Pengalaman Tak Terlupakan, Anggota Forum Merawai

June 3, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Bersama dengan Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin, perwakilan anggota forum mengikuti orientasi lapangan di Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat Suwi pasca libur lebaran pada tanggal 16-20 Mei 2022. Tiga perwakilan anggota forum yaitu, bapak Yudi Wardana mewakili Dinas Pertanahan dan Penataan Ruang, bapak Serti Tandirura mewakili Badan Litbang Daerah, dan ibu Iin Sulistyorini mewakili Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER).
Orientasi Tim Anggota Forum dilakukan dengan mengikuti survei bekantan yang dilakukan di Lahan Basah Suwi. Perjalanan dengan ces dari muara Sungai Suwi menuju pondok kerja, memberikan pemandangan yang berbeda dibanding pemandangan sepanjang Sungai Kedang Kepala dari Kelinjau menuju muara Suwi. Hutan riparian Sungai Suwi yang masih cukup asli, masih menjadi habitat yang penting bagi bekantan, meskipun ada sebagian yang terbuka. Ibu Iin begitu takjub dan senang, untuk pertama kali melihat bekantan di habitat alaminya.
Kami makan siang di pondok kerja yang disiapkan oleh nelayan. Ikan segar hasil tangkapan nelayan selalu menjadi hidangan khas yang istimewa, karena tidak mudah didapatkan di Sangatta atau Samarinda. Setelah cukup beristirahat, kami janjutkan orientasi menuju Loa Bekara. Bekara dalam Bahasa Kutai berarti bekantan. Loa Bekara merupakan satu dari lima jalur survei bekantan dan keragaman hayati di lahan basah Suwi. Saat cuaca bagus, di sini ada spot cantik untuk menikmati panorama lahan basah dan matahari terbenam.
Banyak area terbuka di Loa Bekara akibat terbakar sehingga menjadi padang alang-alang dan ditumbuhi putri malu (Minosa pigra) yang merupakan jenis tumbuhan invasive. Tim mengunjungi lokasi penanaman yang telah dilakukan sejak tahun 2017 oleh Yasiwa dan dilanjutkan oleh Konsorsium, dengan tujuan untuk penghijauan dan memperluas habitat bekantan yang telah menyusut dan terdegradasi.
Tak ingin melewatkan keindahan alam, Anggota forum mengunjungi spot foto pohon Kejawi atau Beringan (Ficus benyamina) yang melintas di atas sungai. Beruntung, level air sedang cukup tinggi sehingga dahan yang menjuntai mudah untuk dijangkau.
Tim menginap di pondok kerja Suwi yang berada di antara rakit-rakit nelayan sehingga berkesemapatan bertukar cerita dengan para nelayan dan istri yang tinggal di rakit. Bu lin, merasa antusias karena baru pertama kali melihat habitat alami Bekantan. Apalagi, habitat satwa endemik tersebut bisa dijadikan sebagai ekowisata yang bertujuan untuk mengedukasi banyak orang. “Pengembangan ekowista tidak perlu modal besar mahal, karena yang menjadi obyek adalah kondisi alam yang ada dan praktek keseharian nelayan mencari ikan dengan peralatan tradisional” tuturnya. Beliau berkomitmen akan menulis jurnal untuk memperkenalkan potensi tersebut.
Di samping itu, prinsip pengembangan ekowisata berfokus untuk mempertahankan kealamian lingkungan dan budaya yang menjadi daya tarik wisata. Masyarakat harus terlibat sebagai pelaku, pelayanan dan keamanan, sehingga perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar. Dengan begitu, pengunjung akan merasa nyaman berkunjung ke lahan basah.
Pada pagi hari mengikuti keseharian nelayan, Bu Iin juga ikut merawai bersama pak Ing salah satu neyalan Suwi Indah. “Pengalaman ini bisa menjadi bahan tulisan untuk mengembangkan perencanaan ekowisata” katanya dengan bersemangat.
Melalui tulisan tersebut, harapannya menjadi suatu daya tarik ekowisata bagi para pelajar maupun pelancong dari luar daerah. Kegiatan merawai pun harus dilestarikan agar mengangkat dan mempertahankan budaya nelayan dalam mencari ikan menggunakan peralatan tangkap tradisonal.
Silaturahmi dan dialog untuk bertukar informasi untuk membangun keterhubungan dengan pihak desa dan kecamatan menjadi bagian yang penting lainnya selama kegiatan orientasi. Pada hari berikutnya dilakukan pertemuan dengan perwakilan dari kecamatan, Desa Kelinjau Ulu (DKU), Desa Kelinjau Ilir (DKI) dan Kelinjau Tengah. Pak Yudi, selaku Kepala UPT Survei dan Pemetaan, menyampaikan bahwa pemerintah kabupaten sangat memberikan dukungan terhadap KEE LBMS. Salah satunya, melalui SK Area dengan Nilai Konservasi Tinggi (ANKT) yang sedang disiapkan, meliputi area KEE LBMS.
Bu Iin, sesuai dengan kapasitas sebagai dosen STIPER bidang Konservasi hutan dan pengembangan ekowiosata, menyampikan komitmen untuk membuat tulisan mengenai potensi ekowisata Lahan Basah Suwi dan Luah Putih, untuk memperkenalkan kepada publik maupun kepada mahasiswanya. (ml)

Kunjungan ke habitat bekantan di Lahan Basah Suwi
Kunjungan ke habitat bekantan di Lahan Basah Suwi
Pertemuan Anggita forum dnegan perwakilan Kecamatan dan desa-desa Kelinjau Ulu, Kelinjau Ilir dan Kelinjau Tengah.
Pertemuan Anggita forum dnegan perwakilan Kecamatan dan desa-desa Kelinjau Ulu, Kelinjau Ilir dan Kelinjau Tengah.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Ficus tumbuhan keystone spesies
Rapat Koordinasi Anggota Forum Pengelola KEE LBMS
Bajing dan Tupai : Habitat, Persebaran, dan Ciri-Cirinya

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020