Secara taksonomi, julung-julung adalah spesies ikan yang tergolong dalam famili Hemiramphidae, yang menghuni permukaan atau zona epipelagik. Sub famili Zenarchopteridae menghuni perairan tawar dan payau, sedangkan Sub famili Hemiramphinae menghuni lautan. Zenarchopteridae terdiri dari genus Dermogenys, Hemirhamphodon, Nomorhamphus, Tondanichthys dan Zenarchopterus. Berdasarkan sebuah jurnal, 66 spesies dari famili Zenarchopteridae, 40 diantaranya ada di Indonesia, dan 27 spesies yang ada di Indonesia merupakan spesies endemik. Salah satunya ditemukan di Lahan Basah Mesangat – Suwi, yaitu dari Hemirhamphodon sp, namun belum terindentifikasi sampai ke tingkat spesies.
Julung-julung memiliki tubuh memanjang, mulut dan rahang bagian bawahnya meruncing ke depan, sehingga disebut juga ikan halfbeak, sehingga menjadi ciri khas yang membedakannya dengan spesies ikan lain. Karena keunikan bentuknya dan corak warnanya yang bevariasi dan indah, maka kelompok ikan dari sub Zenarchopteridae menjadi komoditas ikan hias. Umumnya tubuh kecil, panjang antara 4-22 cm sehingga mudah dipelihara dalam akuarium. Berbeda dengan kerabatnya yang menghuni laut, ukurannya bisa mencapai Panjang 45 cm, sehingga layak dikonsumsi.
Secara alami, julung-julung menyukai aliran sungai yang arusnya pelan, memiliki banyak tumbuhan air, dan berair keruh. Sama seperti ikan kecil lainnya, julung-julung bukanlah ikan yang agresif. Mereka akan berenang secara berkelompok untuk melindungi diri dari predator lain.
Ikan ini memiliki cara reproduksinya yang bervariasi, mulai dari ovipar atau telur dibuahi di luar tubuh, lalu ovovivipar atau telur yang dibuahi dalam tubuh dan dierami dalam tubuh hingga menetas. Ada pula vivipar atau larva disuplai energinya oleh sang induk melalui struktur yang menyerupai plasenta.
Biasanya bila di dalam akuarium, ikan ini sering diberi makan artemia, jentik nyamuk, kutu air, hingga cacing kering. Ikan ini masuk ke dalam perenang tipe atas, sehingga lebih baik diberi makanan yang mengapung. Sementara di alam, ia akan memangsa cacing kecil dan serangga kecil sebagai pakannya.
Warnanya yang indah, ukuran relatif kecil, dan mudah beradaptasi inilah menjadi salah satu alasan bila julung-julung berpotensi sebagai ikan hias. Julung-julung ini diharapkan bisa menjadi pilihan tambahan dan koleksi bagi para pecinta ikan hias, baik di Indonesia maupun dunia internasional.
Sayangnya untuk komoditas ikan hias belum dilakukan budidaya, sehingga penangkapan dari alam terus menerus dikhawatirkan akan menurunkan populasinya. Maka dari itu, perlu dibudidaya dengan tepat agar tidak hanya mengandalkan hasil tangkapan alam saja.Konsosrsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml.).



