Bajing dan Tupai : Habitat, Persebaran, dan Ciri-Cirinya

June 28, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Banyak yang beranggapan jika bajing dan tupai adalah hewan yang sama. Nyatanya, kedua hewan ini berasal dari spesies yang berbeda. Bila dilihat secara sekilas, keduanya tampak sama dan agak sulit untuk membedakannya.

            Tupai memiliki moncong yang sangat panjang pada bagian wajah, mulut, dan hidung, sementara bajing pada bagian mulut dan hidungnya lebih rata. Bajing termasuk mamalia pengerat ordo Rodentia yang masih berkerabat dengan tikus dan hamster dari suku famili Sciuridae atau dalam bahasa Inggris disebut Squirrel. Lalu, tupai berasal dari ordo Scandentia, famili Tupaiidae dan Ptilocercidae atau dalam bahasa Inggris Treeshrew.

            Pakan utama bajing umumnya biji-bijian dan buah, sedangkan tupai lebih cenderung memangsa serangga kecil sebagai makanan utamanya. Meskipun demikian, dalam keadaan mendesak, sesekali bajing juga memangsa serangga. Begitu pula dengan tupai yang memakan buah-buahan dari atas pohon yang berjatuhan.

            Berdasarkan hasil penelitian, terdapat tiga jenis bajing yang banyak dijumpai di kawasan Lahan Basah Mesangat Suwi (LBMS). Ada pula dua jenis tupai yang sesekali muncul di Lahan Basah Suwi. Berikut daftar bajing dan tupai.

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus)

            Bajing kepala adalah hewan pengerat yang persebarannya meliputi, Semenanjung Malaya, Thailand, dan Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, dan pulau-pulay yang berada di atas ketinggian 500 – 1100 mdpl.

            Jenis ini memakan buah-buahan, biji-bijian, kacang, dan serangga sebagai pakan utamanya. Bajing kelapa juga diketahui mengerat kambium pohon karet. Keberadaannya di kawasan perkebunan monokultur sering diburu karena dianggap hama. Meski begitu, beberapa masyarakat menganggap bahwa khasiat dari daging bajing kelapa bisa mengobati berbagai penyakit tertentu.

            Secara morfologi, spesies ini memiliki panjang tubuh sekitar 198 mm, panjang ekor 195 mm, dan panjang kakinya 44 mm. Bajing kelapa berbobot 150 – 280 gram. Tubuhnya berwarna cokelat pada bagian punggung dan ekornya.

            Bajing kepala hidup di pohon (arboreal) yang ditemukan pada lingkungan berbeda, seperti hutan hujan tropis dan hutan mangrove. Bajing juga termasuk hewan individual karena sering terlihat sendiri dan tidak berkelompok. Namun, mereka sering memanfaatkan sarang secara bersama-sama.

            Untuk aktivitas hariannya, bajing aktif bergerak pagi hari sekitar jam 07.00 sampai 10.00, sementara sore hari sekitar jam 15.00 – 16.00. Berdasarkan Persatuan Internasional untuk Konservasi dan Sumber Daya Alam (IUCN), spesies bajing kelapa termasuk kategori Least Concern yang masih kurang diperhatikan. Pasalnya bila tidak dilakukan tindakan pencegahan perburuan, dikhawatirkan dapat membahayakan spesies ini.

Bajing Kerdil Dataran Rendah (Exilisciurus exilis)

            Exilisciurus exilis termasuk spesies bajing terkecil dengan panjang hanya mencapai 73 mm dan berat 12 – 26 gram. Tubuhnya yang kecil membuatnya gesit dan cepat bergerak antar pepohonan. Habitat bajing kerdil banyak dijumpai pada hutan dataran rendah dengan ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut.

            Bajing kerdil juga dijumpai di Lahan Basah Suwi, tetapi hanya sesekali saja. Berdasarkan beberapa pengamatan, ia memakan serpihan kerak lumut dan serangga kecil pada bebatuan dan lantai hutan.

            Spesies ini aktif pada siang hari menjelang sore. Namun, ditemukan juga pada pagi menjelang siang hari. Meskipun dominan aktif siang hari, ternyata cukup sulit menemukan bajing kerdil dikarenakan habitatnya yang terusik.

Bajing Kerdil Telinga Hitam (Nannosciurus melanotis)

            Spesies ini tersebar di seluruh Pulau Kalimantan, Jawa, dan Sumatera. Bajing kerdil hitam juga termasuk mamalia bertubuh kecil yang hidupnya di pohon.  Perawakan tubuhnya menyerupai bajing kerdil dataran rendah dengan wajah berwarna putih yang mencolok sebagai pembedanya. Bajing aktif pada siang hari atau disebut hewan di-urnal.

Tupai kecil (Tupaia minor)

            Tupaian minor tersebar di wilayah Semenanjang Malaya, Thailand, dan Indonesia. Sementara di Indonesia banyak dijumpai di Sumatera, Borneo, dan beberapa pulau kecil. Tupai kecil memiliki ukuran tubuh yang kecil, ekor yang kurus, dan panjang.

            Ciri khasnya, yakni rambut pada bagian tubuh atasnya berbelang terang dan gelap, serta berbintik hijau pada bagian kakinya. Lalu, pada bagian bawah bungalan berwarna kemerahan hingga mendekati bokongnya. Pada sisi atas ekor tampak lebih gelap dari bagian tubuhnya.

Tupai Ramping (Tupaia gracilis)

            Tupai ramping juga mempunyai ciri-ciri ekor yang panjang dan lebih gepal dari bagian tubuhnya. Jenisnya serupa dengan tupai kecil yang cenderung mempunyai ekor kurang lebat, sering berulas kemerahan, dan bisa dibedakan hanya dari ukuran kaki bagian belakangnya. Konsorsium Yasiwa-YU. (ml)

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus). foto: Ingan N., Yasiwa
Bajing Kelapa (Callosciurus notatus). foto: Ingan N., Yasiwa

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Pelatihan Masyarakat Siaga
Pelatihan Masyarakat Siaga
Pemetaan Tata Guna Lahan di Desa Sumber Agung
Penerapan P5, 25 Sekolah Dari 3 Kecamatan di Kutai Timur Mengikuti Bimtek

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020