Burung Penyebar Biji dan Pengendali Serangga

Burung Penyebar Biji dan Pengendali Serangga

Merpati (Suku Columbidae)

Burung mempunyai peranan penting dalam kehidupan, baik untuk alam ataupun manusia. Keberadaan burung di suatu habitat bermanfaat bagi ekosistem, di antaranya sebagai penyebar biji, dan pengendali populasi serangga. Salah satunya, keluarga burung dari suku Columbidae yang umum disebut burung punai atau merpati-merpatian, makanan utama dari burung-burung punai adalah buah dan buji-bijian, sehingga membantu dalam penyebaran dan regenerasi pohon dan tumbuhan yang dimakan buah atau bijinya. Suku Columbidae terkenal dengan postur tubuh yang pendek, bulat, gempal, paruh ramping, hingga leher yang cenderung pendek.

Jenis ini biasanya bersarang di atas tanah, pohon, semak dengan sarang yang berbentuk panggung terbuat dari ranting pohon kering. Saat perkembangbiakan, burung punai akan memilih pasangan, membangun sarang, mengerami telur, dan membersarkan anaknya. Jika telah mempunyai pasangan, mereka akan memisahkan diri dari kelompoknya.

Habitat asli burung punai adalah hutan dataran rendah, hutan hujan dataran tinggi, sungai, hutan mangrove, savana, hutan rawa, daerah pinggiran hutan, semak belukar, hingga lahan hutan terbuka. Burung ini dapat terbang sejauh 40 km dalam sehari dari tempat bertengger ke lokasi yang tersedia sumber pakan.

Sayangnya, suku Columbidae termasuk keluarga burung yang keberadaannya mulai terancam punah. Dalam penelitian Walker (2007), ditemukan 304 jenis Columbidae yang tersebar di alam. Sementara, 19% diantaranya mulai terancam punah. Hampir semua Columbidae yang terancam punah berada di hutan tropis. Lalu, setengahnya berada di tiga wilayah yang meliputi, Indonesia, Filipina, dan Polynesia. Faktor penyebab terancamnya burung Columbidae adalah hilangnya habitat, fragmentasi akibat pertanian, penebangan hutan, dan perburuan untuk dikonsumsi.

Di Sumatera, Jawa-Bali dan Kalimantan tercatat ada 29 jenis burung dari suku Columbidae.  Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Yasiwa dan Yayasan Ulin di Lahan Basah Mesangat Suwi, tercatat ada 7 jenis. Paling sering dijumpai pada pohon Ficus atau pohon kejawi yang sedang berbuah. Empat jenis yang paling umum dijumpai yaitu: Punai Gading (Treron vernans), Punai Bakau (Treron fulvicollis), Tekukur Biasa (Spilopelia chinensis), serta Delimukan Zamrud (Chalcophaps indica).  Sedangkan tiga jenis lainnya yang agak jarang dijumpai adalah Pergam Hijau (Ducula aenea), Pergam Kelabu (Ducula pickeringii) dan Merpati Hutan Metalik (Columbia vitiensis). Berikut adalah diskripsi empat jenis punai yang ada di sekitar LBMS.

 

Punai Gading (Treron vernans)

            Jenis burung ini biasanya hidup di daerah hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa, pemukiman, area terbuka, perkebunan dengan pohon yang berjarang, dan lembah yang ketinggiannya sekitar 1200 mdpl. Burung ini tersebar di Indocina, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Filipina, Sulawesi, Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

            Punai gading hidup dalam kelompok kecil, hidup di hutan yang rendah, dan hinggap pada pohon buah-buahan untuk mencari makan. Apabila merasa terganggu, akan terbang secara berkelompok dengan kepakan sayap keras.

Selain itu, punai gading dapat berukuran sekitar 29 cm. Pada dada bagian bawah berwarna jingga, perut hijau dengan bagian bawah kuning, sisi rusuk dan paha berwarna putih, serta penutup bagian ekornya cokelat kemerahan. Kemudian, punggung berwarna hijau, sayap gelap dengan tepi kuning, dan ekor berwarna abu-abu.

Punai Gading (Treron vernans)
Punai Gading (Treron vernans) Foto : NL

 

Punai Bakau (Treron fulvicollis)

            Burung punai bakau tersebar dibeberapa wilayah, mulai dari Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Penyebarannya banyak dijumpai di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Habitat punai bakau berada di hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa, hingga semak belukar terbuka. Burung ini menyukai pohon-pohon kecil sebagai tempat bersarang.

Selain itu, ciri umum burung punai bakau dapat berukuran sekitar 27 cm. Betina mempunyai kepala berwarna hijau, sementara jantan berwarna cokelat kemerah-merahan. Pada bagain dadanya berwarna kuning kecokelatan, dan jingga. Sementara pahanya berwarna kuning, bulu penutup ekor bawah berwarna cokelat kemerahan.

Punai Bakau (Treron fulvicollis)
Punai Bakau (Treron fulvicollis)

Tekukur Biasa (Spilopelia chinensis)

            Tekukur biasa mempunyai warna bulu berwarna cokelat, kemerah jambu, bulu tubuh pada bagian atas berwarna cokelat, dan paruh yang berwarna hitam, serta bulu sayap berwarna cokelat leher. Terdapat garis hitam yang khas pada bagian sisi leher. Ukurannya sekitar 30 cm, ekor yang tampak panjang, dan bulu sayap lebih gelap daripada bulu tubuhnya.

Burung tekukur tersebar di Asia Tenggara hingga Nusa Tenggara. Tekukur dapat hidup bersama manusia di sekitar sawah dan desa. Maka, sering dijadikan sebagai hewan peliharaan. Burung tekukur mencari makan di atas permukaan tanah, hidup berpasangan, dan bila terganggu akan terbang rendah di atas tanah.

Tekukur Biasa (Spilopelia chinensis)
Tekukur Biasa (Spilopelia chinensis) (Foto : NL)

 

Delimukan Zamrud (Chalcophaps indica)

Delimukan zamrud tersebar luas di dataran rendah hutam primer dan hutan sekunder submontain dari India hingga Australia. Selain itu, dijumpai di Kalimantan dan Sumatera. Sayangnya, sekitar Jawa dan Bali sudah jarang ditemukan.

Burung ini hidup berpasangan, terkadang menyendiri, dan sebagian besar menghabiskan waktu di lantai hutan yang tertutup rapat. Pada umumnya, meminum air aliran sungai maupun genangan air. Delimukan juga dapat terbang dengan cepat dan rendah di hutan. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin, ml.

Pohon Kahoi (Shorea balangeran)

Pohon Kahoi (Shorea balangeran)

Shorea balangeran adalah jenis pohon dari keluarga Dipterocarpaceae, dan termasuk jenis pohon endemik Asia Tenggara. Di Indonesia pohon ini dapat dijumpai di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Pada umumnya, penduduk lokal Kalimantan sering menyebutnya sebagai balangeran, kahoi, atau kawi. Sementara di Sumatera biasanya disebut balangeran, belangir, atau melangir.

Ciri Umum Shorea balangeran

Pohon ini dapat tumbuh dengan tinggi mencapai 20 – 25 meter, mempunyai batang bebas bercabang sekitar 15 meter, dan berdiameter 50 cm. Kulit luar berwarna merah tua hingga hitam, dengan ketebalan mencapai 1-3 cm. Permukaan kulitnya rata dan tidak mudah mengelupas. Pada bagian dalam kayu akan terlihat warna cokelat merah, lalu ada juga warna cokelat tua pada bagian terasnya. Sementara bagian kayu gubalnya mempunyai warna putih kekuning-kuningan dan merah muda. Selain itu, bagian gubalnya mempunyai ketebalan sekitar 2 sampai 5 cm.

Daunnya mempunyai ciri fisik dengan ujung yang lancip dan pangkal daun yang berbentuk bulat. Bunga berwarna merah menyala, sehingga pada saat musim berbunga menyajikan pemandangan yang sangat indah di hutan rawa.

