Pemulihan Habitat Bekantan

June 21, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

 

Lahan basah Suwi salah satu habitat alami bagi bekantan yang semakin terancam keberadaannya. Pada mulanya, bekantan banyak dijumpai di sepanjang tepian Sungai Kedang Kepala. Namun, populasinya semakin terancam akibat aktivitas pembukaan lahan dan hutan, serta riparan di sepanjang sungai yang telah terdegradasi.

Pembukaan lahan juga terjadi di sekitar hutan riparan Sungai Suwi pada bagian hulunya. Demikian pula area Loa Bekara yang termasuk anak Sungai Suwi, di mana sebagian besar telah berubah menjadi padang rumput karena berulang kali terbakar.

Melihat adanya ancaman besar bagi satwa endemik tersebut, Tim Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin melakukan upaya pemulihan habitat bekantan. Pada awalnya, Yasiwa sudah memulai pemulihan habitat sejak tahun 2016.

Adanya upaya pemulihan, di antaranya dilakukannya uji coba menanam area yang terbuka dengan stek beberapa jenis pohon asli, seperti Kendikara (Dilenia excelsa), Bungur (Lagerstroemia speciosa), Bloma (Syzygium lineatum) dan Kedemba (Mytragina) di area Loa Bekara. Pada saat penanaman, ukuran stek hanya sekitar 1,5 meter, ternyata saat banjir hampir sebagian terendam pucuknya dan mati.

Tanaman-tanaman ini termasuk pakan bagi bekantan, mudah distek, dan flora asli Sungai Suwi. Dari ketiganya. Kendikara paling tinggi daya tumbuhnya bahkan mampu bertumbuh kembali sekalipun terlah terbakar. Dilenia excelsa juga mempunyai daun berukuran lebar dan tajuk yang tebal, sehingga diharapkan lebih cepat membetuk tutupan tajuk untuk mengendalikan rumput dan alang-alang. Maka, upaya penanaman selanjutnya lebih diutamakan menanam Kendikara dengan ukuran stek 2,5 meter.

Proses Penanaman di Loa Bekara

Proses penanaman juga dilakukan bersama lima orang nelayan Suwi, bahkan sesekali mereka juga mengcek kondisi tanaman. Sayangnya, perubahan iklim menyebabkan musim hujan dan kemarau sulit untuk diprediksi. Penanaman pada bulan Agustus tahun 2017, hampir tidak ada yang tumbuh karena musim kemarau hingga Desember. Hal ini bisa menyebabkan stek menjadi kering.

Sementara pada awal 2018, penanaman dialihkan ke hulu Sungai Suwi. Namun, terjadi kendala karena pendanaan tertunda satu tahun, sehingga tidak dilakukan perawatan. Sebab, stek yang sudah tumbuh dapat tercekik oleh Mikania micranta atau gulma yang merambat dengan agresif.

Beberapa tanaman yang berhasil hidup sudah tumbuh cukup tinggi. Lagi-lagi, adanya sarang penyengat membuat perawatan di lokasi tidak dilanjutkan. Akhirnya, upaya penanaman dilanjutkan pada periode Desember 2019 – Maret 2021 di hulu Sungai Suwi.

Meskipun sedang kemarau, tetapi nampaknya tanah pada area tersebut cukup lembap. Dengan begitu, daya tumbuhnya lebih besar jika dibandingkan di Loa Bekara. Idelanya masa penanaman saat awal musim hujan, sehingga stek mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh sebelum masuk musim kemarau.

 Saat dilakukan pengecekan pada bulan Januari 2021, ternyata pohon yang sudah ditanaman pada Desember 2019 sudah berbunga. Di samping itu, para bekantan juga asyik menikmati pucuk Kendikara yang masih muda. Akibatnya, beberapa pohon tumbang dan rebah karena ukurannya yang masih kecil.

Proses pengecekan cukup mengesankan sekaligus menyenangkan. di mana melihat pucuk-pucuk merah dari stek yang ditanam dalam waktu 2 – 3 bulan, bahkan ada yang cukup banyak daunnya. Meski begitu masa pemulihan lahan memang tidak mudah, beberapa tanaman pun ada yang ikut terbakar akibat kemarau panjang hingga terendam saat air sedang tinggi.

Namun, tim kerja tetap konsisten untuk melakukan upaya penanaman. Proses pun terus berlanjut, sampai awal tahun 2021 telah tertanam sekitar 7.200 stek. Melalui program konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin, pada bulan Februari 2022 telah ditanam 2.400 stek Kendikara, Kedemba, Putat dan Bloma. 

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Ficus tumbuhan keystone spesies
Rapat Koordinasi Anggota Forum Pengelola KEE LBMS
Bajing dan Tupai : Habitat, Persebaran, dan Ciri-Cirinya

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020