Inisiasi Pengelolaan KEE Lahan Basah Mesangat Suwi

November 3, 2021

Bagikan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) adalah ekosistem di luar kawasan suaka alam atau kawasan pelestarian alam yang secara ekologi, sosial dan ekonomi penting untuk menunjang kelangsungan kehidupan bagi kesejahteraan masyarakat, serta mutu kehidupan manusia yang ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi untuk upaya konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, “Pengelolaan kawasan bernilai ekosistem penting dan daerah penyangga kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam dilaksanakan oleh pemerintah daerah.” Menindak lanjuti pengusulan LBMS untuk dikelola sebagai KEE dan atas arahan dari dirjen KSDAE, Bupati Kutai Timur menerbitkan SK Bupati Kutai Timur Nomor: 031/K.677/2016 tentang Pembentukan Forum Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial lahan Basah Mesangat Suwi (KEE LBMS).  Para pihak dalam forum juga telah melakukan verifikasi lapangan pada bulan November 2016 dan menghasilkan peta indikatif KEE LBMS dengan luas 13.570 ha. Rencana aksi kawasan ekosistem esensial lahan basah Mesangat-Suwi telah disusun oleh sebagian anggota forum pengelolaan KEE dan telah dibahas bersama KSDAE pada bulan Februari 2019. Namun, belum mencakup keterlibatan semua anggota forum.

Program “Penguatan Pengelolan Kolaboratif Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat Suwi sebagai Habibat Buaya Siam (Crocodylus Siamensis) dan Bekantan (Nasalis larvatus) di Kabupaten Kutai Timur” mulai dilaksanakan sejak April 2021 sampai dengan Maret 2024. Program yang dikoordinir oleh Konsorsium Yasiwa dan Yayasan Ulin, meliputi empat sasaran program, yaitu 

  1. Mengoptimalkan peran dan keterlibatan forum dalam mengelola KEE LBMS. Untuk mencapai sasaran ini, maka perlu dibangun pemahaman dan komitmen para pihak. Rapat forum akan dilaksanakan 2 kali setahun. Dari rapat forum ini diharapkan bisa menjadi wadah untuk berkomunikasi,  berkolaborasi dan integrasi perencanaan para pihak.  Hasil-hasil kajian yang dilakukan oleh para pakar mengenai lahan basah juga akan dipaparkan kepada anggota forum untuk membangun pemahaman bersama. Selain itu, selama berjalannya program anggota forum akan dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di lapangan, sehingga anggota forum tidak hanya memiliki pemahaman dari hasil pemaparan, tetapi juga dari keterlibatan dalam kegiatan di lapangan. Dengan demikian diharapkan nantinya para pihak dapat berkontribusi dan berkomitmen untuk pengelolaan KEE LBMS secara kolaboratif. 
  2. Pengumpulan informasi dasar yang lebih komprehensif aspek ekologi, sosial dan hidrologi oleh tenaga ahli sebagai dasar untuk menyusun rencana pengelolaan dan panduan dalam mengelola habitat yang merupakan sasaran ke 3 program ini. Sejauh ini belum dilakukan kajian yang cukup mendalam tentang kondisi sosial-ekonomi masyarakat, sehingga diperlukan data, kondisi sosial masyarakat, dan persepsi masyarakat terhadap lahan basah. Dengan mengetahui kondisi aktual dan minat masyarakat, diharapkan bisa dibuat perencanaan program-program pengembangan masyarakat yang sesuai. Selanjutnya, data dasar mengenai keragaman hayati, meliputi buaya dan bekantan. Untuk bisa mengelola, lahan basah menjadi habitat bekantan dan buaya dalam jangka panjang. Perlu mengetahui di mana buaya bersarang, serta bagaimana buaya dan bekantan berkembang biak. Artinya, dari pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai panduan untuk mengelola habitat. 
  3. Penyusunan Rencana Pengelolaan KEE Lahan Basah Mesangat Suwi yang lebih terintegrasi dari berbagai aspek diperlukan untuk memastikan perlindungan wilayah, pengawetan kehati, pemulihan ekosistem dan pemanfaatan berkelanjutan untuk jangka Panjang.  Panduan Pengelolaan Habitat Buaya Badas dan Panduan Pengelolaan Habitat Bekantan yang nantinya dapat digunakan bagi siapapun yang akan berkontribusi mengelola KEE LBMS.

Penguatan pengelolaan berbasis masyarakat dikembangkan melalui pelatihan dan pendampingan pemerintah desa-desa di sekitar lahan basah dalam perencanaan wilayah, dan pengelolaan sumber daya alam yang terintegrasi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) yang sedang dilaksankan oleh pemerintah. Melalui sasaran ini, dimaksudkan untuk meningkatkan manfaat lahan basah bagi kehidupan masyarakat dalam aspek ekonomi, sosial maupun ekologi yang berimbang. Dalam penyusunan tata ruang desa, terkait dengan NKT perusahaan sawit yang berada dalam wilayah desa, sesuai dengan ketentuan dalam program Kaltim Hijau, semestinya bisa dikelola bekerja sama dengan masyarakat. Ini akan memberikan nilai tambah bagi kinerja CSR dan pengelolaan lingkungan perusahaan. Dari keempat aspek itulah, menjadi sasaran program yang diharapakan setelah tiga tahun kedepan, baik desa-desa, satuan kerja pemerintah, dan anggota forum lainnya agar memiliki program yang terintegrasi untuk berkontribusi mengelola lahan basah dalam jangka panjang.(ml)

 

Verifikasi lapangan oleh para pihak. Foto: Yasiwa
Verifikasi lapangan oleh para pihak. Foto: Yasiwa

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Ficus tumbuhan keystone spesies
Rapat Koordinasi Anggota Forum Pengelola KEE LBMS
Bajing dan Tupai : Habitat, Persebaran, dan Ciri-Cirinya

MENGAPA KONSERVASI?

Banyak yang tidak menyadari begitu besar nilai dan manfaat keragaman hayati sebagai dasar dari kehidupan di bumi dan jasa ekologi yang disediakan secara cuma-cuma oleh habitat-habitat alami dalam bentang alam.
Sebagian besar keragaman hayati hidup di luar kawasan dilindungi, yang umumnya merupakan hutan dataran rendah yang memiliki keragaman hayati yang tinggi, lahan basah yang penting untuk tata air, ataupun lahan gambut yang memiliki kandungan karbon yang tinggi.
Ragam pemanfaatan bentang alam merupakan hasil perkembangan dari waktu ke waktu untuk pertanian, perkebunan, perikanan, agroforestry, pertambangan, pemukiman, yang perlu diimbangi dengan alokasi hutan lindung dan konservasi yang proporsional untuk menjaga ketahanan lingkungan
Oleh karena itu, para pihak yang memanfaatkan bentang alam bertanggung jawab untuk mempertahankan keragaman hayati dengan menyisihkan habitat-habitat alami sebagai aset yang penting untuk kehidupan masa depan. Kegiatan inti Yasiwa difokuskan pada pencapaian pengelolaan konservasi praktis dan efektif untuk keragaman hayati dan habitatnya pada beragam pemanfaatan bentang alam tersebut di atas.
Previous
Next

YASIWA, 2020