Kandungan Senyawa Fitokimia

Dari hasil penelitian mengidentifikasi adanya senyawa kimia yang terkandung dalam bagian-bagian pohon ini. Pada bagian kulit kayu, ranting, dan daun balangeran mengandung senyawa alkaloid, saponin, tannin, fenolik, flavonoid, triterfenoid, dan glikosida. Senyawa flavonoid sebagai antioksidan yang berperan menjadi antibiotik dengan menghambat fungsi mikroorganisme, seperti bakteri ataupun virus. Fungsi lain dari flavonoid juga dapat mencegah kanker. Demikian juga tanin merupakan senyawa aktif yang berperan sebagai antioksidan bisa menghambat pertumbuhan tumor. Maka dari itu, kulit kayu, ranting, dan daun cukup berpotensi mempunyai nilai ekonomi yang bisa dijadikan bahan pengobatan alternatif.

Pemanfaatan Kayu Balangeran

Kayu balangeran mempunyai kualitas yang kuat, tergolong dalam kelas kuat II, tidak mudah mengalami penyusutan saat kering, bahkan tergolong awet dan dapat tahan dari serangan jamur pelapuk. Maka dari itu, banyak dijadikan sebagai balok atau papan pada bangunan, perumahan, jembatan, lunas perahu dan masih banyak lagi.

Permukaan kayu cenderung licin, tetapi ada beberapa tempat yang terasa lengket karena adanya damar. Tekstur kayunya sedikit kasar, dan merata. Terdapat serat halus pada kayunya, bila diraba permukaan terasa licin.

Status Konservasi

Sebagai jenis kayu yang popular dalam perdagangan kayu ekonomis, keberadaan spesies Shorea balangeran mengalami banyak penurunan akibat perdagangan yang tidak terkendali. Status konservasinya Vulnerable, atau rentan punah.

Di hutan rawa gambut kahoi termasuk salah satu penyusun jenis tumbuhan pioneer,karena mempunyai daya adaptasi yang baik. Selain itu, kahoi cepat tumbuh sehingga bisa menjadi pilihan yang berpeluang besar untuk digunakan sebagai tanaman restorasi. Namun, keberhasilan hidup bibit yang ditanam di area restorasi bergantung pada kondisi tinggi muka air, kekeringan, dan kebakaran.

Habitat Pohon Balangeran

Habitat balangeran umumnya berada di hutan primer tropis basah yang sewaktu-waktu dapat tergenang oleh air dengan tipe hujan A dan B, serta ketinggian di atas 0 – 100 mdpl. Shorea balangeran mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan jenis pohon rawa gambut lainnya

Jenis pohon ini umumnya tumbuh di lahan basah dan gambut, mampu beradaptasi pada area yang tergenang air, di hutan kerangas dengan suhu dan intensitas cahaya yang tinggi. Pohon ini dapat tumbuh secara berkelompok pada daerah rawa, di tepi sungai, tanah berpasir, dan tanah liat.

Di sekitar lahan basah Suwi, kahoi banyak terdapat di area Loa Ketiau, yang awalnya merupakan hutan kahoi alami. Setelah dibuka oleh perusahaan dan ternyata tidak produktiv, di beberapa area saat ini sedang mengalami regenerasi alami. Cukup banyak pohon kahoi muda yang telah mencapai ketinggian 3 -4 meter.

Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml, dari berbagai sumber)

 

Pohon Kahoi (Shorea balangeran)
Pohon Kahoi (Shorea balangeran)
Keluarga Burung Cangak, Ardeidae

Keluarga Burung Cangak, Ardeidae

Keluarga Burung Cangak, Ardeidae

            Burung mempunyai peran penting dalam kehidupan, baik bagi alam maupun manusia. Keberadaan burung bermanfaat bagi ekosistem, terutama dalam keseimbangan lingkungan. Selain itu, burung juga memiliki peranan dalam penyebaran biji-bijian. Hal ini terjadi saat burung memakan buah-buahan, dan bijinya. Namun, bijinya tidak hancur dalam sistem percernaannya, sehingga bila dikeluarkan biji akan tetap utuh dan dapat tumbuh.

Ardeidae merupakan keluarga burung air yang persebarannya meliputi seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Bali. Famili Ardeidae mempunyai pesona yang mampu menarik pandangan mata, di mana bulunya yang indah saat memasuki musim kawin.

Kelompok burung air ini juga termasuk tipe perancah yang mempunyai kaki dan paruh panjang  yang berguna untuk hidup di lahan basah. Keberadaan jenis-jenis burung ini menjadi indikator ekosistem lingkungan hingga tanaman air yang masih terjaga.

Dari 24 spesies yang terdapat di Indonesia, setengah di antaranya termasuk dilindungi. Terdapat pula 9 jenis keluarga Cangak di sekitar Mesangat-Suwi dan 6 di antaranya termasuk dalam daftar dilindungi. Peraturannya sudah tertuang dalam Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.           

Burung Cangak Merah (Ardea purpurea)

            Cangak Merah banyak dijumpai pada habitat hutan rawa, danau yang dikelilingi banyak vegetasi, sawah, dan kadang kala ditemukan pada tambak buatan yang menampung air. Spesies ini sering menyembunyikan dirinya, bahkan jarang menghabiskan waktu pada alam terbuka, dan cenderung menghabiskan waktunya di daerah hamparan tanaman air.

Burung ini termasuk jenis karnivora yang sering berburu ikan, katak, hewan pengerat, dan serangga. Cangak Merah mempunyai bulu berwarna coklat gelap kemerahan, sementara burung dewasa memiliki warna abu-abu hitam kegelapan. Selain itu, ukuran tubuhnya cukup besar yang mencapai 60 hingga 90 cm.

 

Cangak Merah (Ardea purpurea)
Cangak Merah (Ardea purpurea)

 

Burung Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis)

            Secara ekologis, burung ini bergantung pada lahan basah atau area perairan. Keberadaan jumlah dan populasi habitatnya menunjukkan kualitas dari lahan basah. Kuntul Kerbau banyak ditemukan pada tepian sungai, pesisir, tambak, hingga sawah. Selain itu, burung mempunyai peran penting dalam rantai makanan yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan alam.

Jenis ini mempunyai bulu yang didominasi warna putih dengan dahi yang berwarna jingga. Ukurannya bisa mencapai 48 – 53 cm dan bentuknya lebih ramping daripada jenis burung air lainnya. Burung ini seringkali menghabiskan waktu di kawasan sawah dekat dengan kerbau atau sapi, lalu berburu ikan, cacing, lalat, kutu, dan serangga air.

Burung Kuntul Kecil (Egretta garzetta)

            Burung air ini mempunyai habitat yang berada di daerah perairan atau lahan basah, sering dijumpai di sungai, sawah, tambak, hingga pesisir sungai. Jenis ini lebih suka beristirahat dengan bertengger di atas pohon mangrove.

Secara fisik, ukurannya mencapai 55 – 56 cm dengan bentangan sayap sekitar 88 – 105 cm. Kuntul Kecil memangsa ikan kecil, katak, udang, dan kepiting. Burung ini lebih aktif pada sore hari, saat hendak mencari makan.

 

Burung Kuntul Kecil (Egretta garzetta)
Burung Kuntul Kecil (Egretta garzetta)

 

Burung Cangak Abu (Ardea cinerea)

            Burung Cangak usia dewasa mempunyai ukuran yang besar dengan perpaduan warna putih, abu-abu, dan sedikit campuran hitam. Sementara burung yang masih muda mempunyai kepala yang berwarna keabu-abuan dan belum tampak warna hitamnya.

Jenis ini mencari mangsa ikan air tawar di daerah yang basah, seperti danau atau pesisir pantai. Selain itu, Ardea ciberea ini lebih sering hidup berkoloni atau berkumpul dengan jenis kuntul lainnya.

