Rabu (17/1/24), Konsorsium YASIWA – Yayasan Ulin menyelenggarakan ekspose capaian program penguatan pengelolaan kolaboratif Kawasan Ekosistem Penting (KEP) Lahan Basah Mesangat Suwi. Acara dihadiri oleh perwakilan anggota forum Kutai Timur berjumlah 57 orang, sementara perwakilan para pihak dari tingkat provinsi berjumlah 69 orang.
Ada empat poin penting yang terkandung dalam pembahasan, di antaranya menyampaikan capaian kegiatan konsorsium YASIWA – Yayasan Ulin bersama forum pengelolaan KEP LBMS selama tiga tahun program, lalu menyampaikan Rencana Aksi Pengelolaan KEP LBMS untuk mendapat masukan dan mengundang kontribusi para pihak yang lebih luas, serta memberikan informasi terkait buku Keragaman Hayati dan web KEHATImesangatsuwi.org.
Acara pun dibuka langsung oleh Sri Wahyuni, selaku Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur. Ia memberikan dukungan serta menyambut baik adanya kegiatan ekspos capaian lahan basah Mesangat Suwi ini. Menurutnya, ekspos dari Yayasan Ulin dan YASIWA menjadi suatu bukti bahwa inisiatif kawasan ekosistem di Kalimantan Timur sudah berjalan dengan baik.
“Sebagai penutup saya sampaikan terima kasih dari konsorsium Yayasan Ulin dan Yasiwa yang telah bekerja mengelola potensi KEP Lahan basah Mesangat Suwi. mudah mudahan ekspos dari Yayasan Ulin dan Yasiwa ini dapat diikuti oleh mitra pembangunan lainnya.” Ucapnya pada sambutan sekaligus keynote speech pembuka acara tersebut.
Di samping itu, Ketua UMKM, Ida Sapiah, juga memperkenalkan Batik Muara Ancalong yang mengangkat flora (kembang jaong atau kecombrang) dan fauna (bekantan). Sementara Camat Long Mesangat memperkenalkan Batik Long Mesangat dengan corak buaya badas. Hal ini patut diapresiasi, sebab menjadi salah satu langkah awal untuk memperkenalkan daerah Muara Ancalong dan Long Mesangat pada kancah nasional.
Masuk pada acara inti, Bupati Kutai Timur diwakili oleh Asisten II, Zubair, dalam diskusi menyampaikan jika lahan basah suwi sebagai kawasan strategis untuk daya dukung lingkungan hidup dan tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, semua pihak harus terlibat.
Pada kesempatan yang sama, disampaikan pula peluncuran web katalog keragaman hayati Mesangat Suwi sebagai upaya untuk memperkenalkan keragaman hayati di Kalimantan Timur khususnya di Lahan Basah Mesangat Suwi.
Berdasarkan survei konsorsium ada 113 jenis burung, 15 mamalia, 15 reptil, 50 ikan air tawar, 80 jenis tumbuhan, di antaranya, 40 jenis dilindungi terancam punah. LBMS merupakan habitat buaya yang terlindungi, serta bekantan, salah satu satwa endemik Kalimantan dan dilindungi.
“Dalam ekspos ini, kita telah mengetahui capaian progam KEP LBMS dalam paparan capaian keberhasilan telah didapat informasi kontribusi pengelolaan KEP LBMS bagi pembangunan Kutai timur, kontribusi pembangunan ekosistem penting bagi Kaltim hijau, telah diperkenalkan batik muara ancalong dan batik long mesangat, semestinya kita dukung batik local dan kita beri aplouse untuk produk local ini,” jelas Zubair.
Ada pula “rasa bangga atas pencapaian pengelolaan KEP LBMS yang akan berkontribusi pada pencapaian misi kelima Kabupaten Kutai Timur, yaitu mewujudkan sinergitas pengembangan wilayah dan integrasi pembangunan yang berwawasan lingkungan.” Tutupnya.
Dalam kegiatan ekspos tersebut juga dipamerkan draft buku Panduan Flora Lahan Basah Mesangat Suwi, Panduan Lapangan Jenis-jenis Burung di KEP LBMS, Buku Rencana Aksi KEP LBMS 2024-2029, dan peta-peta tata guna lahan dari Desa Sika Makmur, Segoy Makmur, Sumber Agung, Tanah Abang, Kelinjau Ilir dan Kelinjau Ulu. (ml).




