Tumbuhan paku kerap dianggap menggangu hidupnya tanaman lain. Nyatanya, tumbuhan ini juga punya beragam manfaat. Salah satunya, paku air yang memberikan manfaat disektor pertanian dan peternakan. Nah, ada tiga jenus paku-pakuan air yang akan kita bahasa dalam artikel ini! Apa saja jenisnya?
Pistia stratiotes L.
Pernahkah mendengar tumbuhan paku kayu apu (Pistia stratiotes L.)? Mungkin, bagi beberapa orang memang terdengar asing. Tumbuhan ini termasuk famili Araceae yang tumbuh mengapung pada permukaan air dengan akar yang menggantung dan teredam di bawah air.
Kayu apu termasuk jenis gulma air yang mempunyai daya adaptasi tinggi pada lingkungan baru. Pada mulanya, kayu apu dikenal sebagai tumbuhan pengganggu di danau dan tidak memiliki nilai ekonomis. Namun, sekarang banyak digunakan untuk pengelolaan limbah karena tingkat pertumbuhan yang tinggi.
Sesuai dengan jenisnya, kayu apu tidak menghasilkan bunga karena tergolong paku-pakuan. Terdapat dua tipe kayu apu yang cukup berbeda. Tipe pertama, daun tumbuh di permukaan berbentuk cuping agak melingkar, berklorofil, dan permukannya juga ditutupi rambut berwarna putih transparan. Adanya rambut halus ini mencegah daun basah dan membantunya tetap mengapung di atas air.
Sementara tipe kedua, tumbuh di dalam air dengan bentuk mirip akar, tidak berklorofil, dan fungsinya menangkap cahaya matahari dari dalam air. Menariknya, paku-pakuan ini memiliki kemampuan mengikat butiran lumpur halus yang berfungsi menjernihkan air bagi industri ataupun keperluan sehari-hari.
Salvinia molesta
Salvinia molesta atau kayambang (Bahasa Sunda) dan kiambang (Bahasa Jawa). Sementara dalam Bahasa Inggris disebut Giant salvinia. Jenis paku-pakuan ini juga hidup mengapung pada permukaan air.
Biasanya ditemukan di kolam, persawahan, sungai, hingga saluran-saluran air. Dapat tumbuh dalam air yang mengalir lambat atau perairan danau yang tenang, seperti waduk, kolam, selokan, dan rawa-rawa. Normalnya, hidup pada kisaran suhu 25O – 28O C.
Ketika usia muda, daun-daunnya berbentuk kecil dan mengapung di permukaan air. Jika semakin banyak populasinya, maka daun-daun akan mengambang menjadi padat, berlipat satu sama lain, dan posisi daun menjadi vertikal. Kemudian, daun mengarah ke bawah dan yang terendam akan berwarna cokelat.
Daunnya pun mengandung sporocarps bulat dan padat berbulu dengan ukuran 2 – 3 mm. Rambut pada daun berfungsi sebagai penangkap udara dan mampu menahan air masuk ke dalam pori-pori daun, sehingga membantunya tetap mengapung (flotasi).
Salvinia natans
Salvia Natans umumnya dikenal sebagai pakis terapung dan lumut air terapung. Tersebar luas di beberapa benua, seperti Afrika, Asia, Eropa Selatan, dan Amerika Selatan. Tumbuhan paku ini memiliki daun yang mengapung di atas air. Sepertiga daun yang terandam sebagai akar. Terdapat papilla kutikula pada permukaan daun yang dapat mencegah air menggangu fungsi daun dan melindungi dari pembusukan.
Bagian daunnya kerap kali menghalangi sinar matahari masuk sampai ke bawa tanah. Karena, ikan tawar karena dapat membantu bersembunyi dengan aman untuk berkembang biak. Sayangnya, dapat menggangu fotosintetis berbagai tanaman bawah air.
Ke tiga jenis paku air tersebut sering disebut sebagai gulma air karena keberadaanya yang masif mengganggu biota air lainnya dalam mendpatkan cahaya matahari dan oksigen dari permukaan air. Tumbuhan tersebut juga mempersempit runag gerak nelayan dalam mencari ikan. Bagusnya gulma air tersebut bisa dimanfaatkan untuk dijadikan kompos dan pupuk cair organik, seperti yang telah dilakukan oleh SMPN1 Long Mesangat, SMAN1 Muara Ancalong dan SMKN 1 Muara Bengkal yang telah melaksanakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam memanfaatkan gulma air menjadi kompos.(ml)