Burung Kuntul Besar (Ardea alba)

            Sesuai dengan namanya, burung Kuntul ini mempunyai ukuran yang besar dengan panjang 95 cm. Kuntul Besar banyak dijumpai pada area sawah, mangrove, daerah lumpur, dan pasir. Secara fisik, bulunya didominasi warna putih dengan paruh berwarna hitam dan bentuk leher yang melengkung menyerupai huruf ‘S’.

Jenis burung ini memangsa ikan, udang, belalang, dan larva capung. Mereka hidup berbaur dan berkelompok.  Sementara pada saat berkembang biak, Kuntul Besar akan bersarang bersama dengan koloni burung air lainnya.

 

Kuntul Besar Ardea alba
Kuntul Besar (Ardea alba)

 

Blekok Sawah (Ardeola speciosa)

            Pada saat usia remaja dan belum berbiak Blekok Sawah mempunyai bulu punggung yang berwarna coklat kehitaman. Sedangkan bagian tubuh atasnya berwarna coklat. Sementara saat berbiak, kepala dan dadanya akan berwarna kuning tua. Ukurannya sekitar 46 cm dengan paruh yang panjang dan lurus.

Keberadaannya sangat bermanfaat bagi para petani karena dapat mengontrol populasi hama di sawah. Burung air ini banyak dijumpai di sawah, rawa, tambak, mangrove, hingga pinggiran sungai. Blekok Sawah memangsa ikan, berudu, kodok, serangga air, jangkring, udang, belalang, hingga keong kecil sebagai makanannya.

 

Cangak Merah (Ardea Pupurea
Blekok Sawah (Ardeola speciosa)

 

Burung Kuntul Perak (Egretta intermedia)

            Kuntul Perak banyak dijumpai dan berkembang biak di daerah pesisir hutan bakau Bontang, Kalimantan Timur. Keberadannya pun dianggap sangat penting, sehingga dijadikan maskot flora Kota Bontang.

Selain itu, banyak juga ditemukan di danau, rawa, sawah, hingga gosong lumpur. Burung ini akan menyebar ketika mencari makan, tetapi akan berkumpul saat merasa terganggu. Jika dilihat dari fisiknya, Kuntul Perak mempunyai bulu berwarna putih dengan paruh yang tidak terlalu panjang. Paruhnya berwarna kuning, tetapi seiring musim bisa menjadi coklat atau hitam. Jenis ini memangsa ikan, katak, serangga, dan belalang.

Burung Kuntul Cina (Egretta eulophotes)

            Burung air ini mempunyai ukuran yang lebih besar, yaitu sekitar 68 cm. Selain itu, bulunya bewarna putih, dan warna kaki kehijauan. Sementara paruhnya berwarna hitam dengan bagian pangkal bawah berwarna kuning. Ketika masa berbiak paruhnya berwarna kuning dengan kaki yang hitam.

Habitatnya berada di sawah, rawa-rawa, gosong lumpur, dan aktif mencari mangsa pada air yang dangkal. Burung ini mencari makan secara berkelompok dengan memangsa ikan kecil dan hewan air kecil lainnya.

Burung Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax)

Kowak Malam mempunyai ukuran kepala yang besar dengan paruh hitam panjang dan runcing. Kepalanya berwarna hitam kebiruan, lalu bulu dada dan leher yang berwarna putih. Selain itu, mempunyai iris mata yang berwarna merah. Sementara kakinya berwarna kuning yang dapat berubah menjadi merah saat musim berbiak. Ukuran tubuhnya sekitar 64 cm dengan sayap dan ekor yang berwarna abu-abu.

Burung ini hidup berkelompok dengan sifat nokturnal. Pada siang hari cenderung tenang dan beristirahat di atas pohon mangrove. Apabila merasa terganggu, ia akan terbang. Sementara pada malam hari, Kowak akan mulai aktif mencari makan. (konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin/ml).

Spesies ini dijumpai area sekitar sungai, tambak, rawa, hingga pada rumput. Biasanya, memangsa kodok, ikan, serangga kecil, ular kecil, hingga cecurut. Keberadaan Kowak Malam menjadi penyeimbang ekosistem danau melalui rantai makanan dan kotorannya pun bermanfaat untuk menyuburkan tanah.

 

Burung Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax)
Burung Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax)
Tunjuk Langit : Tumbuhan Obat, Banyak Khasiat

Tunjuk Langit : Tumbuhan Obat, Banyak Khasiat

Tunjuk Langit (Helminthostachys zeylanica) salah satu jenis tumbuhan paku-pakuan dari keluarga Ophioglossaceae yang banyak dijumpai pada kawasan hutan tropis, rawa terbuka, lantai hutan yang lembab, daerah tepi sungai berpasir atau berlumpur, hingga daerah yang kaya akan humus.

Jenis ini termasuk tumbuhan asli yang berasal dari Asia Tenggara dan Australia. Sementara di India jenis ini tergolong ke dalam flora langka, lalu di China juga termasuk dalam spesies langka (hampir punah). Tumbuhan ini juga di kenal di berbagai wilayah Indonesia, salah satunya di sekitar lahan basah Mesangat-Suwi.

Tumbuhan ini mempunyai rizhome atau rimpang, dan akar serabut yang menebal, beberapa daun majemuk pada satu batang tunggal dan bagian atasnya terdapat sporangium yang menegak ke atas. Pertumbuhan tunjuk langit dengan spora bergantung kepada jenis mikroba endofitik di dalam tanah, yaitu Prothallus tuberous yang akan membantu perkembangan sebelum berkecambah.

Semua bagian tumbuhan tunjuk langit mempunyai khasiatnya masing-masing dan telah lama digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Berdasarkan hasil uji fitokimia, tumbuhan ini mengandung senyawa flavonoid, polifeniol dan saponin. Pada bagian getah tumbuhan ini juga memiliki aktivitas biologis sebagai antivirus. Beragam macam khasiat dari bagian tumbuhan ini, di antaranya

 

Daun Bermanfaat Untuk Obat dan Pangan

Bagian daunnya dapat dikeringkan dan dihisap untuk mengatasi pendarahan hidung atau mimisan, cedera paru-paru, dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Selain dimanfaatkan sebagai obat herbal, ternyata tunjuk langit juga dapat digunakan sebagai bahan pangan yang diolah menjadi sayur.

Dalam beberapa penelitian, dikatakan bahwa masyarakat Suku Dayak Ngaju, Kalimatan Tengah telah memanfaatkan paku-pakuan ini sebagai bahan pangan. Sementara masyarakat desa Waeseli di Provinsi Maluku memanfaatkan daunnya untuk mengatasi gangguan tidur, mengobati rasa Lelah dan penghangat tubuh (Journal Pharmacy and science, vol. 12 no 1 Juli 2020).

Selain itu, daun dan tangkai daun mudanya dapat dimakan secara langsung atau mentah. Uniknya, pada bagian tangkai daun digunakaan untuk kerajinan tangan maupun anyaman. Sebagian orang juga memafaatkannya sebagai tanaman hias.

 

Akar dan Rimpang, Mempunyai Segudang Manfaat Untuk Kesehatan

Masyarakat Suku Dayak sudah menggunakan bagian umbi tunjuk langit sebagai obat herbal untuk mengobati anak-anak yang mengalami kejang-kejang hingga kaku persendiaan. Cara mengolahnya juga sederhana, hanya dihaluskan dan dioleskan pada bagian tubuh yang sakit. Bagian rimpangnya digunakan sebagai obat anti radang hingga penyembuhan penyakit paru-paru.

Selain itu, bermanfaat untuk obat kuat, impotensi, menyembuhkan malaria, penyakit kuning, dan penambah darah alami. Bagian dari tumbuhan ini juga mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai anti peradangan, anti hiperurisemia, dan campuran bahan pengobatan penyakit kanker.

