Burung Unik di Lahan Basah Mesangat-Suwi

November 23, 2021

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Burung mempunyai peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam, terutama rantai makanan. Setiap jenisnya sangat beragam, karena mempunyai ciri khasnya sendiri. Melalui keanekaragaman burung, dapat menjadi sebuah tanda atau indikator akan kualitas lingkungan.

Beberapa peran ekologi burung dalam ekosistem, yakni membantu dalam penyerbukan secara alami, penyebar biji, dan pengendali hama. Berikut tiga jenis burung yang terdapat di Lahan Basah Mesangat-Suwi.

Kangkareng Perut Putih, Punya Peran Besar Dalam Ekosistem

            Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros albirostris) termasuk dalam familia Bucerotide atau umumnya sering disebut Rangkong. Rangkong paling sering dijumpai daripada Kangkareng hitam di lahan basah.

Kangkareng mempunyai peran dalam proses regenerasi vegetasi hutan, salah satunya dalam penyebaran biji tumbuhan tropis. Persebarannya cukup luas, yakni India, Myanmar, Indonesia, Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Thailand. Sementara di Indonesia tersebar di daerah Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa.

Burung ini banyak ditemukan pada perpohonan yang tinggi, mempunyai diameter besar, hingga berada pada daerah hutan yang luas. Jenis pepohonan yang menjadi sarangnya, meliputi Eugenia, Ficus, Dipterocarpus, Sterculia, dan masih banyak lagi.

Habitatnya banyak dijumpai pada hutan primer yang ekosistemnya masih terjaga dengan baik. Kangkareng Perut Putih umumnya ditemukan bertengger secara berkelompok maupun berpasangan. Waktu terbaik untuk bertengger, biasanya pada pagi dan siang menjelang sore hari.

Kangkareng Perut Putih lebih sering memakan buah-buahan, tetapi tidak jarang mereka memangsa serangga, ikan, kadal, dan katak.  Burung ini mempunyai ciri tubuh yang berukuran 55 – 60 cm. Paruhnya akan terbentuk setelah memasuki usia 1 – 2 bulan.

Burung ini membutuhkan waktu inkubasi selama 79 – 89 hari. Saat musim berkembang biak, sang betina akan mengerami telur yang biasanya akan dikurung di dalam lubang pada batang pohon. Nantinya, akan disisakan sedikit lubang yang cukup agar sang jantan dapat memberikan makan kepada betina. Sang jantan akan berkunjung untuk memberi pakan ke sarang berupa buah-buahan atau binatang kecil.

Penutup sarang dibuat menggunakan lumpur dan campuran sisa makanan. Ketika menetas, betina akan memecahkan penutupnya, lalu menutupnya kembali sampai burung muda sudah siap untuk terbang. Sayangnya, keberadaan Kangkareng Perut Putih semakin terancam akibat perdagangan bebas di pasar burung seperti Thailand dan Myanmar.

Bangau Tong-tong, Spesies Burung Lahan Basah yang Terancam Punah

            Bangau Tong-tong atau (Leptoptilos javanicus) salah satu satwa dilindungi yang mempunyai ciri khas, yaitu kepalanya yang botak. Warna bulunya didominasi dengan hitam dan putih. Sementara paruhnya berwarna kuning hingga coklat muda.

Persebaran Bangau Tong-tong dapat dijumpai pada beberapa wilayah di Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok. Sayangnya, populasi burung ini semakin terancam akibat degradasi habitat hingga konversi lahan.

Lahan basah menjadi salah satu tempat untuk mencari makan maupun beristirahat. Untuk pakannya sendiri, berupa ikan kecil, belalang, dan katak. Lahan basah yang digunakan berupa area terbuka, seperti rawa, mangrove, tambak, hingga hutan dataran rendah.

Bangau Tong-tong termasuk satwa yang hidupnya soliter atau tidak berkelompok. Akan tetapi, saat musim berkembang biak mereka akan membentuk sebuah koloni. Setiap betina bisa menghasilkan 3 – 4 butir telur.

Telur yang dihasilkan, biasanya akan menjadi sasaran empuk bagi para predator. Untuk melindungi telurnya, Bangau akan memberikan perlawanan dengan cara mengepakkan sayap atau membunyikan paruh sambil mengatupkan paruhnya berkali-kali.

Belibis Kembang, Burung Bernilai Ekonomis Tinggi

            Belibis kembang (Dendrocygna arcuata) umumnya banyak dijumpai pada daerah rawa, sekitar danau pegunungan, hingga area tambak dekat pantai. Persebaran burung ini hampir seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sekilas, burung Belibis hampir menyerupai bebek karena mempunyai selaput kaki. Kemampuan berenangnya sangat cepat, tetapi akan sangat lamban ketika sedang berjalan.

Belibis terkenal sebagai hewan pengembara, artinya suka berpindah-pindah tempat. Setiap sarang Belibis Kembang dapat berisi 9 butir telur. Anaknya yang telah menetas sudah pandai berenang, kemudian akan meninggalkan sarang bersama induknya untuk mencari makan. Biasanya Belibis akan memangsa binatang kecil yang terdapat di air, tanaman air, hingga biji-bijian sebagai makanannya.

Burung Belibis juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Dagingnya dapat dikonsumsi karena terkenal akan kelezatannya. Hal inilah yang dapat menyebabkan, tingkat permintaannya semakin bertambah. Dampaknya, populasi burung belibis semakin merosot hingga terancam punah.

Mari jaga keberadaan burung-burung tersebut dan menjaga lahan basah sebagai tempat hidup bagi hidupan liar maupun pendukung kehidupan bagi kita sekarang dan generasi mendatang.

 

Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus)
Belibis kembang (Dendrocygna arcuata)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Ficus tumbuhan keystone spesies
Rapat Koordinasi Anggota Forum Pengelola KEE LBMS
Bajing dan Tupai : Habitat, Persebaran, dan Ciri-Cirinya

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020