Tahongai, Tanaman Herbal yang Banyak Dijadikan Obat Tradisional

July 20, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Tahongai (Kleinhovia hospita Lin) dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang kaya akan khasiatnya. Tahongai banyak dijumpai di negara tropis benua Asia, meliputi Indonesia. Cina, Taiwan, India, Myanmar, Tahiland, Malaysia, Papua Nugini, dan Filipina.

Berbagai Nama Lain Dari Tahongai

            Tanaman tahongai tesebar luas di seluruh wilayah Indonesia, bahkan memiliki nama yang beragam di setiap daerah. Pada daerah Kalimantan Timur disebut tahongai, katimoho (Jawa), tengekele atau tangkolo (Sunda), manjar (Lampung), katemaha (Madura), katimala (Bali), kadanga (Flores), klundang (Sumba), bintangar (Sulawesi Utara), dan ngededo (Maluku Utara), serta khusus di Sulawesi Selatan, tahongai disebuat paliasa yang juga digunakan untuk Melochia umbelatta. Sementara di Malaysia disebut sebagai katimahar (dalam bahasa Melayu).

Ciri-Ciri Pohon Tahongai

            Pohon tahongai berukuran sedang hingga tinggi yang bisa mencapai 8 – 20 meter. Daunnya hijau mengkilat, tetapi pada daerah yang terbuka warnanya akan lebih terang. Ukurannya lebar berbentuk hati yang terususun secara spiral, pertulangan daun tampak jelas, dan diameter 27 cm.

Terdapat biji yang bentuknya bulat, berwarna gelap, dan berdiameter 2 mm. Tahongai memiliki buah berbentuk bulat, warna hijau muda agak kekuningan, dan tampak berkerut.

Lalu, kulit batang berwarna abu-abu, agak beralur. Bunga tahongai berukuran leber, berambut halus, dan terdapat pelindung berbentuk oval. Kelopaknya bertaju lima, berbentuk lanset, berwarna merah muda, dan ukurannya sekitar 6 -19 mm.

Khasiat Tanaman Tahongai

            Tahongai sebagai tanaman herbal yang kaya akan khasiatnya untuk mengobat berbagai penyakit. Di Papua Nugini, inti batang pohon tahongai dapat mengobati radang paru-paru. Daunnya juga dioleh menjadi jus yang bisa digunakan sebagai sampo penghilang kutu dan pencuci mata. Begitu pula, di Kalimantan Timur  juga mendapatkan perhatian lebih dari para masyarakat. Berikut beberapa manfaat yang terkandung di dalam tanaman tersebut.

Mengandung Tinggi Antioksidan dan Antibakteri

            Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada daun tahongai mengandung senyawa flavonoid dan alkaloid yang berfungsi merusak dinding sel yang membuat sel bakteri mati. Adapula senyawa tannin yang dapat menghambat perkembangan bakteri.

            Ekstrak tahongai juga mengandung senyawa kaempferol dan eleutherol yang kaya akan antioksidan, sehingga dapat menangkal radikal bebas. Beberapa penelitian juga telah dilakukan oleh Universitas Mulawarwan, Samarinda yang menunjukkan bahwa ekstrak tahongai juga memiliki khasiat anti-inflamasi atau anti peradangan.

Mengobati Kerusakan Hati

            Tahongai juga digunakan untuk mengobati penyakit kuning atau gangguan lever di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya Sulawesi Utara. Berdasarkan tinjauan ilmiah dari Fakultas Kedokteran, Universitas Mulawarman, menunjukkan bahwa adanya aktivitas hepatoprotektor pada sel hati yang mengalami kerusakan.

            Hepatoprotektif adalah senyawa obat yang mempunyai efek untuk mengobati kerusakan hati. Adanya kandungan saponin, cadenolin, dan antrakuinon juga diduga berperan dalam aktivitas hepatoprotektif tersebut.

Mengatasi Diabetes

            Masih merujuk pada penelitian oleh Universitas Mulawarman, di mana ekstrak daun tahongai berperan sebagai pemecah diabetes. Efek penurunan gula diduga karena adanya kandungan triterpenoid yang dapat memfasilitasi gula agar masuk ke dalam sel. Dengan demikian, bisa diubah menjadi energi dan tidak beredar pada darah secara berlebihan.

Obat Antikanker

            Ada pula khasiat lain yang dimiliki tanaman tahongai, yakni ekstrak dari daun dan batangnya dapat menghasilkan senyawa yang mampu melemahkan sel kanker serviks maupun payudara. Ekstrak daunnya terbukti dapat menurunkan kadar glukosa. Semakin tinggi dosis dari ekstrak tahongai, maka akan semakin kuat efeknya. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml)

Daun tahongai (Kleinhovia hospital L.) pada pohon muda (foto:Balitek)
Daun tahongai (Kleinhovia hospital L.) pada pohon muda (foto:Balitek)

 

Buah tahongai (foto: Balitek)
Buah tahongai (foto: Balitek)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020