Masyarakat Melayu menggunakan akar tunjuk langit sebagai obat batuk 100 hari, penyakit hidung dan tenggorokan. Cara mengonsumsinya dengan memakan bagian akar yang sudah ditumbuk halus bersama dengan buah pinang.

Bagian rimpangnya juga dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional di China sebagai herbal agen antipiretik (penurun panas, anti nyeri), radang tenggorokan, obat kuat, penambah darah, penyembuh disentri, dan malaria. Berdasarkan hasil penelitian juga diperoleh bahwa herbal ini berpotensi memperbaiki resistensi insulin atau diabetes militus tipe 2.

Keberadaan Tunjuk Langit Semakin Langka

            Helminthostachys zeylanica mempunyai nilai ekonomi sebagai tanaman obat. Namun, bila pemungutannya tidak dilakukan dengan benar akan berpotensi punah. Maka dari itu, untuk menjaga kelestarian dan ketersediaannya bisa dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat untuk membudidayakannya.

Tanaman Obat Tunjuk Langit
Tunjuk Langit
Membangun Keterhubungan OPD Dengan Desa-Desa di Sekitar KEE LBMS

Membangun Keterhubungan OPD Dengan Desa-Desa di Sekitar KEE LBMS

Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin memfasilitasi kunjungan lapangan perwakilan OPD anggota Forum dan diskusi dengan perwakilan desa-desa di sekitar KEE LBMS. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun pemahaman tentang potensi dan tantangan, serta membangun sinergi dan komunikasi guna mengelola KEE LBMS ke depannya.

Integrasi kegiatan para pihak tingkat kabupaten dan tingkat desa di sekitar KEE LBMS perlu dibangun guna mendukung pencapaian misi ke 5 Kabupaten Kutai Timur, yaitu: “Mewujudkan Sinergi Pengembangan Wilayah dan Integrasi Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan

OPD yang terlibat untuk kegiatan tanggal 8 – 12  November 2021, yakni Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kutai Timur, dan KPHP Kelinjau. Untuk pertemuan di Kecamatan Long Mesangat, telah dilaksanakan pada tanggal 9 November 2021 di Desa Segoy Makmur. Pertemuan dihadiri oleh Kepala Desa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), perwakilan pekebun dan nelayan dari 6 desa, pertugas PPL, pendamping desa, staff kecamatan, Kepolisian dan perusahaan.

Guna membangunan perkebunan berkelanjutan, Ir. Didik Prayitno M.Sc. mewakili Dinas Perkebunan secara khusus menyampaikan pemaparan tentang Peraturan Menteri Pertanian No. 38 Tahun 2020 yang mewajibkan sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) pada tahun 2025 mendatang, bagi pekebun swadaya, yang semula kewajiban hanya bagi perusahaan. Pengembangan perkebunan ramah lingkungan tentu akan berkontribusi dalam menjaga keberadaan lahan basah sebagai pusat perikanan dan habitat bagi hidupan liar lainnya. Banyak hal yang perlu disiapkan, sementara tahun 2021 sudah hampir berakhir, namun belum ada upaya yang cukup berarti untuk kesiapan penerapan sertifikasi ISPO bagi petani swadaya.

DKP yang diwakili oleh Fitriullah, SPi. MSi. turut menyampaikan potensi-potensi pengembangan perikanan budidaya dan perikanan tangkap di sekitar lahan basah yang bisa dipadukan dengan pengembangan tujuan wisata. Untuk mengelola perikan secara berkelanjutan, nelayan didorong untuk menggunakan alat tangkap tradisional yang ramah lingkungan, sebaliknya penggunaan alat tangkap seperti setrum akan berdampak pada menurunnya cadangan ikan alami yang juga akan menurunkan potensi-potensi untuk sumber ekonomi lainnya termasuk potensi pengembangan wisata lahan basah. Menurutnya, hasil penelitian para ahli, dampak dari terkena setrum, setelah hari ke 3 ikan baru mau memakn unpan pancing, karena ikan mengalam stress. Bahkan ikan kecil akan mengalami kematian sehingga menyebabkan tangkapan selanjutnya akan berkurang.

Pada kesempatan yang sama, dari DKP memberikan pelatihan budidaya ikan dan cara membuat pakan alternatif dari debog pisang yang difermentasi. Pelatihan ini memberikan peningkatan kapasitas bagi masyarakat yang telah memiliki kolam ikan, tetapi masih belum maksimal dalam melakukan budidaya. Sedangkan, pembuatan pakan alternatif memberikan solusi atas mahalnya pakan ikan yang dijual di pasaran. Melalui interaksi ini, masyarakat mendapat penjelasan dalam pengajuan proposal melalui desa untuk mendapat pembinaan dari DKP maupun prosedur online untuk mendapatkan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

KPH Kelinjau yang wilayah kerjanya tidak meliputi kecamatan Long Mesangat, berbagi informasi kemungkinan kerja sama dengan KPH Bengalon untuk mendapatkan bibit pohon dalam upaya restorasi di sekitar lahan basah di Kecamatan Long Mesangat.

Pertemuan di kecamatan Muara Ancalong telah dilaksanakan pada tanggal 11 November 2021 di Kelinjau Ulu. Dengan komposisi peserta yang kurang lebih sama, dihadiri oleh perwakilan dari 3 desa, Kelinjau Ulu, Kelinjau Tengah dan Kelinjau Ilir. Penyampaian aspirasi dari nelayan tangkap tradisional tentang perlunya tindakan terhadap pelaku penyetruman.

Tim juga berkesempatan mengunjungi Loa Putih dan berdiskusi dengan Kepala Desa Kelinjau Tengah. Sejak kunjungan dari Dinas Pariwisata pada bulan Agustus 2021, desa telah menginisiasi pembersihan dan penataan Loa Putih untuk menjadi tujuan wisata. Dinas Pariwisata sudah mulai mempromosikan Loa Putih sebagai tujuan wisata. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga telah melakukan kunjungan lapangan dan akan melakukan normalisasi Loa Putih agar dapat dikembangakan menjadi tujuan wisata dan pusat budidaya ikan.

Tim OPD menjajal menjadi wisatawan lokal dengan menggunakan perahu di sekitar Loa Putih dan bersantai di pondok yang telah disiapkan oleh Desa Kelinjau Tengah. Selain itu, juga berkunjung ke lahan basah Suwi untuk mengunjungi potensi wisata di Loa Bekara sekaligus berdiskusi dengan nelayan.(ml)

Pelatihan budidaya ikan dan pembuatan pakan alternatif
Pelatihan budidaya ikan dan pembuatan pakan alternatif

 

Dialog Para Pihak dari Tentang ISPO dan Pelatihan Budidaya Ikan
Dialog Para Pihak dari Tentang ISPO dan Pelatihan Budidaya Ikan

 

 

Burung Unik di Lahan Basah Mesangat-Suwi

Burung Unik di Lahan Basah Mesangat-Suwi

Burung mempunyai peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam, terutama rantai makanan. Setiap jenisnya sangat beragam, karena mempunyai ciri khasnya sendiri. Melalui keanekaragaman burung, dapat menjadi sebuah tanda atau indikator akan kualitas lingkungan.

Beberapa peran ekologi burung dalam ekosistem, yakni membantu dalam penyerbukan secara alami, penyebar biji, dan pengendali hama. Berikut tiga jenis burung yang terdapat di Lahan Basah Mesangat-Suwi.

Kangkareng Perut Putih, Punya Peran Besar Dalam Ekosistem

            Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros albirostris) termasuk dalam familia Bucerotide atau umumnya sering disebut Rangkong. Rangkong paling sering dijumpai daripada Kangkareng hitam di lahan basah.

Kangkareng mempunyai peran dalam proses regenerasi vegetasi hutan, salah satunya dalam penyebaran biji tumbuhan tropis. Persebarannya cukup luas, yakni India, Myanmar, Indonesia, Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Thailand. Sementara di Indonesia tersebar di daerah Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa.

Burung ini banyak ditemukan pada perpohonan yang tinggi, mempunyai diameter besar, hingga berada pada daerah hutan yang luas. Jenis pepohonan yang menjadi sarangnya, meliputi Eugenia, Ficus, Dipterocarpus, Sterculia, dan masih banyak lagi.

Habitatnya banyak dijumpai pada hutan primer yang ekosistemnya masih terjaga dengan baik. Kangkareng Perut Putih umumnya ditemukan bertengger secara berkelompok maupun berpasangan. Waktu terbaik untuk bertengger, biasanya pada pagi dan siang menjelang sore hari.

Kangkareng Perut Putih lebih sering memakan buah-buahan, tetapi tidak jarang mereka memangsa serangga, ikan, kadal, dan katak.  Burung ini mempunyai ciri tubuh yang berukuran 55 – 60 cm. Paruhnya akan terbentuk setelah memasuki usia 1 – 2 bulan.

Burung ini membutuhkan waktu inkubasi selama 79 – 89 hari. Saat musim berkembang biak, sang betina akan mengerami telur yang biasanya akan dikurung di dalam lubang pada batang pohon. Nantinya, akan disisakan sedikit lubang yang cukup agar sang jantan dapat memberikan makan kepada betina. Sang jantan akan berkunjung untuk memberi pakan ke sarang berupa buah-buahan atau binatang kecil.

Penutup sarang dibuat menggunakan lumpur dan campuran sisa makanan. Ketika menetas, betina akan memecahkan penutupnya, lalu menutupnya kembali sampai burung muda sudah siap untuk terbang. Sayangnya, keberadaan Kangkareng Perut Putih semakin terancam akibat perdagangan bebas di pasar burung seperti Thailand dan Myanmar.

Bangau Tong-tong, Spesies Burung Lahan Basah yang Terancam Punah

            Bangau Tong-tong atau (Leptoptilos javanicus) salah satu satwa dilindungi yang mempunyai ciri khas, yaitu kepalanya yang botak. Warna bulunya didominasi dengan hitam dan putih. Sementara paruhnya berwarna kuning hingga coklat muda.

Persebaran Bangau Tong-tong dapat dijumpai pada beberapa wilayah di Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok. Sayangnya, populasi burung ini semakin terancam akibat degradasi habitat hingga konversi lahan.

Lahan basah menjadi salah satu tempat untuk mencari makan maupun beristirahat. Untuk pakannya sendiri, berupa ikan kecil, belalang, dan katak. Lahan basah yang digunakan berupa area terbuka, seperti rawa, mangrove, tambak, hingga hutan dataran rendah.

Bangau Tong-tong termasuk satwa yang hidupnya soliter atau tidak berkelompok. Akan tetapi, saat musim berkembang biak mereka akan membentuk sebuah koloni. Setiap betina bisa menghasilkan 3 – 4 butir telur.

Telur yang dihasilkan, biasanya akan menjadi sasaran empuk bagi para predator. Untuk melindungi telurnya, Bangau akan memberikan perlawanan dengan cara mengepakkan sayap atau membunyikan paruh sambil mengatupkan paruhnya berkali-kali.

Belibis Kembang, Burung Bernilai Ekonomis Tinggi

            Belibis kembang (Dendrocygna arcuata) umumnya banyak dijumpai pada daerah rawa, sekitar danau pegunungan, hingga area tambak dekat pantai. Persebaran burung ini hampir seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sekilas, burung Belibis hampir menyerupai bebek karena mempunyai selaput kaki. Kemampuan berenangnya sangat cepat, tetapi akan sangat lamban ketika sedang berjalan.

Belibis terkenal sebagai hewan pengembara, artinya suka berpindah-pindah tempat. Setiap sarang Belibis Kembang dapat berisi 9 butir telur. Anaknya yang telah menetas sudah pandai berenang, kemudian akan meninggalkan sarang bersama induknya untuk mencari makan. Biasanya Belibis akan memangsa binatang kecil yang terdapat di air, tanaman air, hingga biji-bijian sebagai makanannya.

Burung Belibis juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Dagingnya dapat dikonsumsi karena terkenal akan kelezatannya. Hal inilah yang dapat menyebabkan, tingkat permintaannya semakin bertambah. Dampaknya, populasi burung belibis semakin merosot hingga terancam punah.

Mari jaga keberadaan burung-burung tersebut dan menjaga lahan basah sebagai tempat hidup bagi hidupan liar maupun pendukung kehidupan bagi kita sekarang dan generasi mendatang.

 

Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus)
Belibis kembang (Dendrocygna arcuata)
Inisiasi Pengelolaan KEE Lahan Basah Mesangat Suwi

Inisiasi Pengelolaan KEE Lahan Basah Mesangat Suwi

Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) adalah ekosistem di luar kawasan suaka alam atau kawasan pelestarian alam yang secara ekologi, sosial dan ekonomi penting untuk menunjang kelangsungan kehidupan bagi kesejahteraan masyarakat, serta mutu kehidupan manusia yang ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi untuk upaya konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, “Pengelolaan kawasan bernilai ekosistem penting dan daerah penyangga kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam dilaksanakan oleh pemerintah daerah.” Menindak lanjuti pengusulan LBMS untuk dikelola sebagai KEE dan atas arahan dari dirjen KSDAE, Bupati Kutai Timur menerbitkan SK Bupati Kutai Timur Nomor: 031/K.677/2016 tentang Pembentukan Forum Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial lahan Basah Mesangat Suwi (KEE LBMS).  Para pihak dalam forum juga telah melakukan verifikasi lapangan pada bulan November 2016 dan menghasilkan peta indikatif KEE LBMS dengan luas 13.570 ha. Rencana aksi kawasan ekosistem esensial lahan basah Mesangat-Suwi telah disusun oleh sebagian anggota forum pengelolaan KEE dan telah dibahas bersama KSDAE pada bulan Februari 2019. Namun, belum mencakup keterlibatan semua anggota forum.

Program “Penguatan Pengelolan Kolaboratif Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat Suwi sebagai Habibat Buaya Siam (Crocodylus Siamensis) dan Bekantan (Nasalis larvatus) di Kabupaten Kutai Timur” mulai dilaksanakan sejak April 2021 sampai dengan Maret 2024. Program yang dikoordinir oleh Konsorsium Yasiwa dan Yayasan Ulin, meliputi empat sasaran program, yaitu 

  1. Mengoptimalkan peran dan keterlibatan forum dalam mengelola KEE LBMS. Untuk mencapai sasaran ini, maka perlu dibangun pemahaman dan komitmen para pihak. Rapat forum akan dilaksanakan 2 kali setahun. Dari rapat forum ini diharapkan bisa menjadi wadah untuk berkomunikasi,  berkolaborasi dan integrasi perencanaan para pihak.  Hasil-hasil kajian yang dilakukan oleh para pakar mengenai lahan basah juga akan dipaparkan kepada anggota forum untuk membangun pemahaman bersama. Selain itu, selama berjalannya program anggota forum akan dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di lapangan, sehingga anggota forum tidak hanya memiliki pemahaman dari hasil pemaparan, tetapi juga dari keterlibatan dalam kegiatan di lapangan. Dengan demikian diharapkan nantinya para pihak dapat berkontribusi dan berkomitmen untuk pengelolaan KEE LBMS secara kolaboratif. 
  2. Pengumpulan informasi dasar yang lebih komprehensif aspek ekologi, sosial dan hidrologi oleh tenaga ahli sebagai dasar untuk menyusun rencana pengelolaan dan panduan dalam mengelola habitat yang merupakan sasaran ke 3 program ini. Sejauh ini belum dilakukan kajian yang cukup mendalam tentang kondisi sosial-ekonomi masyarakat, sehingga diperlukan data, kondisi sosial masyarakat, dan persepsi masyarakat terhadap lahan basah. Dengan mengetahui kondisi aktual dan minat masyarakat, diharapkan bisa dibuat perencanaan program-program pengembangan masyarakat yang sesuai. Selanjutnya, data dasar mengenai keragaman hayati, meliputi buaya dan bekantan. Untuk bisa mengelola, lahan basah menjadi habitat bekantan dan buaya dalam jangka panjang. Perlu mengetahui di mana buaya bersarang, serta bagaimana buaya dan bekantan berkembang biak. Artinya, dari pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai panduan untuk mengelola habitat. 
  3. Penyusunan Rencana Pengelolaan KEE Lahan Basah Mesangat Suwi yang lebih terintegrasi dari berbagai aspek diperlukan untuk memastikan perlindungan wilayah, pengawetan kehati, pemulihan ekosistem dan pemanfaatan berkelanjutan untuk jangka Panjang.  Panduan Pengelolaan Habitat Buaya Badas dan Panduan Pengelolaan Habitat Bekantan yang nantinya dapat digunakan bagi siapapun yang akan berkontribusi mengelola KEE LBMS.

Penguatan pengelolaan berbasis masyarakat dikembangkan melalui pelatihan dan pendampingan pemerintah desa-desa di sekitar lahan basah dalam perencanaan wilayah, dan pengelolaan sumber daya alam yang terintegrasi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) yang sedang dilaksankan oleh pemerintah. Melalui sasaran ini, dimaksudkan untuk meningkatkan manfaat lahan basah bagi kehidupan masyarakat dalam aspek ekonomi, sosial maupun ekologi yang berimbang. Dalam penyusunan tata ruang desa, terkait dengan NKT perusahaan sawit yang berada dalam wilayah desa, sesuai dengan ketentuan dalam program Kaltim Hijau, semestinya bisa dikelola bekerja sama dengan masyarakat. Ini akan memberikan nilai tambah bagi kinerja CSR dan pengelolaan lingkungan perusahaan. Dari keempat aspek itulah, menjadi sasaran program yang diharapakan setelah tiga tahun kedepan, baik desa-desa, satuan kerja pemerintah, dan anggota forum lainnya agar memiliki program yang terintegrasi untuk berkontribusi mengelola lahan basah dalam jangka panjang.(ml)

 

Verifikasi lapangan oleh para pihak. Foto: Yasiwa
Verifikasi lapangan oleh para pihak. Foto: Yasiwa
Jaga Sumber Daya Ikan, Nelayan Suwi Indah Pakai Alat Tangkap Tradisonal

Jaga Sumber Daya Ikan, Nelayan Suwi Indah Pakai Alat Tangkap Tradisonal

Jaga Sumber Daya Ikan, Nelayan Suwi Indah Pakai Alat Tangkap Tradisonal

Tersedianya sumber daya ikan yang berlimpah sangat membantu nelayan dalam perekonomian. Sayangnya, semakin meningkat kebutuhan hidup membuat sebagian orang ingin meraup keuntungan dengan cara yang instan. Contohnya, menangkap ikan dengan menggunakan alat setrum. Aktivitas penangkapan seperti ini, tidak hanya merugikan generasi ikan berikutnya, melainkan lambat laun juga mematikan mata pencaharian. Mengapa demikian? Pada saat menyetrum, sudah pasti bukan beberapa ikan saja yang akan mati, tetapi ikan kecil hingga telurnya pun ikut mati. Bayangkan, bila kegiatan ini berlangsung setiap harinya. Tentu, 5 – 10 tahun ke depan ikan telah habis. 

Oleh karena itu, menjaga kelestarian ikan dengan menggunakan alat tangkap tradisonal lebih bersifat ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap perairan maupun satwa di sekitar sungai. Salah satunya, para nelayan Suwi Indah yang masih menggunakan alat tangkap ikan secara tradisional.  

Dengan tujuan, agar sumber daya ikan tetap terjaga bagi generasi yang akan datang. Selain menggunakan alat tangkap tradisonal, mereka juga mencegah adanya kelompok lain yang menggunakan alat setrum. Menariknya lagi, kelompok nelayan Suwi Indah memiliki 11 alat tangkap ikan tradisonal. Lalu, apa saja nama alat-alat tangkap tersebut?

Juluk

Juluk atau disebut juga perangkap ikan tutup sungai. Panjang perangkat sekitar 8 meter dan dipasang melintang dari sisi kiri dan kanan sungai. Alat tangkap ikan ini terbuat dari kain rimpa yang mampu menangkap semua jenis ikan tanpa perlu menggunakan umpan.

Rawai

Selanjutnya, rawai merupakan alat pancing yang terbuat dari tali yang dikaitkan pada sebuah batang bambu dan ditancapkan di pinggir sungai. Setiap mata pancing memiliki ukuran yang berbeda, tergantung jenis ikan yang ingin ditangkap. Misalnya, ikan baung menggunakan mata pancing nomor 10, nomor 12 untuk ikan haruan, dan nomor 6 untuk toman. Begitu pula umpannya, untuk haruan dan baung membutuhkan potongan ikan yang masih segar. Sedangkan, toman menggunakan ikan lele hidup sebagai umpannya. 

Legu

Alat tangkap tradisional ini digunakan untuk mengambil ikan baung yang terjerat pada rawai. Biasanya, saat rawai diangkat ikan akan memberontak dan sulit untuk ditangkap. Adanya legu, memudahkan menangkap ikan agar tidak mudah terlepas.

Rengge

Rengge merupakan jala yang dipasang atau melintang secara vertikal di tepi sungai. Alat ini biasanya menangkap ikan biawan, lepok, haruan, baung, dan toman. Sementara itu, ikan biawan yang telah terjerat tidak dapat bertahan lama karena tidak bisa mengambil oksigen. Namun, anak buaya pun dapat tersangkut pada rengge saat memangsa ikan yang terjerat.

Langi-langi

Bentuknya menyerupai rengge. Bedanya, alat ini dipasang pada tepi sungai secara horizontal di permukaan air. Langi-langi khusus digunakan untuk menangkap ikan biawan. Saat terjerat ikan biawan akan tetap hidup karena dapat mengambil oksigen di permukaan air. 

Bu

Alat yang terbuat dari bambu ini memiliki ukuran yang bervariasi. Biasanya digunakan untuk menangkap ikan haruan. Cara kerja alat tangkap ini diletakkan pada dasar sungai yang cenderung dangkal, sejajar, dan berlawanan dengan arus air. Dengan begitu, ikan yang berenang mengikut arus air akan terperangkap masuk.

Tempirai

Tempirai terbuat dari kawat ram dengan mata berukuran 1 cm yang digunakan khusus untuk menangkap ikan-ikan kecil. Hasilnya, ikan akan dipakai menjadi umpan rawai. Jenis ikan yang didapat berupa ikan puyau dan kelebere. 

Ancau

Ancau merupakan jaring dengan bingkau bambu yang berukuran hampir 2 x 2 meter. Ancau juga digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil. Dari hasil tangkapan tersebut, digunakan sebagai umpan atau pakan ikan yang disimpan dalam keramba. 

Jala 

Jala termasuk alat tangkap ikan tradisonal yang banyak digunakan para nelayan. Biasanya, di lahan basah Suwi, jala digunakan untuk menangkap ikan kecil yang akan dijadikan umpan ikan baung. 

Tamba atau Jebba

Terakhir, tamba terbuat dari kawat ram dengan bingkai kayu maupun tanpa bingkai. Memiliki ukuran 125 x 50 x 50 cm digunakan untuk menjerat ikan baung. Uniknya, tamba menggunakan umpan ikan busuk yang diletakkan di bawah permukaan air. Hasil tangkapan bukan hanya berupa ikan, melainkan ular juga terperangkap karena memangsa ikan yang ada di dalam tamba atau jebba. 

