Jenis-jenis Ular Penghuni Lahan Basah Mesangat Suwi

March 21, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Ular adalah salah satu jenis reptile yang mempunyai peran dalam keseimbangan ekosistem karena dapat mengontrol populasi hama, seperti tikus, serangga, hingga mamalia kecil. Ular memiliki ruas tulang belakang lentur yang terdiri dari 400 ruas tulang tidak beraturan (vertebra).

Bagian bawah tulang rusuk ular tidak menyambung, sehingga dapat meregang saat menelan mangsanya. Hampir sebagian besar jenis ular akan membunuh mangsa dengan cara melilitnya. Namun, ada pula yang mengeluarkan bisa beracun dari taring untuk melumpuhkan sekaligus membunuh mangsanya.

Pakan ular juga bervariasi, tergantung pada ukurannya. Untuk ukuran kecil, biasanya memangsa cicak dan kadal. Sementara ular yang berukuran besar, makanannya cenderung unggas atau mamalia kecil seperti tikus.

Faktor penting yang mempengaruhi persebaran ular di antaranya, kondisi habitat, populasi mangsa, dan ketersediaan pangan. Hewan ini pun dapat dikategorikan berdasarkan jenis, yakni beracun dan tidak beracun. Setidaknya terdapat tujuh jenis ular di lahan basah Mesangat Suwi, di antaranya ular air belang (Homalopsis bucatta), ular (Lepturophis borneensis), ular cincin emas (Boiga dendrophila), ular tambang (Dendralaphis pictus), ular sanca kembang (Phyton raticulatus), king cobra (Ophiophagus hannah), dan ular karung (Acrochordus javanicus).

Ular Belang (Homalopsis bucatta)

            Ular belang sering disebut sebagai ular kadut (Homalopsis buccata). Jenis ular ini termasuk pemakan ikan, katak, hingga hewan kecil di air lainnya. Ular kadut tergolong tidak berbisa, bahkan dapat dipelihara di dalam akuarium. Ukuran panjang tubuhnya mencapai 80 – 110 cm dengan warna tubuh yang berbelang.

Meski cenderung tidak berbisa, tetapi mempunyai taring kecil yang terletak pada bagian bawha mulutnya. Jenis ini tidak aka menggigit, sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Namun, ular ini bersifat agresif apabila dalam situasi terpojok.

Hewan ini sering bersembunyi pada liang lumpur saat siang hari. Kemudian, muncul pada malam hari untuk mencari makan. Menurut beberapa penelitian, H. buccata termasuk salah satu jenis ular yang terdaftar dalam perdagangan di Cina dan berasal dari Thailand.

Ular Cincin Emas (Boiga dendrophila)

Jenis ular yang satu ini cukup banyak diminati, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ular cincin emas banyak dijadikan sebagai binatang atau hewan peliharaan. Ukurannya bisa mencapai lebih dari 1 meter.

Kulitnya juga sering dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan. Sementara daging atau bagian tubuh lainnya dikonsumsi sebagai penawar berbagai penyakit. Di Indonesia khususnya Banten, ular cincin emas dibentuk menyerupai obat nyamuk bakar. Kemudian, dikeringkan menggunakan oven untuk dikonsumsi.

Habitat ular cincin biasanya meliputi pohon, hutan bakau, dan tepian sungai yang berdekatan dengan hutan. Aktivitasnya pada malam hari dan termasuk jenis arboreal. Untuk pakannya sendiri cenderung berupa mamalia kecil, seperti burung atau kadal.

Ular Tambang (Dendrelaphis pictus)

Ular tambang tersebar luas di Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi), Kamboja, Laos, Singapura, dan Filipina. Jenis ular ini juga banyak dijumpai di India, Nepal, Bangladesh, hingga bagian Cina Selatan.

Bentuk tubuhnya cukup ramping, mempunyai panjang sekitar 1,5 meter, dan ciri khas lidahnya yang berwarna merah. Warna kulitnya menyerupai cokelat zaitun layaknya logam perunggu. Ular tambang umumnya hidup dipohon, tetapi sering turun ke tanah untuk memangsa katak atau kadal sebagai pakan utamanya.

Jenis ular ini juga menghuni hutan dataran rendah maupun pegunungan. Beberapa area lainnya, meliputi tepian hutan, kebun, belukar, hingga tepi sawah. Bahkan tak jarang, ditemukan pada sela-sela daun maupun ranting.

