Lahan Basah Mesangat-Suwi

Lahan Basah Mesangat-Suwi

Berdasarkan Konvensi Ramsar, lahan basah adalah daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan; tetap atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir; tawar, payau atau asin: termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu surut. Ada tiga tipe lahan basah, yaitu lahan basah pesisir dan laut, lahan basah daratan, dan lahan basah buatan.

Lahan basah memiliki keanekaragaman hayati yang retalif tinggi dibanding ekosistem yang lainnya, karena merupakan kombinasi antara ekosistem perairan dan daratan. Dalam dokumen Startegi Nasional dan Rencan Aksi Pengelolaan Lahan Basah Indonesia, teridentifikasi 22 manfaat lahan basah yang penting, baik secara ekonomi, ekologi maupun sosial, diantaranya:

  1. Secara ekonomi, lahan basah menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat. Menyediakan bahan makanan maupun kebutuhan sumber daya alam lainnya. Di samping itu, lahan basah berfungsi sebagai sumber pengairan utama berbagai kegiatan pertanian, terutama sawah.
  2. Dari segi ekologi, lahan basah berperan dalam silklus hidrologi, siklus hara dan mengendalikan iklim mikro dan iklim global. Lahan basah juga memiliki fungsi sebagai tempat pengembangbiakan, pemeliharaan, pembesaran, dan tempat mencari makan bagi banyak jenis satwa.
  3. Secara sosial, lahan basah memiliki keunikan tradisi, dan warisan budaya local yang khas.  

Manfaat-manfaat tersebut penting untuk menunjang kelangsungan kehidupan bagi kesejahteraan masyarakat. Kendati demikian, lahan basah sering dianggap sebagai lahan marginal yang kurang bermanfaat. Padahal, tanpa campur tangan manusia lahan basah sudah melakukan fungsinya masing-masing. Pemanfaatan dan perlindungan lahan basah pun sudah tertulis dalam Peraturan Pemerintah, yaitu PP No. 27 Tahun 1991 Tentang Rawa dan PP No. 38 Tahun 2011 Tentang Sungai. Tetapi tetap saja banyak lahan basah dikonversi menjadi bebagai macam penggunaan lahan. Salah satunya, yaitu banyak dijadikan perkebunan sawit, sehingga lahan basah di sekitarnya ikut terdampak mengalami kerusakan akibat pengeringan.

Potensi Lahan Basah

Kalimantan Timur memiliki banyak lahan basah, di antaranya Lahan Basah Mesangat-Suwi (LBMS) yang berada di Kecamatan Muara Ancalong dan Long Mesangat, Kabupaten Kutai Timur.  Di Lahan basah Mesangat Suwi terdapat banyak jenis satwa dan tumbuhan. Sejauh ini, telah teridentifikasi 93 jenis burung, 56 jenis ikan, 13 jenis mamalia, dan 12 jenis reptil, serta 64 jenis tumbuhan. Jenis-jenis yang dilindungi, di antaranya buaya siam atau buaya badas hitam (Crocodylus siamensis),  bekantan (Nasalis larvatus), bangau storm (Ciconia stormi) dan banyak jenis burung air lainya. Lahan Basah Mesangat merupakan satu-satunya habitat alami bagi buaya siam yang masih alami di dunia, sehingga menjadi perhatian nasional maupun internasional untuk dikelola secara benar. 

Lahan Basah Mesangat-Suwi sejak lama menjadi sumber perikanan dan sumber mata pencaharian yang penting bagi masyarakat sekitarnya. Maka dari itu, perlu dijaga untuk ketahanan pangan, ketahan sosial dan ekonomi lokal. Melihat kekayaan alam yang dimiliki, lahan basah Mesangat-Suwi berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat perikanan air tawar, tujuan wisata alam, wisata pendidikan, dan penelitian. Sebagai bagian dari sub DAS Kedang Kepala yang bermuara ke Sungai Mahakam, LBMS berperan penting untuk mengendalikan banjir bagi area Mahakam hilir.

Dengan melihat potensi besar dan ancaman tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, bersama para pihak mengusulkan agar lahan basah Mesangat-Suwi dapat dikelola sebagai KEE (Kawasan Ekosistem Esensial) untuk mempertahankan fungsi lahan basah tersebut.  Sebagai tindak lanjutnya, Bupati Kutai Timur membentuk Forum Pengelolaan KEE LBMS pada tahun 2016.

Sebagai anggota forum, Yasiwa dan Yayasan Ulin membentuk konsorsium untuk memfasilitasi forum dalam mengajukan pendanaan kepada TFCAK (Tropical Forest Conservation Act Kalimantan). Pendanaan tersebut untuk melaksanakan program “Penguatan Pengelolan Kolaboratif Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Mesangat Suwi sebagai Habibat Buaya Siam (Crocodylus Siamensis) dan Bekantan (Nasalis larvatus) di Kabupaten Kutai Timur”, untuk periode April 2021- Maret 2024. Program tersebut telah disosialisasikan kepada Perangkat Desa di desa-desa Kecamatan Muara Ancalong dan Long Mesangat.

Pada Rapat Forum yang akan dilaksanakan tanggal 6 Juli 2021 mendatang, akan dilaksanakan penandatanganan Kesepakatan Parapihak untuk Pengelolaan KEE Lahan Basah Mesangat Suwi. Bupati mendukung rencana tersebut karena akan berkontribusi pada pencapai Misi Bupati yang ke 5, yaitu “Mewujudkan Sinergi Pengembangan Wilayah dan Integrasi Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan”.

 

Bekantan remaja yang dijumpai di Lahan Basah Suwi, mengindikasikan adanya perkembang biakan
Bekantan remaja yang dijumpai di Lahan Basah Suwi, mengindikasikan adanya perkembang biakan

 

Ikan biawan, haruan, patin, baung, dan lepok, merupakan jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis
Ikan biawan, haruan, patin, baung, dan lepok, merupakan jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis

 

Ikan biawan, haruan, patin, baung, dan lepok, merupakan jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis
Ikan biawan, haruan, patin, baung, dan lepok, merupakan jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis

 

 

Perkenalan staf konsorsium dan sosialisasi di desa Melan, Kecamatan Long Mesangat
Perkenalan staf konsorsium dan sosialisasi di desa Melan, Kecamatan Long Mesangat

 

Perkenalan staf konsorsium dan sosialisasi di desa Melan, Kecamatan Long Mesangat
Perkenalan staf konsorsium dan sosialisasi di desa Melan, Kecamatan Long Mesangat

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *