Membangun Keterhubungan OPD Dengan Desa-Desa di Sekitar KEE LBMS

Membangun Keterhubungan OPD Dengan Desa-Desa di Sekitar KEE LBMS

Konsorsium Yasiwa-Yayasan Ulin memfasilitasi kunjungan lapangan perwakilan OPD anggota Forum dan diskusi dengan perwakilan desa-desa di sekitar KEE LBMS. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun pemahaman tentang potensi dan tantangan, serta membangun sinergi dan komunikasi guna mengelola KEE LBMS ke depannya.

Integrasi kegiatan para pihak tingkat kabupaten dan tingkat desa di sekitar KEE LBMS perlu dibangun guna mendukung pencapaian misi ke 5 Kabupaten Kutai Timur, yaitu: “Mewujudkan Sinergi Pengembangan Wilayah dan Integrasi Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan

OPD yang terlibat untuk kegiatan tanggal 8 – 12  November 2021, yakni Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kutai Timur, dan KPHP Kelinjau. Untuk pertemuan di Kecamatan Long Mesangat, telah dilaksanakan pada tanggal 9 November 2021 di Desa Segoy Makmur. Pertemuan dihadiri oleh Kepala Desa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), perwakilan pekebun dan nelayan dari 6 desa, pertugas PPL, pendamping desa, staff kecamatan, Kepolisian dan perusahaan.

Guna membangunan perkebunan berkelanjutan, Ir. Didik Prayitno M.Sc. mewakili Dinas Perkebunan secara khusus menyampaikan pemaparan tentang Peraturan Menteri Pertanian No. 38 Tahun 2020 yang mewajibkan sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) pada tahun 2025 mendatang, bagi pekebun swadaya, yang semula kewajiban hanya bagi perusahaan. Pengembangan perkebunan ramah lingkungan tentu akan berkontribusi dalam menjaga keberadaan lahan basah sebagai pusat perikanan dan habitat bagi hidupan liar lainnya. Banyak hal yang perlu disiapkan, sementara tahun 2021 sudah hampir berakhir, namun belum ada upaya yang cukup berarti untuk kesiapan penerapan sertifikasi ISPO bagi petani swadaya.

DKP yang diwakili oleh Fitriullah, SPi. MSi. turut menyampaikan potensi-potensi pengembangan perikanan budidaya dan perikanan tangkap di sekitar lahan basah yang bisa dipadukan dengan pengembangan tujuan wisata. Untuk mengelola perikan secara berkelanjutan, nelayan didorong untuk menggunakan alat tangkap tradisional yang ramah lingkungan, sebaliknya penggunaan alat tangkap seperti setrum akan berdampak pada menurunnya cadangan ikan alami yang juga akan menurunkan potensi-potensi untuk sumber ekonomi lainnya termasuk potensi pengembangan wisata lahan basah. Menurutnya, hasil penelitian para ahli, dampak dari terkena setrum, setelah hari ke 3 ikan baru mau memakn unpan pancing, karena ikan mengalam stress. Bahkan ikan kecil akan mengalami kematian sehingga menyebabkan tangkapan selanjutnya akan berkurang.

Pada kesempatan yang sama, dari DKP memberikan pelatihan budidaya ikan dan cara membuat pakan alternatif dari debog pisang yang difermentasi. Pelatihan ini memberikan peningkatan kapasitas bagi masyarakat yang telah memiliki kolam ikan, tetapi masih belum maksimal dalam melakukan budidaya. Sedangkan, pembuatan pakan alternatif memberikan solusi atas mahalnya pakan ikan yang dijual di pasaran. Melalui interaksi ini, masyarakat mendapat penjelasan dalam pengajuan proposal melalui desa untuk mendapat pembinaan dari DKP maupun prosedur online untuk mendapatkan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

KPH Kelinjau yang wilayah kerjanya tidak meliputi kecamatan Long Mesangat, berbagi informasi kemungkinan kerja sama dengan KPH Bengalon untuk mendapatkan bibit pohon dalam upaya restorasi di sekitar lahan basah di Kecamatan Long Mesangat.

Pertemuan di kecamatan Muara Ancalong telah dilaksanakan pada tanggal 11 November 2021 di Kelinjau Ulu. Dengan komposisi peserta yang kurang lebih sama, dihadiri oleh perwakilan dari 3 desa, Kelinjau Ulu, Kelinjau Tengah dan Kelinjau Ilir. Penyampaian aspirasi dari nelayan tangkap tradisional tentang perlunya tindakan terhadap pelaku penyetruman.

Tim juga berkesempatan mengunjungi Loa Putih dan berdiskusi dengan Kepala Desa Kelinjau Tengah. Sejak kunjungan dari Dinas Pariwisata pada bulan Agustus 2021, desa telah menginisiasi pembersihan dan penataan Loa Putih untuk menjadi tujuan wisata. Dinas Pariwisata sudah mulai mempromosikan Loa Putih sebagai tujuan wisata. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga telah melakukan kunjungan lapangan dan akan melakukan normalisasi Loa Putih agar dapat dikembangakan menjadi tujuan wisata dan pusat budidaya ikan.

Tim OPD menjajal menjadi wisatawan lokal dengan menggunakan perahu di sekitar Loa Putih dan bersantai di pondok yang telah disiapkan oleh Desa Kelinjau Tengah. Selain itu, juga berkunjung ke lahan basah Suwi untuk mengunjungi potensi wisata di Loa Bekara sekaligus berdiskusi dengan nelayan.(ml)

Pelatihan budidaya ikan dan pembuatan pakan alternatif
Pelatihan budidaya ikan dan pembuatan pakan alternatif

 

Dialog Para Pihak dari Tentang ISPO dan Pelatihan Budidaya Ikan
Dialog Para Pihak dari Tentang ISPO dan Pelatihan Budidaya Ikan

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *