Menyodok Jukut Bilis, Kegiatan Musiman Masyarakat Kutai di Muara Ancalong

March 4, 2022

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Ada kegiatan musiman yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Kutai. Salah satunya, di Kecamatan Muara Ancalong Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan musiman itu, yakni menangkap Jukut Bilis. Jukut dalam Bahasa Kutai artinya ikan. Sementara bilis adalah salah satu jenis ikan air tawar yang hidup di perairan Kalimantan.

Menurut penuturan Tua Jugit (Tua dalam Bahasa Kutai artinya sapaan untuk kakak dari Ayah atau Ibu), aktivitas ini biasanya dilakukan di saat air sungai akan surut. Karena pada saat itu, ikan bilis mulai banyak di sungai.

Tua Jugit (nelayan di Desa Senyiur, Kecamatan Muara Ancalong Kabupaten Kutai Timur) yang sedang menyodok ikan bilis di Sungai Kedang Kepala (foto: Aldy Bismo Prayogo)
Tua Jugit (nelayan di Desa Senyiur, Kecamatan Muara Ancalong Kabupaten Kutai Timur) yang sedang menyodok ikan bilis di Sungai Kedang Kepala (foto: Aldy Bismo Prayogo)

Alat yang digunakan untuk menangkap ikan ini bernama Sodok, oleh sebab itu kegiatan ini dinamakan menyodok atau nyodok yang artinya menangkap ikan menggunakan Sodok. Bahannya terbuat dari kain kasa yang dipasangkan ke bambu menggunakan tali.

Sodok, salah satu alat tradisional menangkap ikan (foto: Candra)
Sodok, salah satu alat tradisional menangkap ikan (foto: Candra)

Dalam buku berjudul Ekobiologi Ikan Persebaran dan Keragaman Ikan bagian Ikan-Ikan Sungai di Kalimantan, Adiara Firdhita Alam Nasyrah menjelaskan bahwa keberadaan ikan di suatu tempat tidak terlepas dari kondisi habitat sebagai penyedia sumber daya bagi kebutuhan hidup ikan. Adanya variasi kondisi habitat menyebabkan ikan harus berinteraksi termasuk beradaptasi dengan habitatnya. Pada saat air pasang, ikan biasanya akan bermigrasi dari sungai besar ke rawa dan akan kembali lagi pada saat air surut. Migrasi ini dipengaruhi oleh perubahan tinggi permukaan air sungai.

Ikan bilis masuk ke dalam family Cyprinidae, genus Rasbora. Ikan bilis yang biasanya didapat satu di antaranya bernama ilmiah Rasbora argyrotaenia. Namun tak jarang saat menyodok, ada ikan lain yang diperoleh contohnya adalah Oxygaster anomalure, masyarakat biasa menyebutnya dengan ikan lalang.

Ikan bilis (foto: Aldy Bismo Prayogo)
Ikan bilis (foto: Aldy Bismo Prayogo)
Ikan lalang (foto: Aldy Bismo Prayogo)
Ikan lalang (foto: Aldy Bismo Prayogo)

Ikan bilis yang ditangkap oleh warga biasanya untuk dikonsumsi sendiri. Namun tak jarang ada juga yang menjual hasil tangkapan mereka. Ikan bilis yang sudah dibersihkan dijual seharga Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram. Bisa dikatakan bahwa kegiatan musiman ini, sangat menguntungkan masyarakat karena menjadi gambaran keberlimpahan sumber daya alam berupa ikan. Disamping itu, juga menambah pendapatan dari segi ekonomi sebagian masyarakat Muara Ancalong. Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin/Aldy BP.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Bungur, Pohon Berbunga Indah Kaya Akan Manfaat Untuk Kesehatan
Biuku, Kura-Kura Air Tawar yang Terancam Punah!
Kearifan Lokal dan Pelestarian Satwa di Lahan Basah Mesangat-Suwi

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020