Ular Sanca Kembang (Phyton raticulatus)

Phyton raticulatus atau ular sanca kembang tersebar luas di seluruh wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ular sanca dapat tumbuh mencapai 9 meter dengan berat 36 kg. Phyton banyak dimanfaatkan untuk diambil kulit dan dagingnya. Tak jarang, dagingnya pun dijadikan sebagai santapan. Bahkan, kulitnya juga banyak diekspor hingga ke luar negeri.

Selain itu, banyak dimanfaatkan sebagai pengobatan, bahan baku tas, pertunjukan, dan hewan peliharaan. Karakteristik phyton berbeda dengan jenis ular lainnya, yakni tidak perlu makan setiap hari dan tidak memerlukan tempat yang luas. Ditambah, Phyton raticulatus termasuk jenis yang tidak berbisa. Maka dari itu, banyak yang gemar dan menjadikannya sebagai hewan peliharaan.

Sebagai predator, ular sanca biasanya akan menunggu di pohon untuk menjebak mangsanya. Pakannya meliputi burung, mamalia, tikus kecil, kelinci, monyet, hingga babi liar. Meskipun tergolong tidak berbahaya, tetap harus diwaspadai sebab Phyton pun dapat memangsa manusia.

King Cobra (Ophiophagus hannah)

King cobra termasuk salah satu jenis ular berbisa dan berbahaya di dunia. Jenis ular ini bisa berdiri dengan mengangkat sepertiga tubuhnya lalu bergerak menyerang targetnya. Panjang tubuhnya dapat mencapai 3 – 5 meter. King cobra tersebar luas di beberapa negara Asia Tenggara yang meliputi Indonesia.

Ular berbisa ini dapat beradaptasi dengan berbagai habitat, yaitu semak bambu, rawa bakau, padang rumput dataran tinggi, hingga sungai. King cobra dapat memangsa ular lainnya, baik berbisa maupun tidak berbisa. Selain itu, sering memangsa hewan-hewan kecil seperti kadal dan mamalia kecil.

Racun ular king cobra termasuk paling kuat diantara jenis ular berbisa lainnya. Racun yang dikeluarkan dapat langsung bekerja pada sistem saraf manusia, sehingga menyebabkan kelemahan otot, kaburnya penglihatan, gagal jantung, menghentikan pernapasan, hingga berujung pada kematian.

Selain itu, racunnya juga dapat menyebar seluruh tubuh hingga menyebabkan koma. Orang yang terkena bisa atau racun dapat mengalami kematian hanya dalam hitungan 30 detik setelah digigit. Meski begitu, king cobra juga banyak diburu untuk diambil kulitnya, dikonsumsi, hingga dijadikan bahan obat tradisonal.

Ular Karung (Acrochordus javanicus)

            Ular karung sering disebut sebagai ular belalai gajah (Elephant trunk snake). Jenis ular ini tersebar di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Habitat utamanya berada di perairan dangkal, berlumpur, di sungai, rawa-rawa, kolam, dan muara. Selain itu, dapat dijumpai pada area tambak ikan. Acrochordus javanicus termasuk salah satu jenis yang tidak berbisa.

Ukurannya cukup besar dengan panjang bisa mencapai 2,5 meter. Tubuhnya longgar dan dilapisi sisik yang kasar. Kepalanya berwarna hitam kecokelatan, dihiasi dengan bercak kecil dan besar berwarna kehitaman, serta tubuh bagian bawahnya berwarna lebih pucat.

Pakan utamanya adalah ikan dan belut, serta memangsa berbagai jenis amfibi lainnya. Berkat kulitnya yang bertekstur unik, ular karung dapat melilit ikan dengan tubuhnya. Ikan yang licin sekalipun tidak dapat terlepas dari lilitannya yang kuat. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin (ml).

Ular air belang (Homalopsis buccata) di Lahan Basah Mesangat (Foto: Armansyah, Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin)
Ular air belang (Homalopsis buccata) di Lahan Basah Mesangat (Foto: Armansyah, Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin)

 

Ular cincin emas (Boiga dendrophila) di atas pohon perupuk, Lahan Basah Suwi (Foto: Yasiwa)
Ular cincin emas (Boiga dendrophila) di atas pohon perupuk, Lahan Basah Suwi (Foto: Yasiwa)

 

Ular Tambang (Dendrelaphis pictus) di tebing sungai, Lahan Basah Suwi (Foto: Yasiwa).
Ular Tambang (Dendrelaphis pictus) di tebing sungai, Lahan Basah Suwi (Foto: Yasiwa).

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Bungur, Pohon Berbunga Indah Kaya Akan Manfaat Untuk Kesehatan
Biuku, Kura-Kura Air Tawar yang Terancam Punah!
Kearifan Lokal dan Pelestarian Satwa di Lahan Basah Mesangat-Suwi

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020