Terdapat pula ikan-ikan yang memiliki nilai ekonomis di antaranya, ikan patin (Pangasius hypophthalmus), ikan baung (Mystus micracanthus), ikan toman (Channa micropeltes), ikan haruan (Channa striata), dan ikan biawan (Helostoma temminckii). Tidak semua jenis ikan bisa didapatkan pada musim yang sama. Seperti ikan biawan yang umumnya melimpah setelah banjir cukup lama dan air mulai menurun. Dari hasil tangkapan tersebut, kelompok nelayan Suwi Indah biasanya tidak menjualnya dalam keadaan segar karena harga yang didapat cenderung lebih murah. Mereka memilih mengolahnya menjadi ikan asin yang akan dijual kemudian.

 

Hasil tangkapan ikan biawan oleh anggota Kelompok Nelayan Suwi Indah pada bulan Juli 2021 (foto: Nur Linda/Yasiwa)
Hasil tangkapan ikan biawan oleh anggota Kelompok Nelayan Suwi Indah
pada bulan Juli 2021 (foto: Nur Linda/Yasiwa)

 

Tangkapan ikan baung dan ikan toman oleh anggota Kelompok Nelayan Suwi Indah pada tahun 2017 (Foto: Amat)
Tangkapan ikan baung dan ikan toman oleh anggota Kelompok Nelayan Suwi Indah pada tahun 2017 (Foto: Amat)

 

Hasil tangkapan ikan patin pada tahun 2018 oleh anggota Kelompok Nelayan Suwi Indah (Foto:Nur Linda/Yasiwa)
Hasil tangkapan ikan patin pada tahun 2018
oleh anggota Kelompok Nelayan Suwi Indah (Foto:Nur Linda/Yasiwa)

 

 

Awal Sebuah Perjalanan : Observasi Lahan Basah Mesangat-Suwi

Awal Sebuah Perjalanan : Observasi Lahan Basah Mesangat-Suwi

Sebagai seseorang yang menyukai kehidupan alam, sudah pasti kegiatan di luar rumah adalah hal yang begitu mengasyikkan. Setiap minggu, saya tidak pernah absen untuk mengunjungi pantai ataupun mengeksplorasi tempat baru. Tapi, perjalanan kali ini jelas berbeda. Lantas, apa yang berbeda dari perjalanan sebelumnya?

Perjalanan saya biasanya hanya menikmati indahnya alam ataupun sekadar menghilangkan penat setelah berhari-hari menatap laptop. Kali ini saya memulai perjalanan sekaligus observasi mengenai Lahan Basah Mesangat-Suwi (LBMS). Apakah terdengar asing? Bagi saya, seorang lulusan Linguistik Sastra Indonesia, tentu sangat bertolak belakang. Akan tetapi, saya ingin mengalahkan rasa cemas itu dan mencoba hal baru. Hal ini, jelas membuat saya keluar dari zona nyaman.

Sebelumnya, saya sudah mendapat banyak sekali gambaran mengenai LBMS. Namun, gambaran itu masih terasa samar, karena saya tidak melihat langsung kondisi lingkungan di sana. Tepat tanggal 9 Juli, saya mendapat kesempatan untuk melakukan observasi tersebut. Perjalanan pun dilakukan bersama Tim Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin dan peneliti dari Balitek (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumber daya Alam)

Dari Samarinda menuju Desa Kelinjau Ulu membutuhkan waktu tempuh berkisar 5 – 6 jam. Lama perjalanan ditentukan bagaimana kondisi medan yang akan dilalui. Benar saja, meski kondisi jalan sedikit licin. Bermodal transportasi darat, kami tetap bisa melewatinya hingga sampai di Desa Kelinjau. 

Apa Itu Lahan Basah?

Lahan basah merupakan salah satu aset lingkungan yang penting. Mengapa demikian? Karena terdapat banyak sekali jenis burung dan satwa endemik yang bisa menjadi daya tarik untuk tujuan ekowisata. Memiliki keragaman hayati yang terancam punah, seperti buaya badas hitam (Crocodylus Siamensis), bekantan (Nasalis Larvatus), biuku (Orlitia Borneensis), bangau tongtong (Leptoptilos Javanicus), dan terdapat pula beragam jenis ikan dan satwa lainnya.

Banyak sekali manfaat dari lahan basah, terutama bagi warga lokal yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Sementara bagi satwa merupakan tempat berkambang biak dan bertahan hidup. Untuk itu, peran setiap individu sangat penting untuk menjaga lahan basah tersebut. Efek positif yang akan dinikmati tidak hanya untuk manusia, tetapi membantu keberlangsungan hidup para satwa.

Perjalanan Menuju Lahan Basah Mesangat-Suwi

Lahan basah Mesangat terletak di Kecamatan Long Mesangat, terdiri dari danau Mesangat dan daerah limpasan air, serta sungai di sekitarnya. Lahan basah Mesangat merupakan habitat asli bagi buaya badas hitam (Crocodylus Siamensis). Buaya air tawar ini biasanya berada di sekitar rawa terbuka yang sebagain tertutup vegetasi terapung dan kemudian membangun sarang di atasnya. Buaya badas hitam sebagain besar mencari ikan sebagai makanannya. Oleh karena itu, nelayan meyakini di rawa yang banyak ikan, terdapat pula buaya di sana. 

Mesangat menjadi tujuan pertama untuk dilakukannya observasi. Membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menuju ke sana. Melihat hijaunya pohon-pohon dan angin yang berdesir. Semacam obat penenang rasanya, sesekali meninggalkan suasana perkotaan yang begitu padat dan bising. Bahkan, perjalanan semakin terasa singkat, karena saya begitu menikmatinya.

Terdapat dua rakit milik Pak Iwan (Staff Yayasan Ulin) yang bisa dijadikan tempat tinggal sementara. Sembari menyiapkan makan siang, saya juga bertukar kisah dengan Beliau. Salah satunya mengenai kondisi lahan basah Mesangat-Suwi yang menjadi tempat untuk mencari ikan bagi nelayan. Banyak sekali jenis ikan yang terdapat di Mesangat, tetapi hanya biawan (Helostoma Temminckii), toman (Channa Micropeltes) dan haruan (Channa Striata) saja yang saya temui. Bahkan, sesekali burung kuntul kecil (Egretta Garzetta) juga ikut menambahkan keindahan di sini. 

Menariknya, relasi antar anggota tim semakin terbangun. Dari yang awalnya tidak saling mengenal, hingga saling bertukar cerita. Rasanya, jauh dari keramaian dan teknologi memang benar-benar merekatkan hubungan satu sama lain. Ditambah sejuknya angin sore, terus membuat kami tidak ingin beranjak. Hari itu, kami bermalam di Mesangat, ditemani dengan hembusan angin malam dan kunang-kunang yang menerangi setiap sudut rakit. Hampir tak terasa, sudah beranjak pagi dan harus bersiap ke tujuan selanjutnya. 

Sebagai tempat kunjungan kedua, lahan basah Suwi yang terletak di Kecamatan Muara Ancalong. Kali ini,  hanya sekadar berkunjung sembari observasi. Perjalahan ke Suwi sedikit lebih lama, yaitu sekitar 1,5 jam. Seolah-olah terhipnotis keindahan alam yang begitu memanjakan mata, bahkan perjalanan tidak terasa begitu lama. Banyak satwa yang dijumpai, mulai dari burung pekaka emas (Pelargopsis Capensis), pecuk ular asia (Anhinga Melanogaster), dan enggang perut putih (Anthracoceros albirostris), serta monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis), hingga lutung (Presbytis Cristata). Terdapat pula 38 jenis ikan, seperti lais (Kryptopterus lais), lepo (Ompok Bimacultas), baung (Mystus Micracanthus), hingga jenis yang dilindungi, yaitu belida (Notopterus sp.)

