Mengenal Burung Sikatan Melayu (Cyornis turcosus)

October 30, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Malaysian blue flycatcher atau sikatan melayu (Cyornis turcosus) adalah spesies burung dari keluarga Muscicapidae. Burung ini dikenal memiliki kicauan yang lembut dan merdu. Volume kicauannya tidak terlalu tinggi dengan tempo sedang. Irama kicauan berbunyi naik-turun secara beraturan, mengalun lambat, dan terdengar sendu.

            Nada kicauan sendu terdengar, seperti “didel-didel-dii-didel-dii.” Ketika merasa terancam, biasanya akan mengeluarkan suara peringatan yang keras. Nada peringatan terdengar, seperti “crrk,” dengan volume tinggi.  

            Tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Habitat aslinya berada di hutan-hutan dataran rendah pada ketinggian 800 meter dari permukaan laut (mdpl), hutan kering, hutan rawa di dekat aliran air, dan sungai. Sayangnya, populasi sikatan melayu kian menipis akibat rusaknya habitat asli, alih fungsi hutan, dan perburuan liar yang membuat burung ini masuk ke dalam status Hampir Terancam Punah (NT).

            Sikatan melayu kerap kali terlihat sendiri ataupun berpasangan ketika mencari makan. Spesies ini memakan serangga dan invertebrata (hewan tidak bertulang belakang). Ukuran tubuhnya kecil dengan panjang sekitar 13 cm. Bila dilihat sekilas, jantan dan betina memiliki kemiripan. Namun, keduanya dapat dibedakan dari penampilan dan warna bulunya.

            Pada burung jantan, tubuh bagian atas berwarna biru, kekang hitam, dan tunggir biru mengilap atau metalik. Pada bagian dada berwarna merah bata dengan gradasi putih dibagian perutnya. Sementara betina dapat dibedakan dari warna putih pada tenggorokan dan dagunya, serta warna biru yang lebih pucat. Terdapat lingkar mata berwarna kuning tua pada burung betina. Selain itu, kaki dan paruh berwarna kehitaman dengan iris mata cokelat. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml).

Burung Sikatan Melayu (Cyornis turcosus) betina di Lahan Basah Mesangat, dengan warna dagu dan tengghorokan keputihan. Foto: Ngareng-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin.
Burung Sikatan Melayu (Cyornis turcosus) betina di Lahan Basah Mesangat, dengan warna dagu dan tengghorokan keputihan. Foto: Ngareng-Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Pengelolaan Website Desa: Langkah Strategis Menuju Transformasi Digital
Rencana Strategis Yasiwa
Rencana Strategis Yasiwa
Merajut Komunikasi Untuk Pengelolaan KEP LBMS

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020