Rapat Koordinasi Anggota Forum Pengelola KEE LBMS

June 28, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Dalam rangka menyelaraskan rencana program kerja kolaborasi KEE LBMS, maka diadakan kembali Rapat Koordinasi (Rakor) yang kedua, di Sangata pada tanggal (15/06/22).

Rangkaian kegiatan ini adalah lanjutan dari Rakor pada bulan September 2021 dan bagian yang cukup panjang untuk menyatukan pemahaman maupun komitmen dalam upaya pengelolaan Lahan Basah Mesangat Suwi.

Sebagai tindak lanjut dari hasil Rakor pertama, telah dilaksanakan workshop pada bulan Januari 2022 oleh sebagian anggota forum. Tujuannya untuk melakukan penilaian terhadap efektivitas pengelolaan KEE dan identifikasi peluang kolaborasi dengan pihak ke tiga.

            Rakor dibuka oleh bapak Bupati dan dihadiri oleh 28 istitusi anggota forum dan 2 donor, secara ofline maupun online. Dalam pengarahnnya, bapak Bupati Kutai Timur sangat mendukung pengembangan desa wisata di sekitar lahan basah guna pengembangan ekonomi, pelestarian budaya serta tradisi masyarakat, dan tentu pelestarian lahan basah dan keragaman hayatinya sebagai daya tarik wisatanya. Lebih lanjut untuk mendukung pengembangan desa wisata di Luah Putih, Bupati menyampaikan secara langsung agar BAPPEDA membuat rencana tata ruang detail untuk mendukung perencanaan desa wisata.

            Bapak Bupati juga telah berkomitmen untuk menetapkan area Kelola Kawaan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat Suwi tanpa merubah status area yang ada dalam ijin usaha, sesuai yang pernah direkomendasikan oleh Direktorat BPPE-KLHK.

Dalam rapat disampaikan pula pemaparan capaian program Konsorsium selama satu tahun. Adapun capaian program dari tim Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin, yang pertaman yakni sebagai langkah untuk membangun komitmen para pihak dalam pengelolaan KEE Lahan Basah Mesangat-Suwi, telah dilakukan orientasi lapangan dan dialog dengan desa dan Kecamatan oleh 18 perwakilan anggota forum dan ditanda tangani “Kesepakatan Bersama” pengelolaan kolaborasi KEE LBMS oleh lebih dari 50% anggota forum.

            Kedua, adanya tambahan data dan informasi mengenai keanekaragaman hayati hidrologi, vegetasi, dan sosial budaya. Terdapat total kehati sekitar 15 jenis mamalia, 91 jenis burung, 13 jenis reptile, 2 jenis amfibi, dan 25 jenis Ikan.

            Ketiga, peningkatan kapasitas lokal dalam pengelolaan Lahan Basah Mesangat-Suwi. Dengan output, melakukan training of trainer (TOT) dan pelatihan kerja pemetaan penggunaan lahan secara partidipatif, di hasilkan satu peta tata guna lahan desa Sika Makmur. Penanaman 2.400 stek dari 4 jenis pohon pakan bekantan yang melibatkan 5 orang nelayan, dan pelatihan budidaya ikan oleh DKP.

            Keempat, pemantauan dan evaluasi program dilakukan oleh anggota forum bulan Januari 2022. Dalam pemaparan hasil pemantauan, yang perlu mendapat perhatian adalah, bahwa kegiatan masyarakat berbasis lahan belum meningkatkan ekonomi masyarakat secara signifikan, kondisi desa-desa sekitar KEE LBMS cukup potensial untuk dikembangkan pengelolaan LBMS yang lebih baik, rencana pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial lahan basah Mesangat Suwi dapat berjalan dengan keterlibatan para pihak.  

            Melalui rapat koordinasi ini, diharapkan dapat mewujudkan penguatan status dan kelembagaan pengelolaan KEE LBMS, peningkatan kualitas pengelolaan, peningkatan peran para pihak dan masyarakat, serta membangun jejaring maupun kerja sama secara nasional atau internasional. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml).

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Masyarakat Siaga
Pelatihan Masyarakat Siaga
Pemetaan Tata Guna Lahan di Desa Sumber Agung
Penerapan P5, 25 Sekolah Dari 3 Kecamatan di Kutai Timur Mengikuti Bimtek

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020