Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin melaksanakan survei kolaborasi bekantan yang telah berlangsung tanggal 24 – 28 Oktober 2022 di Lahan Basah Suwi. Kegiatan ini melibatkan Dr. Dijan Sunar Rukmi, M.Si (Dosen FMIPA UNMUL), Dr. Liza Niningsih, S.Hut, MP (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Sangatta), Nur Rachman, S.Si, M.Si (FMIPA UNMUL)
Pelibatan dosen-dosen yang mewakili perguruan tinggi masing-masing dimaksudkan untuk memberikan orientasi guna mendapatkan gambaran kondisi lahan basah dan potensi penelitian bagi mahasiswa. Sebaliknya konsorsium mendapatkan masukan tentang metoda pengamatan dan data-data yang perlu dilengkapi terkait bioekologi bekantan.
Selama ini hutan tropis Kalimantan yang selalu menjadi pusat perhatian untuk topik penelitian. Padahal lahan basah juga merupakan ekosistem penting yang perlu digali aspek keilmuannya agar bisa dikelola dan bermanfaat untuk jangka panjang.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pertemuan dengan nelayan tradisional. Informasi yang tergali dari nelayan antara lain: alat tangkap ikan tradisional yang paling sering digunakan adalah rengge atau pukat dan rawai. Keseharian nelayan biasanya sore hari memasang rengge dan rawai, keesokan paginya dilakukan pengecekan untuk mengambil ikan yang terjaring atau memakan pancing, kemudian memasang umpan Kembali untuk di cek pada sore harinya.
Jenis-jenis satwa yang biasa dijumpai oleh nelayan antara lain: Monyet ekor Panjang, Lutung, Bekantan, babi hutan, ular, biawak dan berbagai jenis burung. Atas informasi dari nelayan, pernah dijumpai beruang, maka Konsorsium memasang kamera jebak, dan didapat foto beruang.
Lokasi bekantan yang belum dilakukan pengamatan oleh staf kehati yaitu di Po Ping, karena akses sengaja ditutup oleh nelayan agar penyetrum tidak bisa masuk. Selain itu di Danau Plangka, bisa diakses hanya pada saat air tinggi, sehingga belum banyak data temuan bekantan.
Nelayan di Suwi telah mengetahui bahwa bekantan merupakan satwa dilindungi sejak diberikan informasi oleh Yasiwa. Pada tahun 2014, pernah terjadi perburuan bekantan, setelah mendapatkan informasi dari Yasiwa bahwa bekantan tidak boleh diburu, selanjutnya nelayanlah yang melarang para berburu.
Selama survei kolaborasi tersebut teramati keberadaan bekantan di bagian hulu, tengah dan hilir Sungai Suwi, Loa Bekaran dan Danau Klumpang dengan total 10 temuan. Pohon pakan yang tercatat adalah Bloma (Syzygium lineatum), Bungur (Lagerstroemia speciosa), Kedemba (Mitragyna speciosa), Kendikara (Dillenia excelsa), Prupuk (Mallotus sumatranus), Putat (Barringtonia acutangula) dan Rengas (Gluta renghas). Bagian yang dimakan terutama daun, kadang bunga atau buahnya.
Komentar Dijan yang baru pertama kali berkunjung ke lahan basah: Salut dengan upaya Konsorium Yasiwa-Yayaan Ulin. Banyak tantangan yang harus dihadapi tetapi dengan semangat semua bisa teratasi dan berhasil juga usulan pengelolaan lahan basah menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Keberhasilan tersebut dapat mendukung kelestarian keragaman hayati di Lahan Basah Mesangat-Suwi dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Saya sangat senang akan adanya kolaborasi ini, banyak ide yang bisa ditindaklanjuti mengenai keragaman hayati dan potensi kawasan Lahan Basah. Semoga kolaborasi ini bisa berlanjut.
Lain pula kesan Liza Niningsih: “Tiga hari menyatu dengan alam lahan basah suwi sungguh pengalaman yang menyegarkan hati dan pikiran, serasa berselancar ke dunia lain, karena mendapat pemandangan morfologi sistem perairan dan pepohonan yang sangat unik. Lahan basah suwi bukan hanya tipe ekosistem yang penting secara ekonomi dan ekologi, tetapi juga lanskap yang sangat indah. Upaya perlindungan terhadap populasi bekantan dan habitatnya ini menjadi sangat penting”. (ml.)




