Elang Bondol, yang sudah mulai langka

November 21, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Elang bondol (Haliastur indus) salah satu jenis burung pemangsa yang persebarannya luas. Di Asia Tenggara populasinya mengalami penurunan. Keberadaan elang bondol, terutama di Jawa juga mengalami penurunan yang drastis dan berujung teracam punah. Beberapa faktor penyebab penurunan populasi, yakni hilangnya habitat asli, penggunaan pestisida, perburuan illegal, hingga ditangkap sebagai hewan peliharaan. Dari hasil penelitian, diperkirakan populasinya sekitar 100.000.

Di Lahan Basah Mesangat Suwi, catatan temuan Elang Bondol baru didapatkan pada bulan Juli 2022, di Mesangat.

Persebaran dan Habitat

            Elang bondol tersebar luas diberbagai wilayah, di antaranya Sri Lanka, Nepal, India, Pakistan, Cina, Australia, dan Asia tenggara. Burung pemangsa ini dapat dijumpai di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Habitatnya dapat dijumpai di areal tepi laut berlumpur, seperti hutan mangrove, muara sungai, pesisir pantai, rawa, dan sawah.

Ciri-ciri

            Ukurannya sedang sekitar 43 – 51 cm. Lalu, sayapnya lebar dengan ekor yang pendek dan membulat ketika membentang. Bagian kepala, leher, dan dadanya berwarna putih. Sementara sisanya berwarna merah mata pucat, ujung bulu primer hitam, dan tungkai berwarna kuning.

Makanan Utama

            Secara alaminya, elang bondol memangsa ikan, kepiting, kerang, hewan pengerat, reptil, serangga, hingga katak. Elang bondol menangkap mangsanya di atas permukaan air dengan cakarnya dan memakan tangkapannya saat terbang untuk menghindari pemangsa lain.

Elang bondol mencari makan di atas permukaan air maupun daratan serta dapat terbang dengan ketinggian 20 – 50 meter di atas permukaan tanah. Selain itu, burung ini juga memakan bangkai sisa-sisa makanan, sehingga dapat dijumpai di sekitar pelabuhan dan pesisir.

Kebiasaan

            Biasanya elang bondol lebih sering menyendiri, tetapi di daerah yang makanannya berlimpah akan hidup secara berkelompok yang berjumlah 35 individu. Burung ini terbang rendah di atas permukaan air untuk berburu mangsa.

Seringkali juga menunggu mangsa sambil bertengger di pohon sekitar perairan dan berjalan di permukaan tanah untuk mencari semut atau rayap. Selain itu, menyerang burung camar, dara laut, dan burung pemangsa yang lebih kecil untuk mencuri makanan.

Perkembangbiakkan  

            Di daerah tropis, elang bondol akan berbiak pada musim kemarau sekitar bulan Januari – Agustus dan Mei – Juli. Kemudian membentuk sarang tidak rapi yang tersusun dari patahan batang, rumput, daun, sisa makanan, hingga sampah.

            Sarang ini terletak di percabangan pohon yang tersembunyi dan bangunan dengan tinggi 6 – 50 meter dari permukaan tanah. Sementara di hutang mangrove, tinggi sarang hanya 2 – 8 meter. Elang bondol akan menghasilkan 1 – 4 butir telur dan dierami selama 28 – 35 hari. Anakan burung elang akan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang saat berusia 40 – 56 hari. Lalu menjadi dewasa dan mandiri setelah 2 bulan. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin. (ml)

Elang Bondol (Heliastur indus) di Lahan Bsah Mesangat. Foto: Mohammad Zulfikar Ngareng, Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin
Elang Bondol (Heliastur indus) di Lahan Bsah Mesangat. Foto: Mohammad Zulfikar Ngareng, Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin

 

Elang Bondol (Heliastur indus) Foto: ikurma.blogspot.com
Elang Bondol (Heliastur indus) Foto: ikurma.blogspot.com

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020