Monitoring Satwa Liar dengan Kamera Jebak (Kamera Trap) Di Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Suwi (KEE LBS)

February 28, 2023

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Camera Trap (CT) atau kamera jebak merupakan jenis kamera yang dilengkapi sensor gerak dan sensor panas dan atau termal. Sensor ini akan aktif ketika ada objek bergerak dan atau yang memiliki suhu berbeda dengan lingkungan area cakupan sensor.

Kamera jebak sudah lama digunakan untuk monitoring satwa liar yang ada di wilayah tertentu dan dalam upaya konservasi satwa liar karena teknologi ini cukup mudah dalam penggunaannya dan tidak membutuhkan tenaga kerja yang cukup ekstra. Penggunaan kamera jebakan ini juga bisa digunakan untuk mengetahui keanekaragaman berbagai jenis satwa yang ada di alam.

Manfaat yang diperoleh dengan menggunakan kamera jebak, yakitu :

  1. Penggunaannya fleksibel dan efisien (dipasang & ditinggalkan di alam)
  2. Data yang diperoleh relatif akurat (Tanggal, Waktu, Tempat, dan Suhu)
  3. Dapat melacak keberadaan satwa yang sulit ditemui
  4. Dapat melakukan pengamatan secara terus menerus
  5. Gambar yang terdokumentasi dapat menjadi bukti kuat keberadaan satwa liar di alam (foto dan/atau video)
  6. Ukurannya yang relatif kecil tidak akan mengganggu keberadaan dan aktifitas satwa liar di habitatnya
  7. Warna kamera yang tidak mencolok atau tersamarkan

Pemasangan kamera jebakan ini biasa dilakukan di tempat-tempat yang sekiranya sering dilewati atau dijadikan tempat untuk singgah sementara oleh satwa seperti sumber air dan sumber makanan. Faktor penting lainnya yang perlu diperhatikan seperti jejak, kotoran, dan bekas cakaran. Pemasangan bisa dilakukan di batang pohon bagian bawah ≥ 45-60 cm diatas permukaan tanah, untuk pengamatan satwa atau burung yang hidup di permukaan tanah  Sedangkan untuk pengamatan jenis-jenis burung dan mamalia arboreal, pemasanga kamera dilakukan pada percabangan pohon bagian atas.

Lahan Basah Suwi merupakan habitat alami bagi beragam satwa liar. Berdasarkan hasil analisis vegetasi, didapati tipe vegetasi berupa Hutan Riparian dan Hutan Rawa Air Tawar. Selama ini kegiatan monitoring satwa dilakukan dengan metode pengamatan langsung (susur sungai) yang diperkirakan masih banyak jenis satwa liar yang belum dijumpai. Karena itu, dengan pemasangan kamera jebakan ini banyak membantu dalam memonitoring keberadaan satwa liar di Lahan Basah Suwi.

Sebelum melakukan pemasangan kamera jebak di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Pengaturan Tanggal, Waktu, dan Tempat Kamera
  2. Memilih hasil potret : foto atau video
  3. Interval hasil gambar
  4. Ukuran gambar
  5. Kwalitas gambar
  6. Kartu Memori (makro)
  7. Pengecekan baterai (disarankan menggunakan baterai baru)
  8. Kabel atau tali pengikat
  9. Alat pelindung kamera jebak (atap buatan)
Pemasangan kamera jebak di pohon, foto oleh Nur Linda
Pemasangan kamera jebak di pohon, foto oleh Nur Linda
Pemasangan kamera jebak di pohon, foto oleh Nur Linda
kamera jebak di pohon, foto oleh Nur Linda

Berikut Beberapa Dokumentasi Hasil Kamera Jebak yang dipasang di Lahan Basah Suwi, yakni :

Kadal Pohon Kalimantan (Dasia vittata)
Kadal Pohon Kalimantan (Dasia vittata)

 

Bubut besar (Centropus sinensis)
Bubut besar (Centropus sinensis)

 

Beruang Madu (Helarctos malayanus)
Beruang Madu (Helarctos malayanus)

 

Babi Berjenggot (Sus barbatus)
Babi Berjenggot (Sus barbatus)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Alap-alap Capung, Burung Predator Terkecil di Dunia
Burung Perling Kumbang, Spesies Penyerbuk Tanaman
Mengenal Kucing Tandang yang Kian Terancam Punah

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020