Mengenal Burung Madu, Si Cantik Penghisap Nektar

January 30, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Burung Madu adalah spesies burung yang memiliki peran penting dalam penyerbukan secara alami terhadap tanaman, baik di hutan maupun perkebunan. Sesuai dengan namanya, burung ini mengisap madu atau nektar pada kelopak bunga sebagai pakan utamanya. Ia sering bertengger pada cabang maupun ranting pohon saat menghisap madu.

            Namun, Burung Madu juga memakan serangga kecil terutama saat merawat anak-anaknya untuk menambah asupan nutrisi. Adapun keunikan lainnya, yaitu kemampuan mengapung di udara saat menghisap madu. Burung ini tersebar di beberapa wilayah Indonesia, salah satunya di Kalimantan tepatnya Lahan Basah Mesangat Suwi.

Burung Madu Belukar

            Burung Madu Belukar dengan nama latin Chalcoparia Singalensis dikenal sebagai pemakan nektar, madu, hingga buah kecil. Selain itu, ia juga memangsa serangga kecil dan kerap kali memangsa ulat.

            Jenis ini dapat dijumpai di dataran rendah, hutan mangrove, dan perbukitan. Ia suka berpindah-pindah ke tempat yang lebih tinggi. Hidup secara bergerombol atau berpasangan, tetapi juga bisa hidup sendirian. Burung Madu Belukar umumnya berkembang biak pada bulan Maret, menghasilkan 2 butir telur dan diletakkan di dalam sebuah sarang yang bergantung pada vegetasi lebat.

            Untuk ukuran tubuhnya sendiri terbilang kecil, hanya mencapai 10 cm. Terdapat perbedaan antara jantan dan betina. Sang jantan memiliki ciri khas warna bulu hijau tua dan mengkilap pada tubuh bagian atasnya. Bagian pipi berwarna merah, lalu leher dan dada cokelat. Sedangkan betina memiliki warna bulu cenderung hijau zaitun lebih pucat dibandingkan warna bulu pada tubuh si jantan.

Burung Madu Sriganti

            Burung Madu Sriganti atau dengan nama latin Nectarinia jugularis tersebar di wilayah Indonesia, meliputi Nusa Tenggara, Sumatera, dan Sulawesi. Selain itu, dapat dijumpai di Laos, China, New Guinea, Filipina, dan Malaysia. Berdasarkan hasil penelitian oleh Konsorsium, jenis ini ditemukan di Lahan Basah Suwi yang tercatat pada bulan Januari dan Februaru 2022.

Sama seperti namanya, burung ini memakan nektar atau sari bunga, serangga kecil, dan laba-laba. Habitat alaminya berada di hutan terbuka, dataran rendah dengan ketinggian sekitar 1700 mdpl, dan pegunungan. Bahkan, sering terlihat hidup secara berkelompok yang mendiami area perkarangan rumah, semak belukar, hutan mangrove, hingga perkebunan untuk mencari makanan.

Bila dibandingkan dengan jenis burung madu lainnya, Sriganti memiliki ukuran kecil hanya mencapai 10 – 11 cm. Memiliki paruh lancip dan panjang, serta berat sekitar 6 – 10 gr. Terdapat perbedaan warna bulu antara betina dan jantan. Pada bagian bawah tubuh jantan bercorak kuning, bagian dagu dan dada berwarna hitam ungu metalik. Sementara betina memiliki warna kuning pucat.

Berdasarkan beberapa penelitian, betina cenderung lebih cerewet dibandingkan jantan. Suara kicauannya terdengar jelas ketika mereka sedang berkejar-kejaran dari satu dahan ke dahan lainnya.

            Burung Madu Sriganti membuat sarang dari rumput dengan kapas alang-alang, berbentuk kantung, dan diletakkan pada dahan yang rendah. Ia berkembang biak sepanjang tahun dengan menghasilkan 2 butir telur yang berwarna keputih-putihan dan bintik abu-abu putih.

             Spesies ini tergolong mudah dijumpai karena populasinya yang banyak, sehingga  diperjualbelikan secara langsung ataupun online dan menjadikannya sebagai peliharaan. Meski begitu, eksploitasi yang dilakukan dengan berlebihan bisa membuat populasinya semakin berkurang.

