Bondol, Spesies Burung Berukuran Kecil yang Indah

December 26, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Bondol disebut juga burung pipit. Burung ini tergolong dalam genus Lonchura. Hampir semua spesies memiliki ukuran tubuh yang kurang lebih serupa, kecil dan tegap. Bondol tersebar luas di Asia bagian selatan, mulai dari India dan Sri Lanka, Afrika, Filipina, hingga Indonesia. Ada tiga jenis bondol yang dijumpai di Lahan Basah Mesangat Suwi, Kalimantan Timur.

Bondol Kalimantan

Bondol Kalimantan (Lonchura fuscans) atau dikenal juga burung pipit hitam. Sementara dalam Bahasa Inggris, yaitu Dusky Munia. Sesuai dengan namanya, burung ini tergolong spesies endemik di Kalimantan. Habitatnya berada di dataran rendah hingga ketinggian sekitar 500 m di seluruh pulau-pulau Kalimantan. Selain itu, di tepi hutan, semak sekunder, dan lahan pertanian.

Burung pemakan biji-bijian ini memiliki ukuran sedang sekitar 11 cm dengan warna gelap. Perbedaan yang menonjol jika dibandingkan bondol lain, yakni bulu yang berwarna coklat kehitaman. Iris mata berwarna cokelat, paruh hitam bagian atas dan abu-abu pada bagian bawah, dan kakinya berwarna hitam. Sama seperti jenis bondol atau pipit lain, jenis ini memiliki suara getaran “pii pii” atau “cirrup” dan suara rendah “tek-tek” saat terbang

Bondol Peking

      Bondol peking atau pipit peking (Lonchura punctulate) juga termasuk burung kecil pemakan padi dan biji-bijian. Umumnya burung bondol punya sifat yang sama, yakni bisa beradaptasi dengan cepat pada habitat baru. Habitatnya pun sangat beragam, mulai dari padang rumput, hutan alami, lahan pertanian, perkebunan, hingga daerah pemukiman.

Arti nama punctulate berbintik-bintik yang merujuk pada warna bulu pada bagian dadanya. Sementara warna bulunya adalah cokelat, tangkai bulu berwarna putih dengan warna cokelat kemerahan pada tenggorokannya. Lalu, bulu bagian bawahnya berwarna putih, bersisik cokelat bagian dada, serta sisi tubuhnya.

      Namun, ada perbedaan warna bulu pada bondol peking remaja dan dewasa. Bondol remaja memiliki bagian tubuh berwarna kuning tua tanpa sisik. Lalu iris mata cokelat, paruh berwarna abu-abu kebiruan, dan kaki hitam keabu-abuan. Pada burung dewasa warnanya cenderung cokelat kemerahan pada leher dan sisi atas tubuhnya. Sisi bawahnya putih berserta sisik warna cokelat pada dada, dan perut hingga bagian pantat warna putih.

Bondol Rawa

      Bondol rawa (Lonchura malacca) salah satu jenis burung yang keberadaannya cukup banyak di hutan Indonesia. Spesies ini memiliki ciri khas, yaitu kicauannya yang terdengar nyaring dan melengking dengan volume yang cukup tinggi. Spesies bondol rawa tersebar di seluruh Kawasan Asia, India, Tiongkok, Malaysia, Filipina, hingga Indonesia.

Persebarannya di Indonesia meliputi beberapa pulau besar dan kecil, di antaranya Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Banggai, dan Kepulauan Togean. Habitat alaminya berada di area dataran rendah hingga pengunungan dengan ketinggian 1800 meter mdpl. Lalu, area rawa-rawa, semak belukar, persawahan, tambak ikan, dan areal perkotaan.

      Burung ini suka hidup secara bergerombol bersama kawananannya, baik mencari makan ataupun sedang beristirahat. Biasanya anggota dalam satu kelompok sekitar 10 ekor. Lalu, jenis makanannya setiap hari berupa biji-bijian dari padi atau rerumputan.

      Sama seperti spesies lainnya, yaitu ukuran tubuhnya kecil dengan Panjang sekitar 11 cm saja. Terdapat tiga corak warna bulu, di antaranya hitam, cokelat, dan putih. Pada area kepala, tenggorokan, leher, dan sisi perut berwarna hitam. Kemudian, pada dada dan sisi bawah sayapnya berwarna putih, tetapi tidak mencapai perutnya. Bagian kakinya warna hitam keabu-abuan yang berukuran agak panjang dengan kuku yang tajam. (ml.)

Bondol Rawa (Lonchura malacca) di lahan basah Mesangat Suwi. Foto: Nur Linda, Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin
Bondol Rawa (Lonchura malacca) di lahan basah Mesangat Suwi. Foto: Nur Linda, Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020