Pada tanggal 11-13 Oktober 2022, tim konsorium melakukan kunjungan dan dialog dengan kelompok-kelompok nelayan di sekitar LBMS. Tujuan utama adalah untuk mensosialisasikan mengapa lahan basah Mesangat Suwi diusulkan menjadi Kawasan Ekosositem Esensial.
Sebab, LBMS memiliki peran penting sebagai sumber perikanan, daerah resapan air, sumber mata air untuk pertanian, pengisian tanah, dan membantu mengurangi dampak dari perubahan iklim. Selain itu, juga berpotensi sebagai tempat wisata edukasi dan habitat asli bagi buaya maupun bekantan.
Ada beberapa kelompok nelayan yang berdiskusi bersama konsorsium, yakni di area lahan Basah Suwi, terdapat kelompok nelayan yang berasal dari Desa Senyiur. Para kelompok nelayan ini mencari ikan di sekitar Loa Bekara, Loa Ketiau, Muara Suwi, dan Po Ping.
Sedangkan, terdapat beberapa kelompok nelayan di Desa Kelinjau Ulu, di antaranya kelompok yang mencari ikan di Sungai Mesangat Ulu dan tembus ke Sungai Segoi. Kelompok Rawa Banjir biasanya mencari ikan di Sungai Mesangat Ilir dan jika air tinggi bisa mengakses ke daerah Nusa Palong. Selain itu, ada pula kelompok nelayan yang mencari ikan di Loa Putih.
Lalu, kelompok nelayan Good Sirkit di Desa Kelinjau Ilir, biasanya mencari ikan di sungai besar dengan menggunakan rawai, Danau Palangka di bagian hilir kampung, dan anak-anak sungai Kedang Kepala.
Selanjutnya, kelompok Nelayan Bengkal Lestari (Muara Bengka Ilir), Solong Penang Bersatu (Benua Baru), Danau Indah (Benua Baru Ulu). Biasanya, kelompok nelayan tradisional mencari ikan di daerah Abang yang termasuk ke dalam bagian Lahan Basah Mesangat.
Sementara di Kecamatan Long Mesangat, mayoritas penduduk adalah transmigran, sehingga jumlah nelayan tidak sebanyak di desa-desa Kelinjau. Namun, ada pula kelompok Bina Bersama dan Pernesgo (Persatuan Nelayan Segoi). Awalnya, tempat utama mencari ikan di bagian sungai Segoi. Namun, berdasarkan penuturan nelayan, aliran air sungai Segoi sudah dialihkan ke sungai Kelinjau, sehingga pasokan air ke lahan basah Mesangat berkurang.
Dari hasil kunjungan dan dialog bersama, sebagian besar kelompok nelayan mengeluhkan praktek penyetruman ikan. Adanya penyetruman, para kelompok nelayan tradisonal yang menggunakan alat tangkap, seperti rengge dan rawai menjadi semakin sulit mendapatkan ikan.
Berbeda dengan alat setrum ikan buatan Thailand yang sangat mudah didapatkan, bahkan melalui toko online sekalipun. Kekuatan dayanya bisa mencapai 2 atau 3 kali lipat dari genset. Para penyetrum bisa menjual ikan di bawah harga pasaran, sehingga nelayan tradisonal akan semakin sulit menjual hasil tangkapannya.
Menurut laporan polisi, melalui media sosial (Facebook da WhatsApp) sudah pernah ada larangan penyetruman ikan di Muara Bengkal. Jika penyetruman tidak segera dihentikan, maka sumber daya ikan di lahan basah akan benar-benar habis dan mematikan mata pencaharian neyalan tradisional.
Tak hanya itu, sebagian besar nelayan tradisional sudah putus asa dan berupaya memerangi penyetruman ikan. Akhirnya, mereka mengusulkan untuk memasang spanduk larangan menyetrum. Maka, konsorsium meminta bantuan sekaligus mengomunikasikannya kepada 3 Camat, 1 Danramil, dan 2 Kapolsek setempat.
Berdasarkan hasil persetujuan, para pihak mendukung pemasangan spanduk. Kemudian, dibuatlah spanduk larangan menyetrum dan berburu satwa dilindungi dengan memasang foto-foto mereka. Nantinya, spanduk akan dipasang pada titik lokasi yang diusulkan oleh kelompok-kelompok nelayan.(ml)





