Tumbuhan Hidrofit: Jenis dan Manfaatnya Untuk Perairan

September 13, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Tumbuhan terapung atau tumbuhan yang hidup diair disebut sebagai hidrofit. Tumbuhan hidrofit termasuk bagian penting dari ekosistem perairan yang berfungsi untuk membersihkan sekaligus mengontrol pencemaran logam, minyak, agen fitoremediasi, serta perangkap bahan organik di perairan eutrofik.

            Pada umumnya, tumbuhan hidrofit mempunyai rongga antara sel yang berisi udara agar mampu mengapung di atas air. Pemukaan daunnya lebar dan muncul ke permukaan air. Fungsi daun yang lebar membantu penguapan air lebih mudah. Adapula tangkai menggembung yang berisi udara, akar yang tertanam pada dasar air, serta akar berserat dan berbulu untuk menyerap zat hara di dalam air.

Manfaat Tumbuhan Air Untuk Perairan

            Sesuai dengan namanya, tumbuhan ini sebagian besar siklus hidupnya berada diair. Kehadiran hidrofit dalam jumlah terbatas dan terkendali dapat membentuk mikrohabitat yang dibutuhkan ikan untuk berlindung dari serangan hewan lain, mencari makan (feeding ground), memijah (spawing ground), dan mengasuh anak (nursery ground).

            Tak hanya itu, tumbuhan terapung juga bermanfaat untuk memperbaiki kualitas perairan. Fungsinya sebagai agan pembersih lingkungan. Namun, bila populasinya tumbuh secara berlebihan, maka akan menimbulkan dampak negatif dan menjadikannya sebagai gulma air.

            Sebab, tumbuhan ini bisa mengakibatkan pendangkalan, menghambat proses fotositesis di dalam air, menghambat transportasi, menyumbat saluran air, dan dapat menurunkan kadar oksigen di perairan saat malam hari. Untuk itu, perlu dilakukan pengontrolan jumlah tumbuhan hidrofit agar tidak menutupi perairan.

Jenis Tumbuhan Terapung

            Ada banyak sekali jenis tumbuhan air, dua di antaranya kayambang air (Salvinia molesta) dan eceng gondok (Eichornia crasipes) yang berada di Lahan Basah Mesangat Suwi. Berikut penjelasannya di bawah ini,

  1. Kayambang atau Kiambang

Kayambang air (Salvinia molesta) atau sering disebut sebagai kiambang adalah tumbuhan air yang hidup terapung di atas permukaan air, pertumbuhan, dan perkembangannya sangat cepat. Kiambang banyak dijumpai pada dataran rendah hingga ketinggian 1800 m, terdapat di sawah, sungai, selokan, saluran air, hingga danau payau. Selain itu, tersebar luas di wilayah Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Adapun ciri-cirinya, yakni memiliki batang bercabang, tumbuh mendatar, berbuku-buku, dan panjangnya mencapai 30 cm. Pada setiap buku, teradapat sepasang daun yang mengapung dan tenggelam. Daun yang mengapung berbentuk oval yang panjangnya sekitar 3 cm, sementara daun yang tenggelam bergantung hingga mencapai panjang 8 cm. Daun kiambang memiliki trikoma yang dilapisi lilin, sehingga daun bersifat hidrophobik dan dapat mempertahankan udara untuk mengapung. 

Kiambang dapat memperbanyak diri secara vegetatif dengan cepat dan mampu tumbuh hanya dari sebagian potong tumbuhan. Belum lama ini juga, kiambang banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

  1. Eceng Gondok

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) biasanya tumbuh di aliran air yang lambat, sungai, kolam-kolam yang dangkal, tanah basah, danau, hingga rawa-rawa.

Eceng gondok hidup mengapung di air, memiliki akar serabut dalam tanah, dan tingginya bisa mencapai 0,4 – 0,8 meter. Tidak memiliki batang, permukaan daun licin, daun tunggal berwarna hijau, dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya runcing, serta pangkal tangkai daunnya bergelembung. Terdapat pula bunga majemuk yang berwarna putih keunguan, berbentuk bulir, dan kelopaknya berbentuk tabung.

Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan perubahan ekstrem, mulai dari ketinggian air, aliran air, pH air, temperatur, dan racun-racun yang berada di dalam air. Pertumbuhannya juga terbilang cepat, sehingga dianggap sebagai gulma atau spesies invasif yang dapat mengancam kerusakan ekosistem perairan.

Mengapa demikian? Karena gulma air ini tumbuh menyebar, sistem akarnya kompleks, menyumbat kanal air, dan dapat mengganggu navigasi perahu. Di samping itu, ekosistem air dapat terganggu karena mengurangi penetrasi cahaya dan oksigen ke dalam air.

Terlepas dari dampak negatifnya, ternyata eceng gondok berperan menangkap polutan logam berat, seperti tembaga dan timbal yang berasal dari limbah industri. Alhasil, mampu menjaga kondisi lingkungan sekitar.

Eceng gondok juga menyerap mineral dan zat organik dari limbah, sehingga tetap tumbuh diberbagai kondisi. Setelah membersihkan kotoran pada air, eceng gondok pun bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik, seperti kompos atau mulsa. Manfaatnya bisa menambah unsur hara bagi tanaman dan menyuburkan tanah. Kandungan kompos eceng gondok yang tinggi juga mampu memperbaiki sifat fisik tanah, memperbaiki struktur tanah, memberikan ventilasi pada tanah, dan air lebih mudah meresap melalui tanah. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml).

Daun Kiambang (Salvinia molesta) bersifat hidrophobik dan dapat mempertahankan udara untuk mengapung. (Foto: Yasiwa)
Daun Kiambang (Salvinia molesta) bersifat hidrophobik dan dapat mempertahankan udara untuk mengapung. (Foto: Yasiwa)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020