Kearifan Lokal dan Pelestarian Satwa di Lahan Basah Mesangat-Suwi

March 31, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Masyarakat Suku Kutai di Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur memiliki suatu hal yang mereka percayai dalam budaya mereka terkait hubungan antara manusia dan satwa. Kepercayaan itu mereka sebut dengan urus. Adapun istilah urus dapat diartikan bahwa masyarakat memiliki hubungan kekerabatan/keturunan dengan satwa, dalam hal ini dengan buaya.

Menurut penuturan dari Iskandar, seorang tokoh masyarakat Desa Kelinjau Ilir Kecamatan Muara Ancalong, urus merupakan suatu kepercayaan yang masih melekat pada masyarakat Kutai. Diceritakan bahwa sebagian masyarakat Kutai memiliki leluhur yang bersudara kembar dengan buaya. Cerita lainnya menjelaskan bahwa buaya asalnya merupakan manusia yang memiliki kemampuan untuk menjelma menjadi salah satu reptil air itu.

Buaya siam/Crocodylus siamensis (foto: Konsorsium YASIWA-Yayasan Ulin)
Buaya siam/Crocodylus siamensis (foto: Konsorsium YASIWA-Yayasan Ulin)

Masyarakat yang meyakini bahwa mereka memiliki garis keturunan dengan buaya, dilarang untuk menyakiti bahkan berburu hewan tersebut. Mereka percaya, jika melakukannya maka akan ada keluarga yang sakit. Jika hal itu tidak sengaja terjadi, maka biasanya mereka akan melakukan ritual sawai atau besawai.

Menurut Iskandar, sawai dapat diartikan memanggil. Sawai merupakan cara untuk mengobati dengan menyiapkan beberapa sesaji dan memohon kesembuhan kepada Yang Maha Kuasa dan leluhur mereka. Beberapa bahan sesaji yang biasanya disiapkan antara lain beras kuning, kemenyan, pinang, dupa, sirih, tembakau, gula merah, pisang.

Beras kuning, dupa, dan kemenyan (foto: Aldy Bismo Prayogo)
Beras kuning, dupa, dan kemenyan (foto: Aldy Bismo Prayogo)

Camat Muara Ancalong, Sabran, S.Sos.  mengatakan bahwa kepercayaan urus terkait buaya, hingga saat ini masih dipercayai dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal ini juga menjadi salah satu bentuk yang akhirnya memiliki peranan dalam menjaga pelestarian satwa di Muara Ancalong. Diketahui bahwa di Lahan Basah Mesangat-Suwi yang berlokasi di Kecamatan Muara Ancalong dan Kecamatan Long Mesangat terdapat salah satu satwa langka yaitu buaya siam (Crocodylus siamensis).

Buaya jenis ini semakin langka dan dalam keadaan terancam punah. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, memasukkan buaya siam dalam status konservasi Crtically Endangerd (kritis). Selain itu, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), memasukkan buaya siam ke dalam daftar Apendiks 1 yang berarti dilarang untuk diperdagangkan dalam bentuk apapun. Di Indonesia, buaya siam merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 106 tahun 2018.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Bungur, Pohon Berbunga Indah Kaya Akan Manfaat Untuk Kesehatan
Biuku, Kura-Kura Air Tawar yang Terancam Punah!
Penggunaan Lahan Desa Sika Makmur

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020