Julung-julung, Si Kecil yang Punya Nilai Ekonomis

April 27, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Secara taksonomi, julung-julung adalah spesies ikan yang tergolong dalam famili Hemiramphidae, yang menghuni permukaan atau zona epipelagik. Sub famili Zenarchopteridae menghuni perairan tawar dan payau, sedangkan Sub famili Hemiramphinae menghuni lautan. Zenarchopteridae terdiri dari genus Dermogenys, Hemirhamphodon, Nomorhamphus, Tondanichthys dan Zenarchopterus. Berdasarkan sebuah jurnal, 66 spesies dari famili Zenarchopteridae, 40 diantaranya ada di Indonesia, dan 27 spesies yang ada di Indonesia merupakan spesies endemik. Salah satunya ditemukan di Lahan Basah Mesangat – Suwi, yaitu dari Hemirhamphodon sp, namun belum terindentifikasi sampai ke tingkat spesies.

            Julung-julung memiliki tubuh memanjang, mulut dan rahang bagian bawahnya meruncing ke depan, sehingga disebut juga ikan halfbeak, sehingga menjadi ciri khas yang membedakannya dengan spesies ikan lain. Karena keunikan bentuknya dan corak warnanya yang bevariasi dan indah, maka kelompok ikan dari sub Zenarchopteridae menjadi komoditas ikan hias. Umumnya tubuh kecil, panjang antara 4-22 cm sehingga mudah dipelihara dalam akuarium. Berbeda dengan kerabatnya yang menghuni laut, ukurannya bisa mencapai Panjang 45 cm, sehingga layak dikonsumsi.  

            Secara alami, julung-julung menyukai aliran sungai yang arusnya pelan, memiliki banyak tumbuhan air, dan berair keruh. Sama seperti ikan kecil lainnya, julung-julung bukanlah ikan yang agresif. Mereka akan berenang secara berkelompok untuk melindungi diri dari predator lain.

Ikan ini memiliki cara reproduksinya yang bervariasi, mulai dari ovipar atau telur dibuahi di luar tubuh, lalu ovovivipar atau telur yang dibuahi dalam tubuh dan dierami dalam tubuh hingga menetas. Ada pula vivipar atau larva disuplai energinya oleh sang induk melalui struktur yang menyerupai plasenta. 

             Biasanya bila di dalam akuarium, ikan ini sering diberi makan artemia, jentik nyamuk, kutu air, hingga cacing kering. Ikan ini masuk ke dalam perenang tipe atas, sehingga lebih baik diberi makanan yang mengapung. Sementara di alam, ia akan memangsa cacing kecil dan serangga kecil sebagai pakannya. 

            Warnanya yang indah, ukuran relatif kecil, dan mudah beradaptasi inilah menjadi salah satu alasan bila julung-julung berpotensi sebagai ikan hias. Julung-julung ini diharapkan bisa menjadi pilihan tambahan dan koleksi bagi para pecinta ikan hias, baik di Indonesia maupun dunia internasional. 

Sayangnya untuk komoditas ikan hias belum dilakukan budidaya, sehingga penangkapan dari alam terus menerus dikhawatirkan akan menurunkan populasinya. Maka dari itu, perlu dibudidaya dengan tepat agar tidak hanya mengandalkan hasil tangkapan alam saja.Konsosrsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml.).

Hemirhamphodon sp. yang ditemukan di Lahan Basah Mesangat. Foto; Yayasan Ulin-Renny K.H.
Hemirhamphodon sp. yang ditemukan di Lahan Basah Mesangat. Foto; Yayasan Ulin-Renny K.H.

 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020