Dengan begitu, banyak sekali nelayan yang masih mencari ikan di lahan basah Suwi. Bahkan, ada keluarga yang secara temurun menetap atau tinggal di rakit dan berprofesi sebagai nelayan penuh. Biasanya, hasil tangkapan pun langsung dijual dalam keadaan segar atau sudah diolah menjadi ikan asin. Di samping itu, kelompok nelayan Suwi juga berperan dalam menjaga lahan basah. Salah satunya, melarang adanya penggunaan setrum untuk ikan dan berburu bekantan. 

Sayangnya, saat datang hingga pulang, para bekantan belum menujukkan dirinya. Tidak masalah, masih akan ada banyak kesempatan lainnya. Dari hasil observasi mengenai lahan basah Mesangat-Suwi, banyak sekali hal-hal yang didapatkan. Mulai dari gambaran akan kondisi lahan basah dan beberapa kisah yang dapat digali lebih dalam, terutama dituangkan dalam penulisan feature. Hal ini, mengenai peran penting para nelayan yang berkontribusi secara langsung dalam menjaga lahan basah (Marianne Long Luhau). 

 

burung kuntul kecil (Egretta Garzetta) Foto: Nur Linda/Yasiwa
Burung kuntul kecil (Egretta Garzetta) Foto: Nur Linda/Yasiwa
Lahan Basah Mesangat-Suwi

Lahan Basah Mesangat-Suwi

Berdasarkan Konvensi Ramsar, lahan basah adalah daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan; tetap atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir; tawar, payau atau asin: termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu surut. Ada tiga tipe lahan basah, yaitu lahan basah pesisir dan laut, lahan basah daratan, dan lahan basah buatan.

Lahan basah memiliki keanekaragaman hayati yang retalif tinggi dibanding ekosistem yang lainnya, karena merupakan kombinasi antara ekosistem perairan dan daratan. Dalam dokumen Startegi Nasional dan Rencan Aksi Pengelolaan Lahan Basah Indonesia, teridentifikasi 22 manfaat lahan basah yang penting, baik secara ekonomi, ekologi maupun sosial, diantaranya:

  1. Secara ekonomi, lahan basah menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat. Menyediakan bahan makanan maupun kebutuhan sumber daya alam lainnya. Di samping itu, lahan basah berfungsi sebagai sumber pengairan utama berbagai kegiatan pertanian, terutama sawah.
  2. Dari segi ekologi, lahan basah berperan dalam silklus hidrologi, siklus hara dan mengendalikan iklim mikro dan iklim global. Lahan basah juga memiliki fungsi sebagai tempat pengembangbiakan, pemeliharaan, pembesaran, dan tempat mencari makan bagi banyak jenis satwa.
  3. Secara sosial, lahan basah memiliki keunikan tradisi, dan warisan budaya local yang khas.  

Manfaat-manfaat tersebut penting untuk menunjang kelangsungan kehidupan bagi kesejahteraan masyarakat. Kendati demikian, lahan basah sering dianggap sebagai lahan marginal yang kurang bermanfaat. Padahal, tanpa campur tangan manusia lahan basah sudah melakukan fungsinya masing-masing. Pemanfaatan dan perlindungan lahan basah pun sudah tertulis dalam Peraturan Pemerintah, yaitu PP No. 27 Tahun 1991 Tentang Rawa dan PP No. 38 Tahun 2011 Tentang Sungai. Tetapi tetap saja banyak lahan basah dikonversi menjadi bebagai macam penggunaan lahan. Salah satunya, yaitu banyak dijadikan perkebunan sawit, sehingga lahan basah di sekitarnya ikut terdampak mengalami kerusakan akibat pengeringan.

Potensi Lahan Basah

Kalimantan Timur memiliki banyak lahan basah, di antaranya Lahan Basah Mesangat-Suwi (LBMS) yang berada di Kecamatan Muara Ancalong dan Long Mesangat, Kabupaten Kutai Timur.  Di Lahan basah Mesangat Suwi terdapat banyak jenis satwa dan tumbuhan. Sejauh ini, telah teridentifikasi 93 jenis burung, 56 jenis ikan, 13 jenis mamalia, dan 12 jenis reptil, serta 64 jenis tumbuhan. Jenis-jenis yang dilindungi, di antaranya buaya siam atau buaya badas hitam (Crocodylus siamensis),  bekantan (Nasalis larvatus), bangau storm (Ciconia stormi) dan banyak jenis burung air lainya. Lahan Basah Mesangat merupakan satu-satunya habitat alami bagi buaya siam yang masih alami di dunia, sehingga menjadi perhatian nasional maupun internasional untuk dikelola secara benar. 

Lahan Basah Mesangat-Suwi sejak lama menjadi sumber perikanan dan sumber mata pencaharian yang penting bagi masyarakat sekitarnya. Maka dari itu, perlu dijaga untuk ketahanan pangan, ketahan sosial dan ekonomi lokal. Melihat kekayaan alam yang dimiliki, lahan basah Mesangat-Suwi berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat perikanan air tawar, tujuan wisata alam, wisata pendidikan, dan penelitian. Sebagai bagian dari sub DAS Kedang Kepala yang bermuara ke Sungai Mahakam, LBMS berperan penting untuk mengendalikan banjir bagi area Mahakam hilir.

Dengan melihat potensi besar dan ancaman tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, bersama para pihak mengusulkan agar lahan basah Mesangat-Suwi dapat dikelola sebagai KEE (Kawasan Ekosistem Esensial) untuk mempertahankan fungsi lahan basah tersebut.  Sebagai tindak lanjutnya, Bupati Kutai Timur membentuk Forum Pengelolaan KEE LBMS pada tahun 2016.

Sebagai anggota forum, Yasiwa dan Yayasan Ulin membentuk konsorsium untuk memfasilitasi forum dalam mengajukan pendanaan kepada TFCAK (Tropical Forest Conservation Act Kalimantan). Pendanaan tersebut untuk melaksanakan program “Penguatan Pengelolan Kolaboratif Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat Suwi sebagai Habibat Buaya Siam (Crocodylus Siamensis) dan Bekantan (Nasalis larvatus) di Kabupaten Kutai Timur”, untuk periode April 2021- Maret 2024. Program tersebut telah disosialisasikan kepada Perangkat Desa di desa-desa Kecamatan Muara Ancalong dan Long Mesangat.

Pada Rapat Forum yang akan dilaksanakan tanggal 6 Juli 2021 mendatang, akan dilaksanakan penandatanganan Kesepakatan Parapihak untuk Pengelolaan KEE Lahan Basah Mesangat Suwi. Bupati mendukung rencana tersebut karena akan berkontribusi pada pencapai Misi Bupati yang ke 5, yaitu “Mewujudkan Sinergi Pengembangan Wilayah dan Integrasi Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan”.

 

Bekantan remaja yang dijumpai di Lahan Basah Suwi, mengindikasikan adanya perkembang biakan
Bekantan remaja yang dijumpai di Lahan Basah Suwi, mengindikasikan adanya perkembang biakan

 

Ikan biawan, haruan, patin, baung, dan lepok, merupakan jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis
Ikan biawan, haruan, patin, baung, dan lepok, merupakan jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis

 

Ikan biawan, haruan, patin, baung, dan lepok, merupakan jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis
Ikan biawan, haruan, patin, baung, dan lepok, merupakan jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis

 

 

Perkenalan staf konsorsium dan sosialisasi di desa Melan, Kecamatan Long Mesangat
Perkenalan staf konsorsium dan sosialisasi di desa Melan, Kecamatan Long Mesangat

 

Perkenalan staf konsorsium dan sosialisasi di desa Melan, Kecamatan Long Mesangat
Perkenalan staf konsorsium dan sosialisasi di desa Melan, Kecamatan Long Mesangat