Bengalon : Ciri-Ciri dan Manfaatnya

February 16, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Lepisanthes alata (Blume) Leenh atau dikenal Bengalon (dalam bahasa Kutai) adalah tanaman tropis yang berasal dari keluarga Sapindaceae. Tanaman ini tersebar di wilayah Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia, Serawak, Malaysia, Sabah, Filipina, hingga di Indonesia (Kalimantan dan Jawa).

            Tanaman Bengalon dapat dijumpai di sepanjang hutan, hutan tropis, tepi sungai, hingga dataran rendah lembab dengan ketinggian 500 mdpl. Selain itu, banyak ditemukan di pekarangan atau perkebunan, tetapi jarang dibudidayakan.

            Uniknya, spesies ini memiliki penyebutan nama yang berbeda setiap daerahnya, di antaranya Blimbing Cina (Jawa), Kurumei (Kalimantan), Bengalon (Kutai), dan Kiangir (Sunda). Sementara di Malaysia seringkali disebut Engkili (Serawak), Ceri Trengganu, dan Buah Johor.

Morfologi Bengalon

            Pohon kecil atau perdu yang memiliki tinggi sekitar 6 – 15 m dengan diameter mencapai 30 cm. Saat muda, daun berwarna merah muda keungunan yang akan berubah menjadi hijau ketika tua. Daunnya majemuk dengan panjang 20 – 45 cm, setiap tangkai memiliki 8 – 12 buah anak daun.

            Terdapat bunga yang tidak beraroma dan berkelompok dalam bentuk tandan. Ada pun buah yang berukuran 3,5 – 2,5 cm, menghasilkan 3 biji, berwarna hijau saat muda, dan merah keunguan yang mirip layaknya buah anggur.

Pemanfaatan

            Berdasarkan hasil penelitian, buahnya mengandung karbohidrat, serat, dan kandungan gula. Meskipun kadar gula relatif tinggi, tetapi rasa manisnya cenderung sedikit dan lebih didominasi rasa sepet dan asam.

Rasa sepet adalah senyawa poliphenol, lalu warna kulit ungu pada kulit buah adalah senyawa antosianon. Keduanya mengandung karbohidrat yang dapat mencegah berbagai risiko penyakit kronis serta dapat menghambat proses oksidasi dalam jaringan tubuh manusia.

            Selain itu, bagian buahnya dapat langsung dikonsumsi karena rasanya cukup manis ketika matang. Pada bagian daun dimasak dan dimakan sebagai sayuran. Dalam penggunaan lain, Bengalon juga dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena bentuknya yang menarik.

Di lahan basah Suwi, Bengalon sering ditemukan di tepian sungai, daun mudanya yang berwarna merah muda keunguan dan warna buah yang merah merona, mencolok di antara tetumbuhan tepi sungai lainnya. Nelayan sering memanfaatkan buah Bengalon untuk campuran memasak ikan, untuk memberikan rasa asam segar.(ml)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020