Burung Madu Sepah Raja

            Selanjutnya, Burung Madu Sepah Raja atau Aethopyga siparaja juga termasuk spesies dari keluarga Nectariniidae. Penyebarannya secara global meliputi India, China Selatan, Asia Tenggara, Filipina, Semenanjung Malaysia, dan Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi). Spesies ini pun cukup sering ditemukan di Lahan Basah Mesangat selama tahun 2022, tetapi belum dijumpai di Suwi.

            Ukurannya sedang sekitar 13 cm. Uniknya, burung jantan dan betina memiliki warna yang berbeda-beda. Jantan memiliki warna merah terang, lalu dahi dan ekor berwarna ungu dengan ukuran yang pendek, serta warna perutnya abu-abu gelap. Sedangkan burung betina berwarna hijau zaitun gelap tanpa sapuan warna merah pada sayap ataupun ekor. Namun, keduanya memiliki iris gelap, paruh kehitam-hitaman, dan warna kaki kebiruan.

            Habitat alaminya berupa perkebunan, hutan, dan semak-semak. Selain itu, ia juga menetap di dataran rendah (Sumatera) dengan ketinggan 900 mdpl. Sementara di Kalimantan bisa mencapai ketinggian 1300 mdpl.

            Sama seperti jenis lainnya, burung ini pemakan nektar bunga dan serangga. Umumnya terlihat sendirian dan berpasangan, serta mengunjungi pepohonan yang sedang berbunga di tepi hutan atau perkebunan. Adapun kebiasaan lainnya, yaitu membuat sarang yang menggantung ke permukaan tanah di tepi hutan atau belukar sekunder. Masa berbiaknya sepanjang tahun mulai dari Desember sampai Juli hingga Desember. Menghasilkan 2 butir telur yang warnanya merah jambu berbintik-bintik.

Burung Madu Kepala

            Burung Madu Kepala atau Anthreptes Malacensis adalah salah satu jenis burung kicauan yang banyak dikenal oleh masyarakat. Spesies ini bisa dijumpai di Sumatera, Kalimantan (tercatat ditemukan di Lahan Basah Suwi), Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Persebarannya tidak hanya di Indonesia, tetapi secara global meliputi Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

            Burung Madu Kelapa memiliki ukuran tubuh sedang sekitar 13 cm. Terdapat perbedaan antara jantan dan betina. Burung jantan memiliki mahkota dan bagian punggung berwarna hijau bersinar. Bagian tunggir, penutup sayap, ekor, dan kumis berwarna ungu.

Sementara dagu, pipi, tenggorokan cokelat tua buram dan bagian bawah tubuhnya berwarna kuning. Sedangkan, betina memiliki warna hijau zaitun. Bagian bawah tubuhnya berwarna kuning muda, lalu paruh hitam, iris merah, dan kaki hitam abu-abu.

Jenis ini bersifat teritorial, di mana akan menyerang dan mengusir burung madu lain dari pohon sumber makanannya. Mereka berbiak sepanjang tahun dengan menghasilkan 2 butir telur. Sarangnya berbentuk kantung menggantung yang terbuat dari serat rumput dan direkat dengan jaring laba-laba, serta kapas rumput.

            Adapun ciri khas lainnya, yaitu suara kicauannya. Ketika berada di alam liar, Burung Madu Kelapa akan mengeluarkan suara kicauan yang terdengar agak melengking dan bernada tinggi. Suara kicauannya berjangka waktu yang agak lama. Lalu, temponya rapat atau disebut juga cerecetan.

            Burung Madu Kelapa ini menjadi agen penyerbuk putik sari bunga, sehingga berperan penting bagi ekosistem. Sayangnya, populasinya pun semakin sedikit sehingga perlu perhatian lebih oleh pemerintah setempat.

Burung madu Sriganti (Nectarinia jugularis), sulit didapatkan foto yang jelas karena ukurannya kecil. Foto: www.pinterest.com
Burung madu Sriganti (Nectarinia jugularis), sulit didapatkan foto yang jelas karena ukurannya kecil. Foto: www.pinterest.com

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020