Simposium : Yasiwa – Yayasa Ulin, Ajak Kolabori Fakultas FMIPA UNMUL

March 4, 2024

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Konsorsium YASIWA – Yayasan Ulin bekerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) UNMUL dalam melaksanakan simposium Lahan Basah Mesangat Suwi, di Gedung Science Learning Center Universitas Mulawarman Samarinda, Kamis (25/1/24).

        Sambutan dibuka oleh Rektor Universitas Mulawarman yang diwakili oleh Lambang Subagiyo, selaku Wakil Rektor Bidang Akademik. Ia memberikan selamat dan dukungan riset-riset ke arah lahan basah Mesangat Suwi, sebab akan banyak peluang untuk pembuatan buku yang nantinya akan menjadi nilai tambah bagi dosen maupun mahasiswa.

        Hal ini “sesuai visi dan misinya Lembaga penelitian dan pengabdian Masyarakat Universitas Mulawarman, yaitu mengembangkan penelitian-penelitian unggulan dan meningkatkan peran Universitas Mulawarman dalam perencanaan pembangunan daerah melalui hilirisasi riset,” tutupnya.

        Agenda kegiatan simposium terbagi atas dua sesi. Pertama, penyampaian materi dari Mislan, sebagai keynote speaker. Menurutnya, lahan basah Mesangat Suwi menyimpan banyak keindahan, baik flora maupun fauna yang bisa dijumpai. Di samping itu, juga membahas mengenai fungsi, manfaat, ancaman, maupun isu-isu strategis yang berkaitan dengan lahan basah Mesangat Suwi.

        Selanjutnya diisi oleh guest speaker, Puspa Dewi Liman sebagai Direktur Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan – Yayasan KEHATI, ia menyampaikan tentang program-program TFCA di Kalimantan. TFCA merupakan penyandang dana untuk program “Penguatan Pengelolaan Kolaborasi Lahan Basah Mesangat Suwi” yang dilaksanakan oleh Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin selama 3 tahun.

        Ada beberapa lingkup kegiatan, meliputi optimalisasi komitmen para pihak dalam pengelolaan LBMS, informasi Kehati, hidrologi, vegetasi dan sosial budaya, penyusunan dokumen rencana pengelolaan LBMS dan berbagai panduan pengelolaan spesies penting dalam LBMS, beserta peningkatan kapasitas pengelolaan LMBS.

        Dalam kesempatan yang sama, Alfan Subekti juga menyampaikan Green Growth Compact (GGC) kesepakatan multi pihak yang memang dibangun berdasarkan asas kolaborasi kemitraan  untuk memecahkan permasalahan yang ada di bentang alam.

       “Jadi sejak 2016 kesepakatan pembangunan hijau ini sudah di dorong ada 7 inisiatif model pada saat itu hingga 2023, dan di 2023 kita menetapkan lahan basah suwi dan ada tiga prototype yang terkait dengan lahan basah, yaitu Delta Mahakam, Lahan Basah Mesangat-Suwi dan danau Muara Siran.” Jelasnya.

        Di tengah sesi, konsorsium YASIWA – Yayasan Ulin me-launching dan mengenalkan website www.kehatimesangatsuwi.org yang berisi keanekaragaman hayati yang ditemui di kawasan lahan basah Mesangat-Suwi baik flora, fauna, mamalia, reptil, burung, amfibi dan ikan.

        Masuk pada sesi kedua, pemaparan hasil studi dan penelitian berlangsung secara paralel yang terbagi dalam 4 kelas. Terhitung 20 orang peserta atau pemakalah menyampaikan hasil penelitian, yang Sebagian besar dari Universitas Mulawarman dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur.

         Salah satu pemaparan yang menarik dan cukup menjadi pehatian, yaitu pemaparan hasil pembelajaran pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pembuatan kompos dari gulma air oleh siswa-siswi SMPN1 Long Mesangat, SMAN 1 Muara Ancalong dan SMKN1 Muara Bengkal.

          SMAN 1 Muara Ancalong memanfaatkan gulma air, eceng gondok, dan kiyambang untuk membuat kompos. Gulma air tersebut diambil dari danau Luah Putih Desa Kelinjau Tengah, Kecamatan Muara Ancalong.

          Gulma air ini punya potensi besar sebagai bahan baku kompos yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Manfaatnya pupuk organic tersebut, meliputi peningkatan kesuburan tanah, mengurangi pencemaran lingkungan, serta mendukung pertanian berkelanjutan. Tentu saja, ini menjadi pengalaman yang unik bagi siswa-siswi untuk tampil membagikan pengalaman kepada kalangan yang lebih luas.

           Melalui simposium diharapkan tidak hanya menjadi wadah untuk bertukar pengetahuan, dan pengalaman, tetapi juga sebagai ajang inspirasi bagi para pihak untuk memotivasi lebih banyak penggalian pengetahuan tentang lahan basah secara umum dan khususnya lahan basah Mesangat Suwi secara khusus.

            Rudy Agung Nugroho, dosen FMIPA juga menawarkan bekerja sama dengan sekolah untuk melaksanakan P5 tentang manfaat magot. Para guru pun menyambut baik tawaran untu bekerja sama dengan UNMUL tersebut. (ml.)

Foto bersama perwakilan para undangan dan Keynote Speaker
Foto bersama perwakilan para undangan dan Keynote Speaker

 

Foto bersama panitia pelaksana kegiatan Simposium Lahan Basah Mesangat-Suwi
Foto bersama panitia pelaksana kegiatan Simposium Lahan Basah Mesangat-Suwi

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020