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Burung srigunting dikenal sebagai burung pengicau yang berasal dari daerah tropis. Uniknya, sebagian besar spesies ini didominasi berwarna gelap, seperti hitam, abu-abu tua, dan terkadang dengan warna metalik. Ciri khas lainnya juga terletak pada ekor yang panjang dan bercabang. Terhitung ada 30 jenis yang tersebar di seluruh dunia, tiga di antaranya akan dibahas dalam artikel ini.

Srigunting Batu (Dicrurus paradiseus)

            Srigunting batu atau greater racquet-tailed drongo adalah salah satu jenis burung dengan kicauan yang bervariasi. Jenis ini bisa menirukan suara burung lain dengan volume suara keras. Dari keunikannya inilah, banyak orang yang tertarik untuk memeliharanya.

            Habitatnya berada di kawasan hutan dataran rendah dengan ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Dapat dijumpai di hutan, perkebunan, rawa-rawa, dan hutan bakar (mangrove). Tersebar di beberapa negara, seperti India, Cina, dan Indonesia (Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera).

           Hidup secara berpasangan, tapi terkadang bergabung dengan kelompoknya. Jika sedang bersama koloni, kerap kali terdengar bersahut-sahutan saat berkicau. Gaya hidupnya arboreal yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas pepohonan atau belukar. Namun, suka bersosialisasi dengan jenis srigunting ataupun kelompok burung lain. 

           Srigunting batu termasuk burung insektivora yang suka memakan serangga, semut, lebah, ulat, hingga kadal kecil. Sementara itu, masa reproduksinya dimulai pada bulan September. Dapat menghasilkan telur sebanyak 3 butir berwarna cokelat dan abu-abu.

           Lalu, bagaimana ciri-ciri burung ini? Nah, burung srigunting batu memiliki ciri khas berupa sepasang “antena’ yang terdapat pada ujung bulu ekornya. Warna bulunya hitam serta bagian leher mengkilap.

          Terdapat jambul mencolok melengkung ke belakang yang membuat tampilannya makin elok. Jambul ini hanya dijumpai pada burung dewasa, khususnya saat berkicau saja. Panjang tubuhnya pun sekitar 30 cm yang dihitung dari ujung kepala hingga ujung antena. Sementara iris mata berwarna merah, paruh, dan kedua kakinya juga berwarna hitam.

Srigunting Gagak (Dicrurus Annectans)

            Srigunting gagak atau Dicrurus annectans adalah spesies burung dari famili Dicruridae dengan genus Dicrurus. Habitat alami berada di hutan dataran rendah dengan ketinggian 1.450 mdpl. Kerap kali ditemukan di hutan terbuka, semak belukar, padang rumput, hingga daerah hutan mangrove.

Jenis ini termasuk burung migran yang selama berkembang biak akan menetap di Himalaya dan wilayah Selatan Tiongkok. Hidup pada zona iklim tropis maupun subtropis. Terbesar di wilayah Benua Asia, yang meliputi negara Indonesia, Myanmar, Kamboja, Nepal, Singapura, Thailand, Vietnam, Bhutan, China, India, Laos, dan Bangladesh.

            Srigunting gagak hidup secara soliter yang hidupnya lebih suka menyendiri daripada berkelompok. Namun, kadang kadang juga dijumpai hidup berpasangan atau bekelompok. Tergolong tipe burung karnivora yang suka memakan serangga dan hewan kecil lainnya.

            Bersifat agresif dan teritorial, khususnya pada saat musim berkembang biak. Biasanya memasuki musim kawin pada bulan April sampai Juni. Lalu, membuat sarang berbentuk cangkir yang terbuat dari rumput, akar, dan serat. Dapat menghasilkan telur 3 – 4 butir. (ml)

            Untuk ukuran tubuhnya terbilang sedang, berkisar 26 cm. Tubuhnya didominasi warna hitam mengkilap dengan paruh tebal dan gelap. Bagian ekor menggarpu dengan bulu terluar melengkung keluar. Sementara pada burung remaja terdaoat bintik-bintik kelabu putih di bagian dada dan perut. Dengan Iris matanya cokelat merah, paruhnya hitam, beserta kaki juga berwarna hitam. Koleksi penggilan suaranya bervariasi, seperti bel, ocehan, dan siulan.

Srigunting Keladi (Dicrurus aeneus)

            Srigunting keladi termasuk jenis burung yang cukup agresif lho! Mereka kerap kali menyerang burung elang, bahkan sering terlihat kejar-kejaran. Burung ini memiliki ukuran tubuh dengan panjang 23 cm. Warna bulunya hitam metalik kebiruan, ekornya pendek, dan iris matanya berwarna cokelat. Beserta kaki dan paruhnya juga berwarna hitam. Pada srigantung keladi remaja, warna kilapan pada bulunya lebih sedikit daripada burung dewasa.

            Sementara bulu-bulu bagian kepala juga mengkilap dan bagian perutnya hitam polos. Sering terlihat secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Namun, juga bersamaan dengan jenis burung atau kelompok lainnya.

            Ciri khasnya sama seperti jenis lainnya, yaitu dapat menirukan suara. Spesies ini memiliki suara yang melengking merdu, bahkan dapat bersiul. Srigunting keladi suka bertengger di atas pohon. Sering dijumpai di daerah tepian hutan, kebun, dan pepohonan. Mereka memangsa serangga yang terbang dengan cara membuat serangan secara tiba-tiba saat bertengger. Selain itu, juga sangat mirip dengan jenis lainnya, tetapi lebih kecil dan pendek dengan perbedaan ekor sedikit bebentuk garpu.

Burung Srigunting Keladi (Dicrurus aeneus) di Lahan Basah Suwi. Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin
Burung Srigunting Keladi (Dicrurus aeneus) di Lahan Basah Suwi. Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin

 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020