Bimtek : Pemanfaatan Gulma Air Menjadi Kompos

March 28, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin bekerja sama dengan SMAN1 Muara Ancalong, SMKN1 Muara Bengkal, dan SMPN1 Long Mesangat untuk penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Pemanfaatan gulma air menjadi kompos.

            Adapun tujuan dari kerja sama ini, di antaranya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai generasi mendatang untuk lebih sadar serta peduli tentang kesehatan lahan basah. Selain itu, juga meningkatkan kapasitas mereka untuk melakukan tindakan guna mengurangi degradasi lahan basah.

            Sasaran kerja sama dengan sekolah-sekolah yang membantu meningkatkan kapasitas team pengajar SMPN Lomes, SMAN 1 Muara Anclong dan SMK Muara Bengkal guna menyusun modul pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan yang holistik, kontekstual dan ekploratif. Serta terbangun budaya kolaborasi dengan para pihak sekitar untuk transfer pengetahuan lokal, berbagi ide, sumber daya dan mendukung satu sama lain.

            Untuk dapat mencapai sasaran tersebut, maka dilakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) pada tanggal 10 – 11 Februari 2023, bagi pengajar masing-masing sekolah, serta dibimbing langsung oleh Mujiono dari Dinas Pendidikan Kabupaten Timur.         

            Menurut Mujiono, kolaborasi antara pendidikan dan pegiat lingkungan untuk menyusun modul P5 aksi lingkungan ini baru ada satu-satunya di Kutim. Di samping itu, Fitri, “Melalui bimtek ini baru kami mendapatkan pemahaman untuk menyusun modul P5. Sebelumnya kami langsung melaksanakan tanpa ada modul, sehingga pelaksanaan parsial dan kurang terarah,” jelas guru dari SMKN1 Muara Bengkal

            Setelah Menyusun modul P5, dilakukan pelatihan perakitan unit dan pembuatan kompos untuk guru-guru yang dibimbing langsung oleh Lariman, dosen FMIPA Universitas Mulawarman. Ia telah mengembangkan unit composting dari drum plastic untuk membuat kompos dari gulma air di danau-danau prioritas di Kalimantan Timur. 

Replikasi unit composter dan pembuatan compost tidak hanya diperlukan untuk praktek di sekolah, namun juga berpeluang untuk diperluas menjadi program desa dalam menyediakan alternatif pupuk yang murah dan ramah lingkungan bagi pekebun dan petani. Selain itu, memang kompos diperlukan oleh pekebun dan petani di tiga kecamatan, di antaranya Muara Ancalong, Muara Bengkal dan Long Mesangat.

Masing-masing sekolah pun mendapatkan 4 unit komposter dan difasilitasi kerja sama dengan nelayan untuk mendapatkan gulma air. Dengan memanfaatkan gulma air, seperti eceng gondok dan kayu apu dapat membantu mengurangi penyempitan lahan basah. Secara tidak langsung juga membantu nelayan mendapatkan akses yang lebih baik saat mencari ikan.

Dengan dukungan pendanaan dari Australian Volunteer Program-Impact Fund ini menguatkan kegiatan pengelolaan lahan basah yang sedang dilaksanakan oleh Konsorsium atas pendanaan dari TFCA Kalimantan.(ml)

Bimtek penyusunan Modul Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pemanfaatan gulma air menjadi kompos, dipandu oleh Mujiono M.Pd. dari Dinas Pendidikan Kutai Timur. Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin.
Bimtek penyusunan Modul Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pemanfaatan gulma air menjadi kompos, dipandu oleh Mujiono M.Pd. dari Dinas Pendidikan Kutai Timur. Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin.

 

Pelatihan pembuatan kompos dari gulma air, dipandu oleh Dr. Lariman dari FMIPA UNMUL. Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin
Pelatihan pembuatan kompos dari gulma air, dipandu oleh Dr. Lariman dari FMIPA UNMUL. Foto: Nur Linda-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin

 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020